Tinta Media – Viral di media sosial Threads pada penghujung Oktober 2025 lalu, sebuah unggahan menyebutkan bahwa generasi muda saat ini lebih takut jatuh miskin dibanding takut tidak menikah. Unggahan tersebut ditayangkan ulang lebih dari 207.000 kali dan disukai lebih dari 12.500 pengguna. Dengan kata lain, banyak anak muda yang mengamini pendapat tersebut. Kehidupan yang semakin dinamis membentuk pola pikir baru dalam memandang pernikahan, apalagi populasi Indonesia kini didominasi Gen Z sebanyak 74,93 juta jiwa (Kompas.com, 22/11/2025).
Indonesia sudah 80 tahun merdeka, pembangunan dilakukan di berbagai sektor, tetapi angka kemiskinan masih tinggi. Menurut Bank Dunia, jumlah penduduk miskin pada 2024 mencapai 194,4 juta jiwa atau 68,2 persen populasi. Kemiskinan ini turut berkontribusi pada menurunnya angka pernikahan. Selain itu, meningkatnya pemberdayaan perempuan, serta ketidaksiapan fisik, mental, dan finansial turut memperparah kondisi ini, sebagaimana disampaikan Dr. Ike Herdiana, M.Psi., Psikolog, pada 2024.
Ada pula kisah pilu di balik turunnya minat menikah. Mimpi-mimpi indah tentang rumah tangga pelan-pelan memudar. Banyak Gen Z tumbuh dalam keluarga yang retak atau broken home. Trauma masa kecil, ketakutan akan kegagalan, hingga gamophobia (takut menikah) menghantui mereka. Luka-luka batin itu menimbulkan kecemasan bahwa mereka akan mengulang kegagalan serupa.
Dulu, pernikahan dianggap tonggak kedewasaan. Anak muda yang memasuki usia 30-an namun belum menikah sering dicap “terlambat”, bahkan perempuan sering mendapat stigma “perawan tua”. Namun, kini paradigma itu bergeser. Gen Z yang kerap dicap hedonis, impulsif, dan konsumtif, lebih mengutamakan kestabilan ekonomi daripada segera menikah.
Tekanan makin berat akibat melonjaknya harga kebutuhan pokok, biaya hunian yang tinggi, serta ketatnya persaingan kerja. Narasi “marriage is scary” pun semakin kuat. Pernikahan dianggap sebagai beban tambahan, bukan ruang untuk membangun kebaikan atau melanjutkan keturunan. Kekhawatiran ini beralasan: kondisi ekonomi tak stabil, pendapatan stagnan, sementara kebutuhan terus meningkat.
Alih-alih memberi solusi nyata, negara justru tampak menjadi regulator yang melepaskan tanggung jawab kesejahteraan rakyat. Kebijakan ketenagakerjaan lebih berpihak pada pengusaha. Banyak urusan diserahkan ke pihak swasta, sementara ekonomi makin berbelit oleh praktik ribawi. Lapangan kerja sedikit, kompetisi tinggi, hingga permainan “orang dalam” kerap terjadi.
Pertumbuhan ekonomi yang lamban membuat generasi muda menghadapi gelombang PHK, sulitnya mencari kerja, hingga banyak usaha gulung tikar. Kondisi ini membuat mereka lebih fokus bertahan secara finansial daripada memikirkan pernikahan. Pria takut melamar, wanita enggan menerima pinangan karena pendapatan calon suami tak memadai. Kondisi ini juga meningkatkan risiko merebaknya pergaulan bebas, termasuk fenomena kumpul kebo.
Kerumitan ini bersumber dari penerapan sistem kapitalisme yang cacat dan rentan krisis. Negara tak mampu memberikan solusi hakiki. Kebijakan sering mengikuti kepentingan oligarki, sementara kekayaan SDA hanya berputar pada segelintir orang. Rakyat lebih sering menerima dampak kerusakan daripada manfaatnya.
Berbeda halnya dengan pandangan Islam. Dalam sistem Islam, negara menjamin kesejahteraan rakyat karena penguasa adalah pengurus umat. Rasulullah saw. bersabda, “Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus.” (HR Bukhari dan Muslim). Negara memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat: pangan, sandang, dan papan.
Sistem ekonomi Islam fokus pada sektor riil dan pengelolaan SDA secara mandiri oleh negara, bukan diserahkan kepada swasta. Industrialisasi dilakukan negara untuk menyediakan lapangan kerja tanpa KKN. Lahan pertanian dikelola dengan baik sehingga tidak ada lahan terbengkalai.
Pengelolaan kekayaan alam yang termasuk milik umum—seperti pertambangan—dialokasikan sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat. Dari hasil pengelolaan ini, negara menyediakan layanan kesehatan dan pendidikan gratis serta berkualitas. Transportasi dan energi pun terjangkau, bahkan bisa gratis, sehingga rakyat tidak terbebani biaya yang tinggi.
Sistem pendidikan yang berlandaskan akidah Islam melahirkan generasi berilmu, bertakwa, dan tahan terhadap arus sekularisme. Mereka inilah yang kelak menjadi pilar peradaban gemilang.
Pemuda yang sudah siap menikah mendapat dukungan negara, seperti pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika baitulmal yang surplus digunakan untuk membantu mahar para pemuda yang ingin menikah namun terkendala biaya.
Demikianlah Islam mengatur segala aspek kehidupan. Generasi muda adalah cikal bakal pemimpin peradaban. Hanya Islam yang mampu membangun kemuliaan itu dan membawa manusia menuju kejayaan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Umi Kulsum,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 51
















