Tinta Media – Belakangan, begitu banyak dikabarkan kasus keluarga yang mengakhiri hidupnya karena beragam impitan ekonomi. Sebut saja EN, seorang ibu di Bandung yang tega mengakhiri hidup kedua anaknya (9 tahun dan 11 bulan). Surat wasiat dibuat untuk “mengumumkan” sekaligus permintaan maaf mendalam kepada pihak keluarga atas keputusannya yang di luar logika. Berbagai rasa kecewa diungkapkan terutama pada suami yang terus berbohong dan terlilit utang karena judi online. Kasus-kasus serupa pun bermunculan. Salah satunya terjadi di Pangandaran. Seorang suami tega mengakhiri hidup istri dan anaknya yang masih berusia 10 bulan. Sang suami pun memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. (inews.id, 11/09/2025)
Betul-betul di luar sifat kemanusiaan. Manusia kian liar dan beringas memutuskan solusi. Kematian lebih dipilih ketimbang menghadapi masalah.
Refleksi Abainya Pengurusan
Kasus pembunuhan keluarga oleh kerabat sendiri yang dilanjutkan dengan kasus bunuh diri semakin banyak ditemukan. Penyebabnya kompleks dan beragam. Penyebabnya pun bukan sebab tunggal melainkan kompleks dan berupa efek domino dari segala hal yang dialami. Masalah ekonomi, lilitan utang, pinjaman online hingga kasus judi online paling banyak ditemukan sebagai pemantik kasus bunuh diri dan pembunuhan keluarga.
Pusat informasi Kriminal Nasional Polri, menyebutkan masalah ekonomi menjadi satu pemicu hebat yang menyebabkan seseorang nekat mengakhiri hidupnya sekaligus anggota keluarganya. Sepanjang tahun 2024 ditemukan 31,9 persen kasus serupa.
Menilik fenomena tersebut, Bhima Yudhistira selaku Direktur CELIOS (Center of Economic and Law Studies) mengungkapkan maraknya kasus bunuh diri karena tekanan ekonomi merefleksikan realitas yang ada tidak mampu menjelma layaknya klaim keadaan ekonomi yang digemborkan pemerintah saat ini. (bbcnews.com, 11/09/2025)
Keadaan ekonomi masyarakat di lapak bawah tidak mampu dijangkau tangan-tangan kebijakan negara. Negara hanya memplotkan 2,4 persen dana perlindungan sosial pada periode 2025-2026. Di sisi lain, plot anggaran pertahanan menyentuh angka 36,7 persen. Dari satu titik ini, tampaklah negara tidak mampu memosisikan pelayanan kebutuhan rakyat sebagai prioritas utama. Walhasil, banyak perempuan atau istri terpaksa mengambil peran ganda demi menanggung keterbatasan finansial.
Perempuan dipaksa harus tangguh menahan dan bekerja untuk memenuhi setiap kebutuhan harian keluarga. Ditambah menutupi utang-utang suami akibat pinjol ataupun judol. Sosiolog Universitas Indonesia, Ida Ruwaida, menuturkan masalah ekonomi keluarga menjadi sumber ketegangan yang terus memanas setiap hari. Sebagian besar kasus menjadikan istri dan anak sebagai korban utama. Bansos yang dibagikan pemerintah pun hanya sebatas ala kadarnya yang tidak mampu menopang kebutuhan hidup harian.
Fenomena ini menjadi bukti betapa lemahnya negara dalam mengurusi kepentingan rakyat. Terlebih rakyat kelas bawah yang selalu menjadi korban kebijakan ekonomi negara.
Sistem yang hari ini diterapkan telah terbukti gagal mengurusi urusan rakyat. Negara sekuler kapitalistik telah berhasil menghancurkan fungsi keluarga, bahkan telah mematikan fungsi orang tua yang mestinya menjaga dan melindungi. Semua ini bersumber dari buruknya pengurusan negara terhadap kebutuhan rakyat.
Para kepala keluarga sulit mengakses lapangan pekerjaan layak. Di tengah kebutuhan keluarga yang terus merangkak naik, para pencari nafkah pun harus terus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan. Namun, apalah daya, semua jalan sulit ditempuh. Hingga akhirnya terperosok dalam jebakan judi online dan pinjaman online. Bukannya solusi yang didapat, justru masalah semakin membesar hingga sangat sulit diselesaikan. Akhirnya, kematian dipilih sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan. Keadaan pun semakin parah saat nilai keimanan jauh dari aturan kehidupan.
Sistem rusak ini telah memandulkan fungsi negara sebagai pelindung dan penjaga kesejahteraan rakyatnya. Sumber daya yang mestinya dikelola demi kepentingan umum justru dijadikan komoditas bisnis. Privatisasi dan komersialisasi sumber daya alam menjadi satu konsep yang merusak pengaturan. Akhirnya, sistem ekonomi yang ada makin kehilangan daya.
Tidak ada pilihan lain. Sistem rusak ini harus dicampakkan, kemudian diganti dengan tatanan yang mampu mewujudkan kesejahteraan, yakni sistem yang memadukan aturan agama dengan pengelolaan kehidupan.
Penjagaan Islam
Islam hadir sebagai jawaban atas berbagai persoalan, menjadi satu-satunya sistem yang membawa kesejahteraan dan amanah dalam mengurus umat. Setiap pemimpin dipahami memiliki tanggung jawab besar terhadap nyawa dan kehidupan rakyatnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala negara) adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya…“ (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam bingkai Khilafah, sistem Islam menyajikan solusi tata kelola yang benar. Pertama, negara menjamin kebutuhan dasar setiap individu agar terpenuhi secara layak sesuai standar hukum syarak. Negara memastikan ketersediaan lapangan kerja bagi kepala keluarga supaya mampu menafkahi keluarganya. Jika ada yang tidak mampu secara ekonomi, negara menanggung kebutuhan pokoknya. Pendidikan dan layanan kesehatan diberikan gratis dengan mutu terbaik sehingga rakyat terlindungi hak pendidikannya dan kesehatannya.
Kedua, negara mengatur kepemilikan individu, umum, dan negara dengan prinsip yang adil, tanpa penindasan. Sumber daya alam, termasuk energi, dikelola sesuai syariat demi kemaslahatan rakyat. Fasilitas publik diberikan gratis. Apabila ada biaya, hanya sebatas pengganti biaya produksi.
Ketiga, distribusi harta diatur secara transparan dan amanah. Dana zakat, misalnya, wajib disalurkan kepada yang berhak, yakni delapan asnaf yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an.
Keempat, pendidikan akan diterapkan dengan mengacu pada akidah Islam. Setiap individu diedukasi oleh negara secara berkesinambungan dengan menanamkan iman dan takwa. Sehingga, setiap masalah yang hadir selalu disandingkan dengan hukum syarak dan menyolusi dengan bijak. Negara pun mengedukasi terkait keharaman melukai diri sendiri atau bunuh diri yang jelas-jelas menzalimi diri.
Paradigma Islam merupakan konsep yang paling adil sekaligus menyejahterakan. Hanya dengan penerapan sistem Islam, kemiskinan ekstrem dapat teratasi, tanpa ada satu pun individu yang terabaikan. Sejarah peradaban Islam membuktikan tatanan sistem Islam yang menjaga selama 14 abad lamanya. Berjaya dan gemilang dalam tatanan bijaksana. Rahmat tercurah untuk seluruh umat. Wallahualam bissawab.
Oleh: Yuke Octavianty,
Forum Literasi Muslimah Bogor
Views: 34
















