Tinta Media – Tanggal 20 November ditetapkan sebagai hari anak sedunia. Hal ini diinisiasi oleh UNICEF (United Nations International Children’s Emergenci Fund) dengan tujuan untuk menciptakan masa depan anak yang lebih baik dan meningkatkan kesadaran pada masyarakat tentang pentingnya kesejahteraan bagi anak-anak.
Awal pertama ditetapkan peringatan ini adalah pada tahun 1954 sebagai hari anak universal. Tanggal 20 november kemudian dipilih sebagai hari peringatan anak sedunia. Tanggal tersebut berkaitan dengan Majelis Umum PBB saat mengadopsi konvensi hak-hak anak yang merupakan kesepakatan internasional pertama yang secara komprehensif melindungi hak-hak anak.
Hal ini mencakup aspek kehidupan, mulai dari hak bertahan hidup, eksploitasi, hingga perlindungan dari kekerasan. Namun sayangnya, di berbagai tempat hak anak ini banyak diabaikan, diingkari, bahkan hingga diserang. Peringatan ini merupakan wadah untuk mendukung hak-hak anak untuk kehidupan dan masa depan yang lebih baik.
Perayaan hari anak kali ini dirayakan oleh kolaborasi anak-anak dan orang dewasa dengan cara menyuarakan isu-isu kritis, seperti pendidikan dan diskriminasi. Untuk meningkatkan perhatian terhadap tantangan yang dihadapi anak-anak, momen ini dirayakan melalui acara global, publikasi, dan media sosial. (Detikjatim, 13/11/2024)
Momen ini bagi sebagian negara mungkin menjadi hal penting yang perlu dirayakan setiap tahun, mengingat hal ini berkaitan dengan masa depan anak-anak sebagai generasi penerus di seluruh dunia. Lalu, apa kabarnya dengan anak-anak di Palestina ? Apakah momen hari anak sedunia ini patut dirayakan di sana? Apakah gaung tentang tindak kekerasan dan diskriminasi di sana tidak terdengar oleh belahan dunia mana pun? Mari kita coba telaah lagi definisi tentang hari anak sedunia ini.
Sebenarnya, peperangan, genosida, dan penindasan di Palestina sudah bukan berita yang asing lagi bagi seluruh dunia. Namun seperti diterpa angin, berita ini perlahan meredup, bahkan hampir menghilang dari berbagai media. Seolah hal ini sudah bukan menjadi masalah yang perlu dibincangkan dan bukan hal yang penting untuk dicarikan solusinya.
Peringatan hari anak sedunia yang ternyata mampu dirayakan oleh hampir banyak negara, nyatanya tidak berlaku untuk anak-anak di Palestina. Berbagai kekerasan, penindasan, dan jerit tangis dari anak-anak di sana seolah tidak terlihat dan tidak didengar lagi. Bahkan, korban terus bertambah setiap hari. Perayaan hari anak ini bisa dikatakan sebagai narasi tanpa arti. Realitasnya, hak anak-anak di Palestina terampas akibat serangan yang terus-menerus dilakukan oleh Zionis.
Organisasi UNICEF yang berfokus pada tujuan untuk menyejahterakan hak anak-anak dan melindungi setiap anak tanpa diskriminasi dan kekerasan dengan tema “Dengarkan masa depan, dukung hak-hak anak” nyatanya hanya jargon kosong tanpa makna. Faktanya, mereka membisu dan menutup mata dalam forum-forum internasional untuk menghentikan kebiadaban Zionis. Dunia pun tahu bahwa korban terbanyak dari genosida yang dilakukan Zionis adalah anak-anak dan perempuan.
Mereka kehilangan orang tua dan hak untuk mengenyam pendidikan yang layak dan sejahtera. Pelayanan kesehatan bahkan jauh dari kata layak. Kelaparan, malnutrisi, akses pangan yang bergizi sudah tidak pernah mereka dapatkan akibat serangan dari Zionis selama lebih dari setahun.
Kelaparan dan malnutrisi sangat erat kaitannya dengan pangan sebagai komoditas yang sangat dibutuhkan di setiap negara. Dalam kapitalisme, pangan merupakan komoditas yang diperdagangkan di pasar global, sehingga distribusi yang tidak merata adalah mekanisme pasar yang mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat yang berada di daerah konflik.
Selama sistem kapitalisme global berlaku, konflik perang akan terus “dipelihara” demi ambisi dan keserakahan, sebagai cara untuk tidak memberikan kenyamanan dan perlindungan terhadap hak-hak anak di dunia. Ideologi kapitalisme global merupakan penyebab utamanya.
Akibatnya, para pemimpin dan masyarakat muslim dunia terhalangi untuk menolong dan membantu saudara-saudara muslim yang berada di Palestina.
Mereka dibuat tidak berdaya karena kepentingan politik dan ekonomi lebih penting dibanding dengan rasa empati dan ikatan akidah Islam yang seharusnya mampu menolong sesama saudara seimannya.
Ketika semua dibuat lemah, apa yang dapat kita harapkan dari sebuah perayaan tahunan hari anak sedunia ini? Jelas, penyebab utamanya adalah Barat dan ideologi kapitalisme yang diberlakukan di berbagai negara sekarang ini.
Solusi yang disuguhkan nyatanya mandul dalam menjamin kesejahteraan dan melindungi hak-hak anak. Tidak ada sistem yang mampu menjadikan seluruh rakyat sejahtera, aman, terlindungi, terjaga hak-hak, dan terjamin segala kebutuhannya, selain sistem islam.
Lantas, bagaimanakah solusi yang disuguhkan oleh Islam terkait hak-hak anak ini? Negara dengan sistem Islam di bawah naungan khilafah tidak akan membiarkan anak-anak tertindas, telantar, kelaparan, terusir, hingga kehilangan hak dasarnya sebagai manusia. Negara khilafah akan berupaya menghilangkan segala bentuk penjajahan, kekerasan, ketidakadilan yang menghalangi hak dasar sebagai manusia.
Negara akan menyerukan jihad dengan mengirimkan tentara muslim terbaik demi membela kehormatan kaum muslimin. Negara pun akan mengelola seluruh kekayaan alam yang ada agar segala kebutuhan masing-masing individu terpenuhi dan tentunya semuanya adil dalam sistem islam.
Sebab, anak merupakan generasi penerus kebangkitan Islam yang harus dijaga kesejahteraan dan keselamatannya. Negara pun akan melindungi kehormatan kaum muslimin agar tidak ada lagi penjajahan atau konflik antarmuslim. Khilafah adalah junnah (perisai) kaum muslimin yang akan mewujudkan kesejahteraan, keamanan, persatuan yang hakiki bagi seluruh dunia. Wallahu ‘alam bisshawwab.
Oleh: Ummu Zein
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 24















