Dehumanisasi Muslim Palestina Kian Mengerikan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Konflik kemanusiaan di Palestina kembali menunjukkan wajah paling kelam dari penjajahan modern yang pernah ada. Zionis tidak lagi hanya mengincar tanah dan kedaulatan. Mereka telah bergerak menuju tahap dehumanisasi sistematis yang sangat mengerikan. Nyawa manusia seolah kehilangan nilai di hadapan kepentingan politik dan militer. Lebih dari itu, kehormatan mereka tetap dirampas meski raga sudah tidak bernyawa.

Dehumanisasi Palestina oleh Zionis tidak hanya menimpa orang yang hidup tetapi juga orang yang mati. Yang masih hidup dibunuh termasuk anak-anak. Yang sudah mati tidak boleh dikubur di tanahnya sendiri, bahkan harus dibongkar lagi dan dipindahkan dengan alasan kuburan itu terlalu dekat dengan pemukiman Israel (Sindonews.com, 10/5/2026).

Berdasarkan laporan bahwa jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 72.736 orang, sementara lebih dari 172 ribu lainnya mengalami luka-luka. Sejumlah korban masih tertimbun reruntuhan dan belum dapat dievakuasi karena akses yang terbatas akibat kondisi lapangan yang terus memburuk (Antaranews.com, 10/5/2026).

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa genjatan senjata yang selama ini digaungkan terbukti bukanlah solusi efektif. Kenyataannya, Zionis dan sekutunya Amerika Serikat (AS) selalu mengabaikan kesepakatan Internasional. Bahkan, Zionis telah mengerahkan sejumlah brigade militer ke Gaza dan Tepi Barat untuk perluasan wilayah kekuasaan di Jalur Gaza yang saat ini dilaporkan telah mencakup sekitar 59 persen. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan dan ambisi mereka adalah penghapusan total wilayah Palestina.

Tanpa dukungan dari AS sebenarnya entitas ini rapuh. Dukungan senjata dan keuangan yang diperoleh dari AS memperkuat posisi penjajah dan memudahkan mereka melakukan genosida di tanah Palestina hingga jumlah korban semakin banyak termasuk anak-anak. Bahkan, upaya mereka untuk membungkam pers dan media Internasional dari menyiarkan kekejaman mereka kepada dunia adalah dengan menargetkan pembunuhan jurnalis, tercatat 300 jurnalis telah gugur sejak 7 Oktober 2025.

Namun saat ini, masalah besar justru terjadi pada keheningan dunia Islam. Saat ini terdapat lebih dari 50 negeri-negeri muslim yang tersebar di seluruh penjuru dunia, namun para penguasa di sana seolah kehilangan keberanian. Mereka terbelenggu dengan batas-batas sempit nasionalisme dan lebih mementingkan urusan politik masing-masing negara. Nasionalisme telah mengikis habis ukhuah islamiah sebagai penggerak aksi nyata. Nasionalisme menganggap penderitaan Gaza sebagai masalah internal bangsa lain.

Padahal, akar masalahnya adalah keberadaan entitas Zionis di tanah Palestina. Selama entitas ini masih berdiri genosida akan terus berulang, maka pendapat yang hanya fokus pada bantuan kemanusiaan dan pernyataan solidaritas tidaklah cukup. Situasi ini bukan sekadar konflik wilayah, melainkan bukti nyata bagaimana kemanusiaan dapat dirampas secara sistematis di hadapan dunia yang memilih diam dan tunduk pada kepemimpinan kapitalis global.

Berbagai resolusi dunia terbukti tidak mampu mengatasi persoalan Palestina sampai saat ini. Karena itu, solusi permasalahan Palestina juga harus melalui langkah nyata dan sistematis. Islam mempunyai jalan keluar yaitu melalui penerapan syariat Islam secara keseluruhan. Solusi ini tidak dimulai dari meja diskusi melalui perundingan Internasional yang mayoritas mendukung sekutu penjajah, melainkan dimulai dari menyatukan negeri-negeri muslim dan umat muslim sedunia. Umat memerlukan satu kepemimpinan tunggal yaitu, Khilafah.

Institusi Khilafah berfungsi sebagai perisai bagi umat. Khilafah tidak akan membiarkan anak-anak diamputasi, jurnalis dibunuh, rumah sakit dibom. Khilafah akan mengerahkan seluruh pasukan militer dari penjuru negeri muslim untuk berjihad membebaskan tanah Palestina secara total.
Tanah Palestina adalah tanah kharaj yang selamanya adalah milik kaum muslim dan harus dikembalikan kepada kaum muslim serta menjamin kehidupan rakyat Palestina untuk hidup aman dan mulia di tanah mereka sendiri.

Allah telah memerintahkan kita untuk berjuang melawan musuh Islam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا تِلُوْهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ بِاَ يْدِيْكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُوْر قَوْمٍ مُّؤْمِنِيْنَ 
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (QS At-Taubah 9:14)

Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan umat Islam hanya akan terwujud dengan perlawanan yang nyata yaitu jihad dengan mengerahkan pasukan militer yang terorganisir. Meminta perlindungan dari forum-forum Internasional adalah sebuah kesia-siaan. Sebab dalam Islam pemimpin (Khalifah) wajib untuk melindungi darah, kehormatan, dan wilayah kaum muslim dari segala bentuk penjajahan.

Saat ini agenda utama umat Islam bukan sekedar menunjukkan solidaritas emosional kepada Palestina, namun berjuang mewujudkan kepemimpinan tunggal yang akan mempersatukan kaum muslim. Tanpa Khilafah, umat akan terus terpisah oleh sekat-sekat nasionalis. Tanpa Khilafah, pasukan militer negeri-negeri muslim hanya akan berdiam diri ketika saudara mereka ditindas. Tanpa persatuan kaum muslim penjajahan di Palestina akan terus berlanjut, sudah saatnya umat bergerak maju menuju solusi yang dijanjikan Allah Swt. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Atika Ma’rifatuz Zuhro
Muslimah Peduli Generasi

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA