Tinta Media – Di tengah memburuknya situasi ekonomi, pemerintah akan membentuk Lembaga Pengelolaan Dana Umat. Menurut Menteri Agama, potensi dana umat di Indonesia bisa mencapai Rp1.000 triliun per tahun.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai, jika seluruh sumber dana umat dapat dihimpun secara terorganisir, nilainya diperkirakan bisa mencapai Rp1.000 triliun setiap tahun. Dana itu diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi kemiskinan tanpa menambah beban pajak (detik.com, 4/4/2026).
Nasaruddin menjelaskan bahwa lembaga ini akan menghimpun dan menata pengelolaan berbagai sumber dana umat, seperti wakaf, infak, zakat, sedekah, fidyah, hibah, dan dana sosial keagamaan lainnya, dengan mekanisme transparan dan berbasis data. Kami akan membangkitkan potensi besar ini agar bisa dikelola secara profesional.
“Selama ini, pundi-pundi umat seperti raksasa yang sedang tidur,” ujarnya.
Apa yang disampaikan oleh Menteri Agama terdengar baik dengan niat mengentaskan kemiskinan. Pertanyannya, benarkah dana umat yang akan dikelola bisa bermanfaat lagi bagi masyaraka? Ke mana uang pajak yang selama ini narasinya untuk kebutuhan masyarakat?
Pemerintah selalu mengencarkan pajak dan setiap tahun menaikkannya dengan tujuan untuk pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat. Masyarakat pun sudah patuh pajak. Ada pajak kendaraan, rumah, bangunan, tanah, properti, penghasilan, pabrik, dan berbagai pajak yang lain. Bahkan, pendapatan keuangan negara banyak ditarik dari pajak. Namun, selama itu pula, pelayanan yang diterima tidak sepadan dengan kepatuhan membayar pajak. Jalanan tetap rusak, jembatan putus di berbagai daerah masih terlihat, bangunan sekolah masih banyak yang memprihatinkan, layanan kesehatan masih tebang pilih, dan berbagai fasilitas umum masih jauh dari layak. Penanganan setengah hati banjir bandang Sumatra dan Aceh menambah daftar panjang orang miskin.
Pengelolaan dana umat juga rawan dibuat ajang korupsi. Jabatan jadi lahan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Sudah bukan rahasia bahwa setiap ada proyek, di situlah ada celah manipulasi. Mental para pemimpin yang seharusnya melayani, justru berbalik menghianati. Korupsi mengakar kuat di berbagai lembaga. Mereka tidak malu, apalagi takut dosa.
Sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan negeri ini hanya bertumpu pada pajak dan utang. Pajak pun bisa ditarik ulur sesuai kepentingan. Sudah bukan rahasia kalau para oligarki sering mangkir pajak. Parahnya, pemerintah terkadang memutihkan pajak bagi para pemodal atau -tax amnesti._
Utang juga menjadi instrumen dalam pembiayaan berbagai kebijakan. Utang dengan riba harus dibayar. Pembayarannya jelas melalui pajak. Sekali lagi, yang menanggung bebannya adalah rakyat. Kebijakan ala kapitalisme ini menjadikan negara tunduk pada negara debitur. Kebijakan yang diambil jelas menguntungkan mereka. Sementara itu, rakyat tetap miskin dan sengsara.
Solusi lslam Mengentaskan Kemiskinan
Dalam lslam, sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan adalah kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi negara dengan mudah, murah, dan kualitas terbaik. Hal ini karena pemimpin bertanggung jawab terhadap urusan rakyat. Para pemimpin sadar bahwa jabatan adalah amanah dan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Mereka takut hisab jika mengabaikan urusan rakyat. Pemimpin dalam lslam ibarat penggembala. Tidak mungkin ada penggembala yang mencelakakan gembalaannya.
Sumber pendapatan yang digunakan untuk keperluan rakyat dan mengentaskan kemiskinan berasal dari sumber daya alam, seperti hutan, laut, tambang, _kharaj, fai, khumus, ghanimah_, dan sebagainya. Sedangkan zakat hanya diperuntukkan bagi 8 golongan. Pengelolaan berbagai pendapatan tersebut akan berjalan maksimal sesuai syariat di tangan pemimpin yang amanah.
Solusi lslam jelas solutif. lndonesia dengan kekayaan yang melimpah akan bisa mengentaskan kemiskinan dari akarnya bukan hanya di permukaan dan sesaat. Sebaliknya, kekayaan alam yang banyak hanya menjadi musibah karena berpijak pada sistem salah, yaitu kapitalisme.
Sekarang pilihan ada pada kita, apakah masih mau diatur dengan sistem yang menyengsarakan atau beralih pada sistem lslam yang pasti mendatangkan kebaikan buat semua manusia karena bersumber dari Pencipta, Allah Swt.?
Oleh: Umi Hanifah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 5
















