Tinta Media – Tes kehamilan yang diadakan di sekolah sebagai upaya pencegahan perilaku bebas menimbulkan polemik. Karena mengingat fungsi tes kehamilan sendiri adalah untuk mendeteksi kehamilan, dengan kata lain hanya mendeteksi dampak dari pergaulan bebas, tanpa menyentuh akar permasalahan yang ada. Untuk menyelesaikan permasalahan pergaulan bebas yang demikian kompleks, dibutuhkan solusi yang lebih komprehensif yang mencakup, perbaikan ekonomi, pendidikan yang memiliki nilai moral dan etika, dukungan sosial, serta penegakan hukum yang jelas dan tegas.
Belum lama ini sebuah video yang dibagikan akun Instagram @folkshitt menjadi viral di berbagai laman media sosial. Video tersebut menunjukkan sejumlah siswi SMA sedang melakukan tes kehamilan di sekolah. Mereka memakai baju putih abu-abu dan didampingi oleh guru perempuan saat masuk ke toilet untuk mengambil urine dan diuji kehamilannya. Menurut akun tersebut, tes kehamilan ini merupakan program tahunan di sekolah. Pihak sekolah mengklaim bahwa kebijakan ini bertujuan untuk melawan kenakalan remaja, terutama pergaulan bebas yang semakin marak, serta memberikan ketenangan kepada orang tua siswi. Netizen pun memberikan berbagai komentar, banyak juga yang mendukung program ini dan bahkan mengusulkan agar berlaku di seluruh sekolah di Indonesia (https://www.suara.com/news, 2025/01/24).
Meningkatnya pergaulan bebas, seolah menjadi sebuah fenomena yang lazim dalam kehidupan modern saat ini, kendati telah menimbulkan berbagai permasalahan sosial yang serius. Dalam hal ini, sistem kapitalisme sekuler, yang cenderung mengutamakan aspek materialistik dan meremehkan nilai-nilai agama, adalah akar dari pergaulan bebas yang semakin merajalela di berbagai segmen usia, terutama di kalangan generasi muda.
Konsep pembebasan diri yang dijunjung tinggi dalam kapitalisme sekuler membuat individu cenderung mengutamakan kepuasan pribadi tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang mungkin terjadi. Hal ini memunculkan budaya hedonisme yang merusak nilai-nilai moral dan etika dalam sebuah masyarakat.
Selain itu, dampak dari ketimpangan ekonomi yang lahir dari sistem kapitalisme tidak hanya mencakup kesenjangan ekonomi dan kemiskinan secara finansial, tetapi juga berdampak pada struktur sosial dan kehidupan individu, terutama remaja. Banyak remaja saat ini mengalami kurangnya pengawasan dan bimbingan dari orang tua akibat kesibukan mereka dalam mencari nafkah atau tekanan ekonomi yang mereka hadapi. Hal ini dapat membuat remaja menjadi rentan terhadap berbagai masalah sosial dan perilaku yang berisiko.
Lingkungan tempat individu dibesarkan juga memainkan peran penting dalam membentuk perilaku sosial. Misalnya, lingkungan yang tidak sehat, yang dipenuhi dengan kekerasan fisik, verbal, atau psikologis, dapat mempengaruhi cara individu berinteraksi dengan orang lain. Terlebih di era digital saat ini, kemudahan akses terhadap konten pornografi telah menjadi masalah yang meresahkan karena berkontribusi pada normalisasi hubungan kasual dan perilaku berisiko terkait pergaulan bebas. Remaja yang terpapar pada konten pornografi secara tidak terkontrol dapat mengalami perubahan sikap dan nilai terkait seksualitas dan hubungan antar individu. Hal ini bisa mengarah pada praktik perilaku seksual yang tidak sehat atau bahkan ilegal pada usia yang masih terlalu muda.
Oleh karena itu, dalam merumuskan program pencegahan pergaulan bebas, penting untuk tidak hanya fokus pada aspek teknis, seperti pengadaan tes kehamilan di sekolah. Sebab pendekatan semacam itu hanya bertujuan untuk mengidentifikasi kehamilan dini tanpa mengatasi akar permasalahan secara menyeluruh. Untuk menanggulangi pergaulan bebas di kalangan remaja, diperlukan pendekatan holistik yang didasarkan pada nilai-nilai agama seperti yang diajarkan dalam Islam agar lebih efektif dalam menangani akar permasalahan tersebut.
Sebagai contoh, dengan menerapkan pendidikan berbasis Islam yang memiliki peran penting dalam menciptakan generasi berkualitas dan berakhlak baik, atau generasi yang memiliki kepribadian Islam. Hal tersebut di karenakan dalam konteks pendidikan Islam, tidak hanya ditekankan nilai akademik namun juga pemahaman tentang nilai-nilai Islam dalam setiap sendi kehidupan termasuk memberikan pedoman dalam tata pergaulan yang sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, generasi muda akan lebih memahami pentingnya menjaga diri dari pergaulan bebas dan perilaku negatif lainnya.
Dengan keimanan yang kuat dan kontrol sosial yang diterapkan melalui nilai-nilai Islam juga dapat membantu melindungi generasi muda dari pemikiran yang merusak dan perbuatan maksiat. Kerjasama antara berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan masyarakat secara keseluruhan, menjadi kunci dalam menjaga nilai-nilai tersebut. Selain itu, pentingnya pembinaan dan pembimbingan yang berkelanjutan kepada generasi muda agar mereka mampu memahami serta menginternalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari juga tidak boleh diabaikan.
Selanjutnya, peran aktif negara dalam mencegah kerusakan moral generasi melalui prinsip-prinsip Islam menjadi semakin penting. Selain itu, negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui penerapan sistem ekonomi Islam, sehingga setiap orang tua, khususnya ibu, bisa lebih fokus dalam mengawasi dan membimbing anak-anaknya tanpa disibukkan dengan permasalahan ekonomi yang mendesak seperti saat ini. Negara juga harus mengeluarkan kebijakan maupun kegiatan yang mendukung penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, serta menetapkan sanksi tegas dan jelas dalam setiap pelanggaran, sesuai dengan aturan Islam. Hanya dengan menerapkan prinsip-prinsip Islam secara menyeluruh, negara dapat memastikan upaya pencegahan terhadap pergaulan bebas menjadi lebih efektif dan berkelanjutan, serta mampu memberikan dampak yang lebih signifikan dalam menjaga moralitas generasi penerus bangsa.
Wallahu a’lam.
Oleh: Indri Wulan Pertiwi
Aktivis Muslimah Semarang
![]()
Views: 14
















