Tinta Media – Maulid Nabi Muhammad ﷺ kembali menjadi momentum bagi umat Islam untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Beragam kegiatan digelar, mulai dari pembacaan selawat, tablig akbar, hingga berbagai kegiatan bersama. Namun, jangan sampai kecintaan kepada Rasulullah ﷺ berhenti pada lantunan selawat dan kemeriahan peringatan. Sebab, mencintai Nabi ﷺ semestinya melahirkan keinginan untuk mengikuti beliau.
Kementerian Agama mengajak umat Islam memperkuat kecintaan kepada Rasulullah ﷺ melalui gerakan selawat sekaligus meneladani akhlak beliau dalam kehidupan bermasyarakat (Sindonews, 23/8/2026). Hal senada disampaikan RRI (22/8/2026). Maulid disebut sebagai momentum untuk mengenal perjalanan Rasulullah ﷺ dan menerapkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut tentu penting. Namun, keteladanan kepada Nabi ﷺ sejatinya tidak hanya berkaitan dengan kejujuran, kesabaran, kasih sayang, atau kesantunan. Ada sisi lain dari kehidupan Rasulullah ﷺ yang juga penting dipelajari, yaitu bagaimana beliau membangun perubahan masyarakat berdasarkan wahyu Allah Swt.
Cinta yang Melahirkan Itibak
Allah Swt. berfirman: “Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.'” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak berhenti pada pengakuan. Ada konsekuensi berupa itibak, yakni mengikuti petunjuk dan ajaran beliau.
Karena itu, momentum Maulid semestinya menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mengikuti Rasulullah ﷺ? Sudahkah ajaran beliau menjadi pedoman dalam keluarga, kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, hingga cara kita menyelesaikan persoalan masyarakat?
Jangan sampai Maulid hanya melahirkan rasa haru sesaat. Setelah peringatan selesai, kehidupan kembali berjalan tanpa menjadikan ajaran Rasulullah ﷺ sebagai pedoman.
Dari Masyarakat Jahiliah Menuju Masyarakat Beriman
Rasulullah ﷺ diutus ketika masyarakat Arab berada dalam berbagai persoalan akidah dan sosial. Penghambaan kepada Allah bercampur dengan praktik kemusyrikan, ketidakadilan, fanatisme kesukuan, serta berbagai kerusakan moral.
Dakwah Rasulullah ﷺ kemudian mengubah cara pandang manusia. Beliau menanamkan tauhid, membentuk kepribadian kaum Muslim dengan wahyu, membangun persaudaraan, memperbaiki hubungan sosial, dan menghadirkan tatanan kehidupan yang berlandaskan ajaran Islam.
Artinya, perjuangan Rasulullah ﷺ bukan sekadar memperbaiki perilaku individu. Beliau membangun manusia dan masyarakat melalui proses pendidikan, pembinaan, dakwah, serta keteladanan. Inilah yang perlu direnungkan dalam momentum Maulid.
Hari ini, umat Islam juga menghadapi berbagai tantangan. Materialisme, konsumerisme, individualisme, dan derasnya arus informasi dapat menjadikan kesenangan dunia sebagai orientasi hidup. Ukuran keberhasilan pun sering dipersempit menjadi kekayaan, jabatan, popularitas, dan pencapaian duniawi.
Di tengah kondisi tersebut, umat membutuhkan kembali kesadaran bahwa kehidupan manusia memiliki tujuan yang lebih tinggi, yakni beribadah dan tunduk kepada Allah Swt.
Meneladani Langkah Nabi ﷺ
Sirah Nabi ﷺ memperlihatkan bahwa perubahan tidak terjadi secara instan. Rasulullah ﷺ membina para sahabat dengan akidah yang kokoh. Mereka dididik untuk memahami Islam, meyakini kebenarannya, dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupan.
Dari proses pembinaan tersebut lahir generasi yang memiliki kepribadian kuat, rela berkorban, jujur, amanah, serta memiliki kepedulian terhadap sesama. Karena itu, jika Maulid hendak dijadikan momentum perubahan, salah satu hal yang harus dihidupkan adalah semangat tatsqif, yakni pembinaan dan pendidikan umat dengan ilmu dan pemahaman Islam.
Setelah itu, nilai-nilai Islam perlu diwujudkan dalam kehidupan sosial melalui dakwah yang bijaksana. Umat tidak cukup hanya memahami kebaikan secara pribadi, tetapi juga saling mengingatkan dalam kebenaran, kesabaran, kepedulian, dan amar makruf nahi mungkar. Perubahan yang kokoh lahir dari perubahan pemikiran dan perilaku manusia, bukan sekadar pergantian slogan atau tokoh.
Maulid, Momentum Kembali kepada Risalah
Maulid semestinya menjadi momentum untuk memperbarui kecintaan kepada Rasulullah ﷺ sekaligus memperdalam pemahaman terhadap risalah yang beliau bawa.
Kita tidak cukup mengenal Nabi ﷺ sebagai sosok yang mulia akhlaknya. Kita juga perlu mengenal bagaimana beliau mendidik umat, membangun persaudaraan, menghadapi berbagai tekanan, berdakwah dengan kesabaran, serta menghadirkan Islam sebagai petunjuk kehidupan.
Allah Swt. berfirman: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmat itu akan terasa ketika ajaran Rasulullah ﷺ benar-benar dipahami dan diwujudkan dalam kehidupan: menghadirkan keadilan, menjaga kehormatan manusia, menolong yang lemah, memperkuat persaudaraan, serta menjadikan ketakwaan sebagai orientasi hidup.
Maka, setelah selawat dilantunkan dan kisah Rasulullah ﷺ dibacakan, jangan biarkan kecintaan itu berhenti di majelis Maulid. Jadikan Maulid sebagai titik balik untuk lebih mengenal risalah beliau, mengikuti sunahnya, meneladani perjuangannya, dan menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan.
Sebab, cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan hanya tentang seberapa sering kita menyebut namanya, tetapi juga seberapa sungguh kita berusaha mengikuti petunjuk yang beliau tinggalkan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Anggun Istiqomah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 4












