Tinta Media – Seseorang sering lupa ketika diberi nikmat berupa kesehatan, harta yang melimpah, dan jabatan yang tinggi. Padahal, belum tentu esok kita masih hidup di dunia. Ketika ajal tiba, semua yang kita cintai dan banggakan tidak lagi berarti. Kita harus meninggalkan seluruh kenikmatan dunia, kecuali amal saleh yang akan menjadi teman sejati setelah kematian.
Harta kekayaan yang kita kumpulkan dan hitung-hitung tidak akan membuat kita hidup kekal di dunia. Jabatan yang kita kejar dan pertahankan mati-matian juga tidak dapat menunda kematian ketika waktunya tiba. Bahkan, semua itu dapat menjadi penyebab celaka apabila harta dan jabatan tidak digunakan untuk kebaikan di jalan Allah.
Kebanyakan orang merasa dimuliakan ketika diberi harta yang melimpah dan jabatan yang tinggi. Sebaliknya, ketika rezekinya dibatasi, ia berkata, “Tuhanku telah menghinaku.” Padahal, semua itu merupakan ujian kehidupan yang harus dihadapi. Hidup ini adalah ujian, bukan tujuan. Jika lulus dalam ujian, kita akan memperoleh kehidupan kekal yang penuh kenikmatan di surga-Nya. Sebaliknya, siapa pun yang gagal akan memperoleh seburuk-buruk tempat kembali, yaitu neraka jahanam.
Jangan merasa paling mulia sehingga merendahkan orang yang dianggap miskin. Ujian bagi orang yang diberi kekayaan adalah munculnya sifat sombong yang dapat menggelincirkan seseorang dari jalan yang benar. Ia merasa bahwa semua yang dimilikinya berasal dari usahanya sendiri, padahal seluruh rezeki berasal dari Allah dan dapat diambil kapan saja. Ada pula yang enggan berbagi dan kikir kepada orang yang membutuhkan, padahal Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menafkahkan sebagian rezeki kepada sesama sebagai bentuk ketaatan kepada-Nya.
Tidak perlu merasa hina hanya karena hidup dalam keterbatasan. Kemuliaan seseorang tidak diukur dari banyaknya harta atau tingginya jabatan, melainkan dari ketakwaannya. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13, bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Karena itu, teruslah berbuat kebaikan sesuai ajaran Islam, apa pun ujian kehidupan yang sedang dijalani.
Dalam kesibukan apa pun, jangan tinggalkan salat. Salat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-‘Ankabut ayat 45, “Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Apa pun ujian yang kita hadapi, tetaplah mengingat Sang Pencipta manusia, kehidupan, dan alam semesta agar hati senantiasa diberi petunjuk menuju jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang diberi nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai-Nya dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Ingatlah, hidup ini hanya sementara dan tidak seorang pun mengetahui apakah esok masih diberi kesempatan untuk hidup di dunia.
Saat ajal datang menjemput, tidak seorang pun dapat menolong kita. Keluarga yang kita cintai pun tidak akan menemani ketika jasad telah dikuburkan dan ditimbun di dalam tanah. Seiring berjalannya waktu, kisah hidup kita perlahan akan dilupakan.
Masih pantaskah kita bersikap sombong atau mengejar kesenangan dunia mati-matian hingga melupakan tujuan hidup yang sebenarnya? Tentu tidak. Jika kita mau merenungkan setiap peringatan yang Allah hadirkan dalam kehidupan, semoga kita senantiasa istiqamah di jalan yang benar dan diridai Allah hingga ajal menjemput untuk kembali kepada-Nya.
Oleh: Mochamad Efendi
(Sahabat Tinta Media, Sidoarjo)
![]()
Views: 7
















