Gaza: Penjajahan, Pembantaian, dan Pengkhianatan Pemimpin Muslim

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dunia menyaksikan penderitaan Gaza yang bengis. Anak-anak, orang tua, dan warga sipil semua kelaparan. Ibu-ibu kehilangan harapan. Ironis, dunia masih diam! Blokade brutal dan pembiaran global secara perlahan-lahan menjadikan Gaza sebagai zona kematian. Di balik setiap tubuh kurus yang tergolek, di situ markas kejahatan dan penjajahan sistemis dibiarkan. Sampai saat ini Zionis Israel melakukan genosida dengan dalih pembelaan diri dari serangan pejuang Hamas pada 7 Oktober.

Apapun alasan mereka, hal ini terkesan dibuat-buat dan tidak masuk akal. Kalau memang mau membalas Hamas, kenapa rakyat sipil yang ditembaki? Mengapa gedung-gedung dan rumah-rumah berpenghuni yang dihancurkan dengan bom? Kenapa mereka malah memblokade bantuan pangan untuk rakyat Gaza?

Ironis, ada 1000 lebih truk pengangkut bantuan dimusnahkan dan rakyat Gaza ditembaki ketika mengambil bantuan pangan di tempat yang telah ditentukan Zionis Yahudi. Bagi yang berpikir waras, bisa melihat bahwa ini jelas-jelas merupakan penjajahan, pembantaian, dan genosida.

Sementara itu, para pemimpin Muslim memilih bungkam tanpa aksi nyata dengan kekuasaannya. Mereka takut dengan Amerika sang negara adidaya. Parahnya, mereka justru berhubungan mesra dengan yang jelas-jelas negeri kafir harbi fi’lan, di mana tengah memerangi kaum Muslimin dan saat ini pendukung utama Zionis Israel yang sedang menggenosida rakyat Gaza.

Kemudian, tragedi ini justru memperkuat ukhuwah dan kepedulian kaum Muslimin di seluruh dunia yang patut diacungi jempol. Setiap hari berbagai bantuan mengalir untuk korban dan penduduk Gaza. Berton-ton makanan dan obat-obatan terus dikirimkan. Tidak hanya itu, berbagai aksi dan penggalangan dana untuk Palestina terus digencarkan. Berbagai forum dan solidaritas dan lembaga sosial guna membantu rakyat Palestina pun didirikan, bahkan mereka yang bukan Muslim juga ikut menyuarakan untuk kemerdekaan Palestina.

Namun, faktanya hingga kini upaya di atas masih belum menyentuh substansi masalah, yaitu penjajahan Israel atas Palestina. Anehnya, para awak media terkesan mereduksi istilah penjajahan dengan konflik. Seolah-olah antara Palestina dan Israel seimbang dalam kondisi konflik memperebutkan sesuatu. Kenyataannya, mereka tidak seimbang. Israel justru mencaplok wilayah Palestina dan melakukan aneksasi hingga membunuh warga tak berdosa. Maka, sangat jelas bahwa substansi masalah tragedi Palestina adalah penjajahan yang dilakukan Israel sehingga solusinya pun harus relevan.

Penjajahan tidak mungkin bisa dihentikan dengan diplomasi dan resolusi. Penjajahan adalah bentuk penguasaan dan perampasan wilayah sebuah negeri yang dilakukan dengan kekuatan bersenjata. Ini tidak bisa dihentikan dengan dialog. Senjata hanya bisa dilawan dengan senjata, militer hanya bisa dihentikan oleh militer yang lebih kuat tentunya.

Jika dunia tetap belum memahami substansi masalah ini, harus berapa banyak lagi korban jiwa yang gugur? Apa sampai habis penduduk Palestina? Lalu kapan pemimpin-pemimpin Muslim mau mengirimkan tentaranya?

Rasulullah saw. pernah bersabda, “Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim.“ (HR. at-Tirmidzi no. 1395, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah, dinilai hasan oleh al-Albani)

Hanya dengan Jihad

Puluhan tahun pembantaian rakyat Palestina terus berlangsung hingga kini. Beratus juta kaum Muslim di seluruh dunia mendoakan saudara kita di Gaza. Berbagai bantuan terus dikirimkan ke sana. Namun, pada faktanya banyak yang tidak bisa masuk ke Gaza karena diblokade dan dihancurkan oleh Zionis Israel.

Permasalahan di sana benar-benar sedang mendesak dan membutuhkan pertolongan segera. Lantas, apa yang layak diberikan pada mereka pada waktu dekat? Jawabnya, berikan mereka tentara terbaik. Berikan rakyat Palestina pasukan kaum Muslimin yang akan membantu mereka menghancurkan para pembantai keji.

Lalu, siapa yang bisa mengirimkan tentara? Tentu saja pemerintah. Ini masuk ranah jihad. Jihad itu bukan berbicara nyali saja, tetapi banyak ketentuan syarat dan rukun yang sangat sulit dipenuhi bagi rakyat sipil saja.

Permasalahannya saat ini adalah apakah pemimpin negeri yang mayoritas penduduknya Muslim punya kemauan untuk mengirimkan pasukan ke Palestina? Realitas menunjukkan dengan jelas mayoritas mereka hanya mengecam dan mengirim bantuan logistik.

Maka, ini menjadi tugas seluruh umat Islam untuk menyerukan dan menyadarkan para penguasa Muslim akan tanggung jawab mereka sebagai penguasa agar mau mengirimkan bantuan militer ke Gaza. Tidak hanya menyerahkan urusan umat Islam pada sidang-sidang PBB yang hampa. Jangan lupa PBB yang menyetujui berdirinya negara Israel laknatullah pada tanggal 29 November 1947!

Jika kondisi para penguasa Muslim tetap tidak mau membantu umat Islam Palestina, ini menunjukkan sistem pemerintahan dan politik yang digunakan telah memasung jiwa ukhuwah mereka. Nasionalisme telah membelenggunya.

Sudah waktunya umat Islam memiliki pemimpin Muslim yang bertanggung jawab, sebagaimana sikap tegas Rasulullah saw. terhadap Yahudi Bani Quraizhah, Bani Qainuqa’, dan Bani Nadhir. Begitu juga sikap Khalifah Umar bin Khaththab dan Shalahudin Al-Ayyubi yang membebaskan Palestina. Inilah cermin pemimpin sejati dalam Islam dalam menyikapi dan membela saudaranya yang teraniaya. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Rodlifatul Jannah

Aktivis Dakwah

Views: 21

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA