Pergelaran Kontes Waria, di Mana Peran Negara?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kembali ramai dibincangkan oleh publik, setelah beberapa pekan lalu Wanda Hara seorang trans gender 
yang memakai cadar  mengikuti
kajian ustad Hanan Attaki berada di tempat jamaah wanita menjadi sorotan
publik. Kini kontes waria kian menambah keriuhan dan huru-hara di Nusantara
ini.

Mengutip dari laman BERITAMERDEKA.net pada 08 Agustus 2024,
video kontes kecantikan trans gender (WARIA) yang diduga diadakan di Hotel
Orchardz, Jakarta pusat yang digelar pada 4 Agustus 2024 viral di media sosial.
Sontak membuat warganet mengecam dan berkomentar pedas pada video tersebut.

Dalam video tersebut terlihat seorang peserta bertubuh
gempal mengenakan slempang bertuliskan “Aceh”, sebagai pemenang kontes
tersebut. Dengan diiringi tepuk tangan dan sorakan riuh dari para hadirin, waria
tersebut dengan bangganya menangis haru bahagia.

Ketua karang taruna Aceh Tamiang, Joko Sudirman, St mengecam
keras penyelenggaraan acara tersebut. Beliau menduga ada pihak-pihak yang
terlibat sengaja ingin merusak citra Aceh, seakan Aceh mendukung LGBT.

Miris, dan seakan tiada habisnya menambah problematika di
kalangan masyarakat, kerusakan di setiap lini kehidupan jelas sangat tampak
nyata adanya. Dari lini pendidikan, perekonomian, kesehatan hingga penistaan
agama dan kini pergaulan LGBT yang malah makin merajalela dan makin eksis keberadaannya,
seakan menambah pelik kehidupan masyarakat.

Pada faktanya negara Indonesia sendiri pernah  menyumbang dana untuk kontes Waria, pada
tahun 2005, Pemerintah Daerah ibukota menyumbang Rp. 100.000.000 untuk
penyelenggaraan kontes Waria (Adian Husaini).

Entah apa yang menjadikan pemerintah rela mengucurkan dana
untuk kontes waria tersebut, yang pasti ada kemanfaatan yang dinilai
menguntungkan bagi negara.

Inilah  negara
penganut sistem kapitalisme, bergerak atas dasar manfaat, jika dinilai ada
kemanfaatan dan keuntungan maka akan dijalani, tanpa memandang lagi apakah hal
tersebut bertentangan dengan salah satu norma ataupun hukum negara. Penyebab
tumbuhnya LGBT tidak lain karena asa yang digunakan di negara ini bernuansa
liberalisme.

 Kapitalisme berbuat
atas dasar manfaat belaka, kapitalisme melahirkan paham liberalisme (kebebasan)
yang memberi kebebasan pada tiap-tiap individu masyarakat bebas berekspresi,
selama itu tidak mengganggu hak orang lain, maka hal tersebut diperbolehkan.

Memisahkan agama dari kehidupan, memisahkan agama dari
negara (sekularisme) itulah ide dasar sistem kapitalisme.

Padahal Islam melarang keras LGBT, dalam Islam LGBT (
lesbian, gay, biseksual dan transgender) adalah jelas keharamannya. Sabda Nabi
Saw, “Allah telah mengutuk siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum nabi
Luth” (HR Ahmad).

Yang dimaksud kaum nabi Luth adalah kaum sodom yaitu pelaku
homoseksual, sehingga jelas perbuatan LGBT adalah suatu keharaman yang harus
ditinggalkan.

 

Rasulullah Saw juga bersabda, “Rasulullah Saw melaknat
laki-laki yang mengenakan pakaian wanita, dan wanita yang mengenakan pakaian
laki-laki (HR Abu Dawud, an-Nasaai dan Ibnu Majah).

Mengenai hukuman bagi pelaku homo seksual adalah hukuman
mati, tidak ada khilafah (perbedaan pendapat) diantara para fukaha.

LGBT adalah perilaku menyimpang dan menjijikan, perilaku
tersebut menyebabkan penyakit yang matikan, hubungan sesama jenis gay maupun
lesbian telah terbukti menjadi faktor penyebab penyebaran virus HIV dan AIDS.
Selain itu hubungan sesama jenis tidak akan melahirkan generasi baru, sehingga
dapat mengancam kelangsungan hidup manusia.

Berbagai macam akibat buruk yang telah ditimbulkan oleh
perilaku LGBT, maka hendaknya LGBT ditangani dengan serius oleh negara dan
tidak boleh diabaikan dan dianggap remeh sama sekali.

Sudah selayaknya kita kembali kepada ajaran Islam yang
mulia, agar negara ini menjadi negara yang diberkahi. Maka hendaknya kembali
menerapkan syariat Islam, karena hanya syariat Islam satu-satunya peraturan
yang benar yang harusnya dijalankan.

Allahu a’lam bishawwab.

Oleh: Sarinah, Komunitas Literasi Islam Bungo

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA