Tinta Media – Pergaulan bebas semakin merajalela di kalangan remaja. Terbukti dalam beberapa tayangan berita baik di televisi, ataupun media sosial, kerap kali diberitakan banyak sekali kabar seputar seks bebas yang mencengangkan, menyedihkan, bahkan membuat miris hati. Berita-berita mengenai pesta seks, swinger, bahkan hubungan seksual di usia dini menjadi permasalahan sehari-hari yang biasa didengar bahkan tanpa memandang tempat terjadinya, baik di kota besar maupun di pelosok desa. Ironisnya, anak-anak yang seharusnya fokus belajar dan meraih mimpi malah terjerumus ke dalam jurang kehancuran moral (Kompas.com, Jum’at, 10/01/2025).
Saat ini, kita hidup di era di mana teknologi memberikan akses tanpa batas. Konten pornografi, yang dulunya sulit diakses, kini hanya sejauh sentuhan jari. Media sosial pun sering kali menjadi tempat “promosi” gaya hidup hedonis dan bebas, yang secara tidak sadar ditelan mentah-mentah oleh para remaja. Akibatnya, batasan moral dan agama semakin terkikis.
Namun, apakah teknologi sepenuhnya salah? Tentu tidak. Akar permasalahan ini jauh lebih dalam. Teknologi hanyalah alat, bagaimana remaja memanfaatkannya sangat bergantung pada nilai-nilai yang mereka anut. Di sinilah letak persoalan besar yaitu hilangnya panduan moral yang kuat dalam kehidupan mereka.
Salah satu penyebab utama dari maraknya pergaulan bebas adalah sekularisme. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, sehingga agama dianggap hanya urusan pribadi, bukan panduan hidup. Akibatnya, norma dan aturan agama, termasuk dalam pergaulan, tidak lagi dijadikan pegangan.
Remaja tumbuh dengan pandangan bahwa kebebasan adalah hak mutlak, tanpa peduli dampaknya pada diri sendiri dan orang lain. Mereka diajarkan untuk mengejar kebahagiaan materi dan kepuasan instan, tanpa memahami bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika hidup selaras dengan nilai-nilai agama. Dalam sistem sekuler, apa yang halal dan haram sering kali dianggap tidak relevan.
Islam telah memberikan aturan yang jelas dalam pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Tidak hanya untuk menjaga kehormatan, tetapi juga untuk melindungi masyarakat dari kerusakan moral. Islam melarang khalwat (berdua-duaan) dan memerintahkan untuk menundukkan pandangan. Islam juga mendorong pendidikan akhlak sejak dini, menanamkan rasa malu sebagai perisai diri, dan menekankan pentingnya keluarga sebagai pondasi moral.
Namun, semua ini hanya akan efektif jika diterapkan secara sistemik, bukan sekadar tanggung jawab individu atau keluarga. Negara memiliki peran sentral dalam menegakkan sistem pergaulan Islam, mulai dari pengaturan media, pendidikan, hingga penegakan hukum.
Pergaulan bebas tidak akan bisa diatasi jika akar masalahnya, yaitu sekularisme, dibiarkan tumbuh subur. Kita membutuhkan sistem yang menyatukan agama dan kehidupan, yang menjadikan Islam sebagai dasar pengaturan semua aspek kehidupan, termasuk pergaulan.
Penerapan sistem Islam bukan hanya akan melindungi remaja dari kehancuran moral, tetapi juga menciptakan generasi yang memiliki akhlak mulia, tujuan hidup yang jelas, dan kontribusi positif bagi masyarakat.
Inilah saatnya kita merenung, apakah kita ingin terus membiarkan generasi muda terombang-ambing dalam gelombang sekulerisme, atau kita siap memperjuangkan kembalinya sistem Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam? Pilihan ada di tangan kita dan masa depan mereka adalah tanggung jawab kita.
Wallahu’alam bisshawwab.
Oleh: Yanti Wulansari
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 22
















