Tinta Media – Dunia saat ini sedang tidak baik baik saja. Banyak kerusakan yang terjadi, mulai dari bencana alam banjir, tanah longsor, kebakaran, bahkan sampai kerusakan moral manusia di bumi.
Indonesia adalah negeri muslim yang terkenal dengan ramah tamahnya, tetapi ternyata tidak bisa luput dari kerusakan yang terjadi. Nilai nilai agama yang kental di negeri muslim ini mulai luntur karena gerusan globalisasi.
Dilansir dari berita JAKARTA, KOMPAS.com, sepasang suami istri (pasutri) berinisial IG (39) dan KS (39) ditangkap oleh pihak kepolisian terkait kasus pesta seks dan pertukaran pasangan (swinger). Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi menyebutkan, keduanya ditangkap di wilayah Kabupaten Badung, Bali. (kompas.com, 10/01/2025)
Kejadian seperti ini tentu bukan dari ajaran agama Islam yang mayoritas dianut di Indonesia. Berarti ada hal lain yang menjadi penyebab dari kerusakan-kerusakan yang sedang terjadi.
Menilik Penyebab Kerusakan
Kerusakan yang terjadi tidak bisa muncul begitu saja, tentu melalui proses panjang. Proses kerusakan yang mnggerus akhlak masyarakat dimulai saat ditinggalkannya ajaran agama Islam dan beralih ke pemahaman yang lain di luar Islam. Paham kapitalisme mengajarkan sekulerisme yaitu mengajak pengikutnya untuk memisahkan ajaran agama dari kehidupan. Ketika masyarakat menanggalkan aturan hidupnya, maka dia akan beralih pada aturan buatan sendiri. Dari sini, mulailah muncul kerusakan-kerusakan.
Manusia bersifat lemah, sehingga aturan yang dibuat tidak bisa mewakili manusia yang lain. Bahkan, aturan dibuat semata karena manfaat, kesenangan dunia, dan bersifat materi. Kerusakan yang terjadi sudah masuk ke semua lini usia, dari remaja sampai dewasa.
Dukungan perusakan moral begitu banyak dari negara, seperti memfasilitasi alat kontrasepsi bagi remaja. Banyak sarana yang mengarah pada perzinaan, seperti taman kencan, media sosial yang tidak terkendali, pornografi dan pornoaksi.
Sistem pendidikan hanya mengejar angka atau nilai besar, tetapi mengabaikan pendidikan agama. Masyarakat pun sudah mulai acuh dengan kondisi yang ada sehingga nilai-nilai amar makruf nahi munkar tidak dilaksanakan. Sampai pada lini pertahanan terakhir, yaitu keluarga ikut mengalami kerusakan.
Dari Anas bin Malik r.a. Rasulullah SAW bersabda,
“Di antara tanda-tanda kiamat adalah ilmu diangkat, kebodohan merebak, zina merajalela, meminum khamar, kaum lelaki banyak yang meninggal, sedangkan kaum wanita masih bertahan (atau bertambah) sehingga selisih antara perempuan dan lelaki lima puluh dibandingkan satu.” (HR Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)
Solusi Hakiki Keluar dari Masalah
Sekarang ini umat harus segera sadar dan bangkit dari semua keterpurukan. Permasalahan yang terjadi hanya bisa diselesaikan dengan kembali kepada yang fitrah, yaitu kembali kepada aturan Al Khalik, Allah SWT.
Allah SWT Sang Maha Pengatur yang sudah menurunkan Al-Qur’an dan hadis untuk kita jalankan sebagai hamba-Nya. Sudah saatnya kita kembali kepada Islam kafah.
Islam menjaga kemuliaan setiap manusia. Aturan Islam yang diterapkan akan menjaga nasab dari setiap anak yang lahir karena Islam mengatur sistem pergaulan setiap manusia sehingga dapat mencegah terjadinya perzinaan. Ini karena sistem pendidikan Islam juga mendidik generasi berikutnya tetap menjadi generasi emas yang memiliki tujuan hidup yang benar, tidak sekadar mengejar kesenangan dunia.
Peradaban pun akan tercipta menjadi peradaban emas dan cemerlang. Dengan aturan Islam, pintu-pintu yang mengarah pada perzinaan akan ditutup. Yang pasti, Islam punya penjagaan, yaitu sanksi yang berfungsi sebagai pencegah dan penebus dosa.
Dengan diterapkannya Islam sebagai jalan hidup, maka keberkahan negeri ini juga akan dirasakan bagi setiap warga negaranya.
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS Al A’raf : 96).
Wallahu a’lam bi ash-shawab. Wassalamu’alaikum.
Oleh: Ummu Hafiy
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 13
















