Pendidikan Menjadi Solusi Kemiskinan, Efektifkah?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Miris melihat biaya pendidikan saat ini begitu mahal, sulit untuk dijangkau oleh semua lapisan masyarakat di tengah impitan ekonomi. Bisa makan saja sudah untung, sementara hanya masyarakat mampu saja yang dapat mengenyam pendidikan yang layak. Akhirnya, banyak generasi saat ini yang putus sekolah dan bekerja serabutan.

Seolah menjadi angin segar di tengah pengapnya kehidupan rakyat, baru-baru ini pemerintah membuat kebijakan untuk memutus rantai kemiskinan dengan membuka program sekolah rakyat. Program ini dirancang dari SD, SMP hingga SMA dengan metode berasrama 24 jam. (detiknews.com 25 Mei 2025)

Sesungguhnya, pendidikan merupakan hak seluruh warga negara, baik orang yang mampu ataupun tidak mampu. Namun, saat ini terlihat adanya kesenjangan yang begitu timpang, seolah pendidikan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mampu saja.

Adanya kebijakan yang dibuat oleh pemerintah seperti dana BOS dan KIP ternyata tidak dapat menyentuh akar masalah dari persoalan pendidikan. Faktanya, dana seperti itu hanya menjadi bantalan ekonomi sesaat bagi masyarakat yang tidak mampu, bahkan terkadang dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari saja.

Tentunya, ini sangat tidak sesuai dengan tujuan dari kebijakan tersebut dan bukan menjadi solusi dalam menghilangkan persoalan kemiskinan. Apalagi, dana-dana pendidikan yang diberikan terkadang tidak tepat sasaran dan malah membuka celah korupsi dalam dunia pendidikan.

Saat ini, pendidikan hanya dijadikan komoditas mahal, yang tidak semua rakyat dapat mengakses. Inilah buah penerapan sistem sekuler kapitalisme. Dalam sistem ini, tolok ukur dalam kehidupannya adalah materi semata, sehingga apa pun akan dilakukan untuk mencapai tujuan materi. Maka, pendidikan pun dijadikan komoditas oleh segelintir orang untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, tanpa memedulikan bagaimana nasib generasi.

Banyak faktor yang memengaruhi kenapa persoalan pendidikan saat ini begitu mahal. Faktor yang pertama adalah dalam aspek ekonomi. Paradigma dalam sistem kapitalis menyatakan bahwa yang mempunyai modal besar dialah yang menang. Negara tidak memberikan jaminan kesejahteraan bagi rakyat, akhirnya mencari celah untuk mendapatkan materi dengan menghalalkan segala cara. Salah satunya adalah dalam dunia pendidikan. Karena faktor ekonomi inilah akhirnya pendidikan dijadikan ladang untuk mencari nafkah.

Intervensi yang dilakukan oleh pemerintah dalam sistem pendidikan kapitalis jelas gagal karena tidak dapat menjadi solusi bagi salah satu permasalahan pendidikan. Maka, pemerintah Prabowo membuat kembali kebijakan yang dinarasikan sebagai upaya untuk memeratakan akses pendidikan bagi seluruh rakyat.

Pemerintah menggagas sekolah rakyat untuk anak-anak miskin (kurang mampu) dan juga membuat sekolah Garuda Unggul untuk anak orang kaya (mampu). Namun, apakah dengan adanya kebijakan ini bisa menyentuh akar masalah? Tentu saja tidak. Justru yang ada malah terlihat kesenjangan. Ini karena sekolah dibedakan antara si kaya dan si miskin.

Sudah dapat dipastikan bagaimana timpangnya perbedaan antara sekolah rakyat dengan sekolah Garuda Unggul. Yang pasti, fasilitas ataupun pendidikannya akan jauh berbeda. Lagi-lagi kebijakan yang dibuat tidak dapat menyentuh akar masalah.

Bagaimana bisa memeratakan akses pendidikan jika kebijakan yang dibuat masih bersifat akomodatif, hanya solusi sesaat untuk menambal sulam permasalahan yang ada, dan tidak dapat menyentuh akar masalah?

Pendidikan dalam sistem kapitalis terpampang jelas hanya dijadikan bisnis semata. Dengan banyaknya program kebijakan, saat ini tak satu pun yang betul-betul menjadi nyata dan merata untuk rakyat. Sejatinya program yang dibuat saat ini hanyalah program populis yang hanya menguntungkan beberapa pihak elite saja.

Dalam Islam, pendidikan begitu penting dan menjadi hak setiap warga negara tanpa terkecuali, tidak melihat status rakyat, apakah mampu atau tidak. Islam memandang pendidikan sebagai hak syar’i yang begitu penting dan harus dipenuhi untuk setiap warga negara sebagaimana halnya dengan kesehatan dan keamanan. Maka, dalam Islam, negara bertanggung jawab sebagai pengurus bagi rakyat. Negaralah yang akan memberikan jaminan kesejahteraan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk aspek pendidikan dengan berbagai mekanisme yang sesuai dengan hukum syara’.

Negara dalam Islam akan menjamin pemenuhan seluruh kebutuhan dasar publik. Negara sebagai penyelenggara akan mengelola semua sumber daya alam, serta sektor-sektor yang ada, kemudian hasilnya diserahkan untuk kebutuhan rakyat.

Negara memiliki Baitul Mal yang bertugas sebagai lembaga keuangan yang dikelola oleh negara untuk menerima, menyimpan, serta mendistribusikan harta untuk kemudian disalurkan demi kesejahteraan rakyat.

Dalam Islam, tidak ada pembagian akses pendidikan yang akan dapat menimbulkan kesenjangan. Semua sama rata, baik bagi orang mampu atau pun tidak, baik yang tinggal di kota maupun desa atau daerah pinggiran. Semua mempunyai hak yang sama dalam akses pendidikan.

Pendidikan dalam Islam berasaskan pada akidah Islam yang tentunya dapat melahirkan generasi-generasi yang berkepribadian Islam. Mereka bukan hanya ber-_syakhshiyyah_ (berkepribadian) Islam saja, tetapi juga generasi cerdas dan unggul yang menguasai ilmu terapan dan teknologi, serta mempunyai ketakwaan dan keimanan yang kuat kepada Allah Swt.

Selain itu, generasi Islam siap menjadi penerus peradaban Islam yang dipersiapkan untuk mendakwahkan Islam dan berjihad ke seluruh dunia untuk menyebarkan Islam. Mereka juga mampu menjadi pemimpin dan menjadi mercusuar peradaban unggul dan mulia.

Begitu pentingnya dan berkualitasnya output pendidikan dalam Islam, karena fungsi pendidikan dalam Islam bukan untuk menyelesaikan masalah ekonomi negara. Ini karena aspek ekonomi dan pendidikan berbeda. Justru ekonomilah yang seharusnya menjadi penyokong pendidikan dan menjadi supra-struktur dalam mendukung sarana dan prasarana pendidikan agar terwujud pendidikan yang sesuai dengan syariat Islam.

Penerapan sistem Islam secara kaffah akan menjadi solusi pendidikan saat ini. Pendidikan dalam Islam akan menjadi mercusuar dunia seperti pada masa Daulah Abbasyah. Pada masa itu, terjadi kemajuan pesat dalam ilmu pengetahuan dan pendidikan, dan menjadi kiblat masyarakat internasional. Generasi muslim hadir sebagai penjaga dan juga pembentuk peradaban Islam yang mulia, yang akan mewujudkan kehidupan Islam yang penuh dengan rahmatan lil alamin.
Wallahu a’lam bish shawwab.

Oleh: Iske
Sahabat Tinta Media

Views: 26

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA