Tinta Media – Kita melakukan dakwah merasa bahagia atau sekadar ngerasa yaudah gitu aja? Pertanyaan ini menjadi sebuah refleksi untuk diri kita. Karena di akhir zaman seperti saat ini Allah masih izinkan kita mengikuti amal Rasulullah–which is dakwah itu adalah sebuah anugerah yang begitu mahal tak terkira.
Mungkin kita pernah merasa bahwa dakwah kita tidak berdampak apa-apa. Kezaliman dan penjajahan masih merajalela di seluruh penjuru dunia, baik secara fisik maupun pemikiran. Kaum muslimin yang dahulu pernah berada di puncak kejayaan kini berada di jurang kenestapaan.
Tapi, di tengah segala kondisi itu kita perlu untuk yakin sepenuhnya kepada Allah. Karena Allah adalah sandaran paling baik. Yakinlah bahwa kemenangan itu pasti akan tiba. Keyakinan kita ini harus seratus persen, sebab kita sedang memperjuangkan sesuatu yang membutuhkan keyakinan yang dalam.
Di tengah segala kondisi yang ada pasti ada hikmah di baliknya. Maybe Allah ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa di tengah segala kerusakan yang terjadi masih ada yang tetap memperjuangkan kembalinya Islam secara kaffah (sempurna).
Allah ingin menunjukkan bahwa dakwah itu tidak bisa dibungkam. Bahwa dakwah akan menemukan jalannya. Dan bahwa dakwah punya kekuatannya tersendiri. Kita tidak pernah tahu kapan kemenangan itu tiba–tapi kita harus meyakininya karena sekali lagi, itu adalah janji Allah, dan janji Allah tidak mungkin salah.
Dalam dakwah buatlah target setinggi mungkin karena–memasang target itu nggak bayar alias gratis. Kemudian, semakin tinggi targetnya maka Allah akan semakin suka. Dan Allah bilang cari akhirat tapi jangan lupakan dunia. Sebab di dunia ini adalah wasilah kita mempersiapkan bekal untuk akhirat kelak.
Mengapa kita harus dakwah? Pertama, karena dakwah adalah salah satu penolong kita di akhirat. Kemudian yang kedua adalah amalan yang pahalanya sangat besar dan berpeluang menjadi pahala jariyah. Lalu yang ketiga, dakwah adalah upaya kita dalam rangka menyambut janjinya Allah Subhannahu wata’ala.
Pada awalnya mungkin kita menganggap bahwa dakwah adalah sekadar mengajak orang pada cahaya kebenaran. Namun seiring waktu berjalan kita memahami bahwa dakwah adalah dimensi spiritual paling tinggi. Persembahan terbaik dari kita sebagai seorang hamba kepada Allah. Maka, berikan pada dakwah segala yang kita punya: diri, ilmu, waktu, serta kemampuan.
Jika dakwah kita hanya sekadar kewajiban saja sayang rasanya. Sebab dakwah adalah keberuntungan yang tidak semua orang punya. Tapi tak mengapa, sebagai awalan kita berdakwah karena wajib. Kemudian meningkat menjadi kebutuhan.
Dan yang terakhir agar kita menjadi pengemban dakwah yang lebih next level atau level up berusahalah agar kita bisa berdakwah karena cinta. Sebab dengan cinta kita tidak akan lagi menganggap bahwa dakwah adalah beban melainkan sesuatu yang kita dambakan.
Beberapa usaha agar Allah memberikan kepada kita rasa cinta terhadap dakwah adalah dengan berusaha untuk ikhlas, bertaubat, bersabar, dan juga meningkatkan kualitas dakwah. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita rasa cinta kepada aktivitas dakwah dan Allah istikamahkan kita berada di dalamnya.
Wallahu a’lam bish showwab.
Oleh: Naila Ahmad Farah Adiba
Tim Redaksi Tinta Media
![]()
Views: 2
















