Tinta Media – Perang telah mengubah jalur Gaza menjadi tanah yang tidak aman lagi bagi anak anak. Jumlah korban tewas akibat genosida Israel di jalur Gaza telah meningkat menjadi 50.523 orang dengan 114.776 lainnya terluka sejak Oktober 2023 (porostimur.com, 18/4/2025).
Biro statistik pusat Palestina menyatakan Gaza sedang mengalami krisis anak yatim terbesar dalam sejarah modern. Sementara itu puluhan ribu anak kehilangan orang tua mereka karena serangan Israel yang sedang berlangsung.
Dalam pernyataannya yang dikeluarkan menjelang Hari anak Palestina yang diperingati 5 April, biro tersebut melaporkan 39.384 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tua setelah 534 hari serangan Israel di jalur Gaza. Di antara mereka, sekitar 17.000 anak yatim yang telah ditinggalkan tanpa kedua orang tua, kini menghadapi hidup tanpa dukungan atau perawatan.
Sampai saat ini tentara Israel melanjutkan serangannya terhadap warga sipil di Gaza, menghancurkan daerah itu dan secara paksa menggusur lebih dari dua juta penduduk.
Serangan brutal ini juga merusak infrastruktur pendidikan di Palestina. Terdapat 122 gedung sekolah dan perguruan tinggi hancur total, sementara 334 lainnya rusak parah. Dampak ini memperparah krisis pendidikan di wilayah tersebut yang makin meminggirkan hak anak-anak Palestina untuk mendapatkan pendidikan.
Tidak hanya masalah pendidikan, krisis sanitasi di Gaza telah menyebabkan peningkatan penyakit, terutama di kalangan anak-anak yang tinggal di lingkungan yang tidak layak. Air limbah, toilet, dan pancuran mengalir tanpa pengolahan, memperburuk krisis kesehatan termasuk wabah penyakit kulit dan infeksi pernapasan.
Nasib anak-anak Palestina sangat menderita sebab situasi ini. Mereka tidak bisa menjalani kehidupan normal, seperti anak-anak pada umumnya. Tidak ada pendidikan, permainan, atau kegembiraan. Bahkan anak-anak berusia lima atau enam tahun harus mencari makanan untuk keluarga mereka.
Semua fakta ini terjadi di tengah narasi soal HAM dan tetek-bengek aturan internasional dan perangkat hukum soal perlindungan dan pemenuhan hak anak. Nyatanya aturan-aturan tersebut tak mampu menghentikan apalagi mencegah penderitaan anak-anak di Palestina.
Semua ini semestinya menyadarkan umat, bahwa tidak ada yang bisa diharapkan dari lembaga-lembaga internasional dan semua aturan-aturan yang dilahirkannya, contohnya PBB yang selama ini hanya bisa mengecam dan berkoar-koar mengutuk tindakan keji Zionis Israel terhadap warga Gaza.
Selama bertahun-tahun, dunia Islam berharap negara-negara Arab akan mengambil langkah berani untuk menghentikan ekspansi Israel dan mempertahankan hak-hak Palestina. Akan tetapi, dengan tidak adanya respon yang berarti dari penguasa-penguasa Muslim seperti Mesir, Yordania, dan negeri-negeri Muslim lainnya, kita dapat melihat dengan jelas bahwa mereka telah mengkhianati tanggung jawab terhadap umat Islam.
Jika umat Islam di seluruh dunia ingin melihat perubahan, maka harus ada pemimpin yang berani bersuara keras dan memimpin aksi nyata melawan kekejaman Zionis Israel dan sekutunya. Negara Muslim harus berhenti berharap pada diplomasi yang hanya mengarah pada solusi-solusi tanpa makna. Solusi Palestina bukanlah mengusir warga Gaza dari Palestina, melainkan mengusir penjajah Zionis Israel dari tanah yang mereka rampas.
Ini bukan hanya tentang melawan Israel dan sekutunya, tetapi tentang mempertahankan martabat umat Islam di seluruh dunia. Untuk itu, umat Islam di seluruh dunia harus bangkit dan berjuang bersama untuk menuntut keadilan dan memperjuangkan hak-hak Palestina.
Masa depan Gaza ada pada tangan mereka sendiri, yakni pada kepemimpinan politik Islam atau khilafah yang semestinya sungguh-sungguh mereka perjuangkan. Khilafah berfungsi sebagai rain atau junnah, tidak akan membiarkan kezaliman menimpa rakyatnya .
Khilafah terbukti selama belasan abad berhasil menjadi benteng pelindung yang aman dan memberikan dukungan terbaik bagi tumbuh kembang anak, sehingga mereka bisa menjadi generasi cemerlang dan emas dari masa ke masa. Setiap Muslim wajib terlibat dalam memperjuangkan kembalinya khilafah agar mereka punya hujjah, bahwa mereka tidak diam dan berpangku tangan melihat anak-anak Gaza dibantai Zionis Israel dan sekutu-sekutunya. Persoalan anak anak Gaza harus diselesaikan secara tuntas dan solusi tuntas hanya dapat terwujud dengan jihad dan khilafah.
Oleh: Sumiati
(Aktivis Dakwah Muslimah)
![]()
Views: 43
















