Media Sosial Menginspirasi Kekerasan, Bagaimana Islam Memberi Solusi?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menyatakan bahwa pemboman di SMAN 72 Jakarta merupakan murni tindakan kriminal dan tidak terkait dengan jaringan terorisme.

Meski begitu, aksi ini tetap harus menjadi perhatian serius agar tidak terulang di masa depan. Noor Huda Ismail dari Setara Institute menyebut bahwa tindakan pelaku bukanlah kriminal biasa. Kekerasan yang ia lakukan mengarah pada ideologi ekstrem, meskipun tidak terhubung dengan jaringan teror. Pelaku disebut terinspirasi oleh enam tokoh ekstremis dunia dan terbiasa mengakses dark web yang sarat konten kekerasan. (Metrotvnews, 13/11/2025)

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah memblokir sejumlah situs, akun, dan konten yang dikonsumsi pelaku karena memuat adegan kekerasan serta perakitan bom. Namun, pertanyaannya: apakah langkah itu menjamin anak-anak lain tidak dapat mengakses konten kekerasan serupa?

Media Sosial Sekuler Menginspirasi Kekerasan

Pernyataan Noor Huda Ismail menunjukkan bahwa media sosial sekuler telah membentuk generasi yang mudah melampiaskan amarah. Ideologi ekstrem yang dimaksud merupakan ideologi sekuler yang membuka ruang kebebasan tanpa batas—termasuk melakukan kekerasan terhadap orang lain. Melampiaskan kemarahan dilakukan tanpa mempertimbangkan halal dan haram.

Lingkungan sekolah dan rumah turut mendorong pelaku semakin tenggelam dalam dunia maya. Meski masih dalam penyelidikan, perundungan diduga kuat menjadi pemicu pelaku nekat melakukan aksinya. _Bullying_ merupakan salah satu buah pahit dari sistem pendidikan sekuler.

Kondisi keluarga yang tidak harmonis (broken home) membuat pelaku kehilangan pendampingan di rumah. Dunia maya menjadi satu-satunya pelarian. Ia akhirnya kecanduan konten kekerasan hingga terinspirasi melakukannya di dunia nyata.

Pemerintah melalui Komdigi cenderung hanya bertindak ketika dampak media sosial sudah membesar. Padahal, upaya pencegahan berupa kontrol dan pemblokiran konten berbahaya seharusnya menjadi langkah awal yang mudah dilakukan.

Seperti lingkaran setan, kehidupan sekuler tak pernah memberi jalan keluar tuntas. Kekerasan atau kriminalitas akibat media sosial akan terus terjadi selama akar masalahnya tak diatasi.

Islam Punya Solusi

Media sosial adalah produk teknologi — sebuah alat untuk memudahkan hidup manusia. Dalam Islam, teknologi digunakan untuk kemuliaan hidup manusia dan penyebaran dakwah ke seluruh dunia. Generasi muda memanfaatkannya untuk berkomunikasi, menuntut ilmu, dan berbagi manfaat, bukan untuk meniru kriminalitas.

Sistem pendidikan Islam membentuk manusia bertakwa. Para ahli yang membuat situs atau konten berkarya bukan demi viral dan materi, tetapi untuk memajukan kehidupan manusia sebagai bentuk tanggung jawab keilmuan—baik di dunia maupun di akhirat. Penggunanya pun mengakses media sosial karena kebutuhan, bukan karena ketagihan.

Keluarga dalam Islam dibangun dengan ketenteraman. Sistem ekonomi yang berkah menjamin kesejahteraan sehingga keluarga dapat mendampingi tumbuh kembang anak dengan baik. Kehidupan keluarga berorientasi pada rida Allah, bukan materi semata ala kapitalisme.

Semua ini harus berjalan dalam sistem yang menerapkan Islam secara kaffah—manifestasi dari iman dan amal saleh. Sebagaimana janji Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 97:

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.“ Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Khamsiyantil Fajriyah,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 24

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA