Kapitalisme Demokrasi Cetak Generasi Monster

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Di luar nalar, tidak bisa dilogika. Hanya kata-kata ini yang bisa mengekspresikan betapa sadisnya perilaku seorang anak terhadap keluarga dekatnya di sebuah rumah, tepatnya di Jalan Lebak Bulus I, Cilandak, Jakarta Selatan.

Sebagaimana dilansir dari beritasatu.com pada Sabtu (30/11/2024), seorang anak yang belum genap 15 tahun menusuk nenek dan ayah kandungnya memakai senjata tajam hingga meninggal dunia. Sang ibu juga tidak lepas dari luka tusukan bersimpah darah, tetapi jiwanya masih bisa terselamatkan.

Belum jelas apa yang menjadi motif pembunuhan sadis ini. Namun, dari beberapa informasi yang didapat, pihak kepolisian dan yang mengenal pelaku, tindakan tersebut dilakukan karena sang anak mendapatkan tekanan belajar yang besar dari sang Ibu. Ada banyak harapan dan curhatan sang Ibu yang ternyata membebani pelaku. Informasi lain mengatakan bahwa sang anak melakukan tindakan keji itu karena mendapatkan bisikan ghaib.

Kapitalisme Sumber Kerusakan

Peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak terhadap keluarga dekatnya bukanlah kali pertama terjadi. Sering ditemukan kasus serupa dan trennya mengalami kenaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa ada masalah besar yang terjadi dalam pola pendidikan dan pola asuh di negeri ini.

Haniva Hasna, seorang kriminolog anak dari Universitas Indonesia dalam wawancara di acara kabar siang TV One (Senin,02/12/2024) menyampaikan pendapatnya bahwa perilaku kekerasan yang dilakukan oleh seorang anak lebih banyak disebabkan oleh konflik berkepanjangan yang tidak terselesaikan. Menurutnya, bisa jadi anak merasa tertekan dan tidak bisa menyampaikan apa yang menjadi keinginannya. Pola asuh yang permisif, juga bisa menjadi faktor perilaku kekerasan.

Apa yang terjadi sungguh berada di luar fitrah seorang anak. Alamiahnya anak merasa bahagia, menyayangi keluarganya, bersikap lemah lembut, dan jauh dari kekerasan. Namun, sistem kapitalis hari ini menuntut setiap orang, terutama anak harus memiliki segudang prestasi akademik yang tinggi agar bisa lolos dan diterima di dunia kerja. Inilah yang memicu stres pada anak yang akhirnya dilampiaskan dengan cara-cara mengerikan layaknya monster.

Tentu saja masalah ini tidak datang tiba-tiba. Semua ini bersumber dari cara pandang yang salah dalam memaknai hidup. Sebagaimana yang diadopsi dalam sistem kapitalis hari ini, hidup hanyalah sekadar mencari kepuasan materi, mengejar pangkat, jabatan, dan status.

Di sisi lain, negara juga tidak memberikan perlindungan anak -anak terhadap akses konten-konten negatif. Anak-anak dengan mudah mendapatkan tontonan yang bersifat kekerasan dan tidak mendidik. Wajar saja, dengan keluguan dan daya pikir yang belum sempurna pada anak, menjadikan semua yang dilihat ataupun didengarnya sebagai hal yang pantas untuk ditiru. Inilah buah penerapan kapitalis yang menjauhkan peran agama dalam kehidupan.

Islam Melahirkan Generasi Mulia

Anak adalah aset masa depan sebuah bangsa. Islam memberikan perhatian besar terhadap mereka. Anak terlahir sebagai makhluk yang suci. Orang tua serta lingkunganlah yang menjadikannya menyimpang dari fitrah tersebut.

Islam menuntut setiap orang untuk belajar bukan karena ada kemanfatan, tetapi semata karena dorongan iman. Dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1-5 Allah memerintahkan setiap manusia untuk membaca. Hal ini menunjukkan pentingnya membaca dan mencari tahu tentang segala sesuatu. Prinsip inilah yang harus ditanamkan ke dalam jiwa anak, sehingga anak-anak belajar atas dasar kesadaran, bukan paksaan yang membuatnya merasa terbebani.

Islam juga senantiasa mendorong agar manusia tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga emosional, sehingga akan didapati manusia yang pandai dan berakhlak mulia. Hanya saja, tujuan ini tidak akan terealisasi tanpa ada campur tangan pemerintah atau negara. Oleh karena itu, diperlukan sosok pemimpin yang dapat menjalankan tugas pemerintahan dengan baik sebagai pengurus rakyat. Pemimpin ini akan menjamin terwujudnya sistem pendidikan berbasis akidah Islam disertai dengan pemenuhan berbagai macam sarana yang diperlukannnya.

Sejarah Islam telah mencatat bahwa selama Islam tegak sebagai sebuah negara yang menerapkan Islam secara kaffah, banyak dilahirkan generasi yang bergelar ulama sekaligus sebagai intelektual. Sebagai contoh adalah Al Khawarizmi yang dikenal sebagai Bapak Aljabar di dunia. Ada juga Al Farabi, ilmuwan yang menguasai berbagai bahasa dan teknolog. Ada Al Kindi, yang dikenal sebagai filosof muslim dan masih banyak lagi yang laiinnya .

Khatimah

Generasi yang berkualitas, berilmu, dan beradab hanya akan lahir dari sistem yang benar, menjunjung tinggi
ilmu dan adab . Dunia perlu kepemimpinan baru, yakni kepemimpinan Islam dalam sistem yang baru, yakni khilafah Islam yang akan menerapkan seluruh hukum-hukum Islam. Wallahu alam.

 

 

 

Oleh: Zahra Tenia
Aktivitas Muslimah

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA