Dapur Boleh Kurang, tetapi Iman Jangan Goyang

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Hari-hari ini, isi dompet dan meja dapur para ibu rumah tangga sedang diuji habis-habisan. Angka-angka di pasar bergerak naik tanpa permisi. Harga beras, minyak goreng, cabai, hingga bumbu dapur melambung tinggi seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Ironisnya, di tengah badai kenaikan harga ini, pendapatan para suami justru stagnan, seret, atau bahkan berkurang drastis akibat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang belum mereda.

Bagi ibu rumah tangga, kondisi ini bukan sekadar angka statistik ekonomi di televisi. Ini adalah kenyataan pahit yang harus dihadapi setiap pagi: bagaimana caranya agar uang belanja yang kian menipis tetap bisa membuat dapur mengebul dan kebutuhan anak-anak terpenuhi. Tekanan ekonomi ini dirasakan merata, mulai dari ibu-ibu muda yang pusing memikirkan biaya popok dan susu hingga para ibu sepuh yang mencemaskan masa depan anak-cucunya.

Namun, di balik riuhnya jeritan dapur yang kekurangan, ada ancaman tersembunyi yang jauh lebih mengerikan sedang mengintai: goyangnya iman.

Sejarah mengajarkan bahwa kemiskinan sering kali menjadi pintu masuk paling rapuh bagi goyahnya akidah. Di tengah keputusasaan perut yang lapar, tidak jarang ada pihak-pihak yang memanfaatkan momen dengan kedok misi kemanusiaan atau bantuan modal. Sembako gratis ditukar dengan gadai akidah; sebungkus mi instan menjadi alat pemurtadan yang sistematis. Belum lagi jeratan pinjaman online ilegal berbasis riba yang alih-alih menjadi solusi, justru menjadi api yang membakar keharmonisan rumah tangga.

Kita harus menyadari dengan jernih bahwa krisis ekonomi yang terjadi hari ini bukan semata-mata karena kita kurang bekerja keras. Ini adalah persoalan sistemis. Ketika negara mengadopsi sistem ekonomi kapitalisme yang membiarkan kekayaan alam dikuasai segelintir korporasi dan menyerahkan hajat hidup publik pada mekanisme pasar bebas, rakyat kecil dipaksa menjadi tameng penderitaan melalui beban pajak dan mahalnya harga kebutuhan dasar.

Di sinilah urgensi kita untuk kembali menemukan ketenangan diri dengan Islam. Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah sistem hidup yang komprehensif dan menawarkan solusi berlapis dari hulu hingga hilir.

Pertama, pada level individu dan keluarga, Islam menanamkan fondasi ketauhidan yang kokoh mengenai konsep rezeki. Seorang muslimah yang paham akidah tidak akan mudah putus asa karena ia tahu bahwa jaminan hidup berada di tangan Sang Pencipta, bukan di tangan makhluk. Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur’an:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

“Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.” (QS Hud: 6)

Keyakinan inilah yang melahirkan sifat qana’ah (merasa cukup) dan menjaga kehormatan diri untuk tetap mencari nafkah dengan cara yang halal, serta sejauh mungkin menghindari jalan-jalan haram seperti riba dan penipuan.

Kedua, pada level masyarakat, Islam mewajibkan adanya jaring pengaman sosial berbasis ketakwaan komunal. Tetangga tidak boleh menutup mata atas kelaparan di sebelahnya. Rasulullah saw. memberikan peringatan keras melalui sabdanya:

مَا آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانَ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, sementara ia mengetahui keadaan itu.” (HR Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)

Masyarakat yang islami akan bahu-membahu membentengi lingkungannya. Mereka tidak hanya saling berbagi makanan, tetapi juga menjaga lingkungan dari penyusupan gerakan kristenisasi yang memanfaatkan kemiskinan serta membebaskan warga dari cengkeraman rentenir.

Ketiga, dan yang paling krusial, adalah peran negara. Dalam pandangan Islam, negara adalah pelayan rakyat, bukan korporasi yang mencari untung dari keringat publik. Pemimpin berkewajiban menjamin kebutuhan pokok tiap individu serta mengelola kepemilikan umum—seperti sumber daya alam, minyak, gas, dan tambang—demi kesejahteraan rakyat banyak, bukan menyerahkannya kepada swasta atau asing. Rasulullah saw. bersabda:

الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari)

Kesulitan hidup di dunia ini adalah ujian yang sifatnya sementara. Kekurangan di dalam dapur bisa disiasati dengan kesabaran, kebersamaan, dan ikhtiar yang benar. Namun, hilangnya iman adalah kerugian abadi yang tidak akan pernah bisa ditebus oleh harta sebanyak apa pun.

Oleh karena itu, di tengah impitan ekonomi yang kian menjepit, mari rapatkan barisan. Dekatkan diri ke majelis-majelis ilmu, bentengi keluarga dengan pemahaman Islam yang kafah, dan bangun solidaritas antarsesama. Biarlah dapur kita boleh kurang, tetapi pastikan iman di dada kita tetap berdiri tegak, tak tergoyahkan oleh badai zaman.[]

Oleh: Verdina Parasmita
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 9

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA