Islam, Solusi Tuntas Kekerasan Remaja

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Miris melihat generasi saat ini yang bertindak di luar nalar dan memilih kekerasan sebagai jalan pintas dalam menghadapi persoalan. Kasus di UIN Sultan Syarif Kasim Riau menunjukkan seorang mahasiswa RM (22) membacok mahasiswi FAP (23) akibat penolakan cinta saat KKN (kumparannews.com, 27/02/2026).

Ada banyak faktor penyebab kekerasan pada remaja terus terjadi. Pertama, sistem pendidikan sekuler tidak berlandaskan pada akidah Islam. Alhasil, sistem ini melahirkan generasi yang jauh dari keimanan dan ketaatan kepada Allah sehingga tidak mampu membedakan antara yang halal dan haram, mudah berputus asa, dan rapuh. Mereka ketika berhadapan dengan suatu persoalan akan mudah mengambil jalan pintas tanpa memikirkan akibatnya. Pendidikan sekuler membentuk generasi yang jauh dari kata mulia karena hanya berfokus pada nilai akademik dan keterampilan yang orientasinya pada materi semata.

Kedua, minimnya peran serta keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Padahal, peran keluarga sangatlah penting sebagai benteng, terutama seorang ibu yang menjadi madrasah utama bagi anaknya dan mengajarkan akidah sejak dini. Namun, dalam sistem sekuler, peran ibu seakan hilang karena dituntut untuk bekerja membantu perekonomian keluarga. Akhirnya, anak terbengkalai dalam lingkungan yang tidak terawasi. Belum lagi dampak dari media sosial yang begitu santer menyuguhkan konten-konten negatif berbau pornografi, LGBT, kekerasan, serta gaya hidup hedonis yang tentu semuanya memiliki pengaruh besar dalam membentuk pemikiran remaja.

Ketiga, sistem sekuler menjamin adanya kebebasan dalam perilaku. Dengan standar kebebasan ini, para remaja bertindak semaunya, membentuk pola pikir yang dangkal, serta mengikuti hawa nafsu tanpa pertimbangan terhadap dampak bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Saat ini masyarakat seakan menormalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya dalam pergaulan bebas seperti pacaran yang sudah menjadi hal biasa dan lumrah. Bahkan, ada banyak orang tua yang menyuruh dan menormalisasi anaknya untuk berpacaran. Di tengah masyarakat pun kasus perselingkuhan begitu merajalela, yang berawal dari normalisasi pergaulan bebas. Hal ini akan berdampak besar dalam mengubah perilaku karena pergaulan bebas sangat bertentangan dengan norma-norma agama dan banyak memicu terjadinya kasus kekerasan bahkan pembunuhan.

Keempat, peran negara dalam sistem kapitalisme sekuler bukan sebagai pengurus rakyat. Mereka abai dan dinilai tidak memprioritaskan pembinaan generasi. Padahal, generasi adalah tombak peradaban yang harus dibina, dilindungi, dan difasilitasi untuk menjadi generasi yang mulia, cerdas, kreatif, dan unggul. Namun ironisnya, negara dalam sistem ini hanya memandang generasi sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi semata. Maka, lahirlah generasi rusak yang hanya menjadi pencetak uang tanpa dibekali akidah yang kuat. Negara pun tidak mampu memberikan sanksi kepada para pelaku tindak kekerasan di kalangan remaja yang dapat memberikan efek jera sehingga kasus tidak terus berulang.

Dalam Islam, generasi adalah tombak peradaban. Islam sangat melindungi generasi dan membentuknya menjadi generasi yang mulia agar memiliki kesadaran untuk taat kepada Allah Swt., mampu membedakan halal dan haram, bertanggung jawab dalam segala hal, serta memiliki keimanan yang kuat, bukan hanya berfokus pada pencapaian akademik ataupun keterampilan semata.

Untuk membentuk generasi mulia, Islam memiliki mekanisme dalam berbagai aspek yang sesuai dengan hukum syara. Aspek pendidikan berbasis akidah Islam mampu melahirkan generasi yang kuat secara keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Tujuannya adalah membentuk kepribadian Islam, yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Peran keluarga sebagai benteng utama dan madrasah bagi pendidikan akidah sejak usia dini sangat diakomodasi oleh negara. Islam menjaga peran ibu sebagai madrasah pertama bagi anaknya karena dalam Islam seorang ibu tidak diwajibkan untuk bekerja. Dengan demikian, akan lahir kesadaran individu akan ketakwaan kepada Allah. Keluarga menjadi pelindung pertama dalam membentuk kepribadian remaja. Begitu pula peran masyarakat yang senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan dan menentang kemaksiatan sehingga tercipta suasana yang mendukung ketaatan.

Sistem Islam juga membatasi media sosial dan menghilangkan suguhan konten-konten negatif yang dapat merusak pemikiran serta nilai-nilai hidup. Hal ini akan menciptakan suasana yang mencegah perilaku menyimpang.

Islam juga mengatur aspek sosial dalam pergaulan. Islam melarang interaksi bebas antara laki-laki dan perempuan serta melarang adanya pacaran, apalagi perselingkuhan. Hal itu bertentangan dengan norma agama yang dapat mengantarkan pada kemaksiatan hingga berujung pada tindak kekerasan bahkan pembunuhan.

Yang tidak kalah penting adalah peran negara dalam Islam sebagai pengurus rakyat. Para penguasanya melindungi rakyat dan memprioritaskan pembinaan generasi serta menerapkan aturan dan sanksi sesuai hukum Islam. Penerapan hukum Islam memberikan efek jera agar kejadian tidak terulang serta menjaga generasi sebagai tombak peradaban, sekaligus menjaga keamanan dan keharmonisan dalam masyarakat. Semua itu hanya dapat terwujud dengan menerapkan sistem Islam secara kafah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Iske
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 24

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA