Tinta Media – Sekitar 20 ribu kader di tiap desa/kelurahan se-Kabupaten Bandung diseru untuk mengawal program unggulan “Jabar Nyaah Ka Indung” oleh Bupati Bandung Dadang Supriatna. Program tersebut adalah program Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan terhadap kaum perempuan (ibu) lanjut usia di Jawa Barat.
Selain itu, tujuan lainnya adalah menempatkan para ibu (perempuan) sebagai pilar utama dalam membangun keluarga dan masyarakat. Agar tepat sasaran., Ibu-ibu lansia akan didata oleh kader PKK untuk didaftarkan ke kepala desa dan disampaikan ke camat agar bisa dimasukkan sebagai penerima santunan/ kadeudeuh dari ASN.
Para ibu lansia ini akan mendapatkan santunan/kedeudeuh secara rutin setiap bulannya dari para ASN. Kang DS (Dadang Supriatna) juga menghimbau agar yang dijadikan ibu asuh para ASN ini adalah sanak saudara dan keluarga para ASN sendiri. Betulkah program ini mampu menjadikan perempuan mulai dan sejahtera?
Lagi-lagi, pemerintah daerah membuat program yang ditujukan untuk membantu para ibu/ perempuan, dalam hal ini adalah para lansia sebagai bentuk perhatian kepada mereka. Betul, nasib perempuan hari ini sungguh memprihatinkan, bukan yang lansia saja, namun di semua kalangan seperti ibu-ibu, remaja, bahkan anak-anak. Persoalan perempuan sangat beragam, mulai dari perceraian, pinjol, bank emok.
Kemiskinan dan masalah ekonomi biasanya mendorong para ibu/perempuan untuk mengambil jalan pintas seperti riba, bahkan yang lebih miris lagi adalah dengan mengeksploitasi kecantikan, menjual diri, dan sebagainya. Perempuan semakin hari semakin tersiksa dan terpuruk, mereka kehilangan kemuliaan, kehormatan, dan kesejahteraan. Begitulah nasib perempuan di bawah sistem hidup yang sekuler dan kapitalistik. Pilar-pilar rumah tangga pun dihancurkan oleh sistem yang rusak dan merusak.
Adanya program Jabar Nyaah Ka Indung seolah bagus dan mulia karena mendorong ASN untuk memperhatikan lansia. Namun sejatinya, itu menunjukkan bahwa negara lepas tangan dalam mengurusi rakyatnya.
Terlihat jelas bahwa pandangan kapitalis dalam memandang kesejahteraan dan kebahagiaan adalah dengan adanya materi/uang, sehingga tindakan yang dilakukan adalah dengan memberikan santunan/kadeudeuh ka Indung. Inilah ciri kapitalis dalam menyelesaikan masalah khususnya masalah perempuan. Program ini hanya solusi pragmatis, solusi tambal sulam karena akan memunculkan problem turunan. Hal seperti itu bukan sesuatu yang aneh dalam sistem kapitalisme sekuler hari ini.
Berbanding terbalik dengan pandangan Islam. Islam memandang perempuan akan merasa bahagia hakiki jika berada dalam keridhaan Allah SWT, bukan hanya dengan uang/materi. Ketundukan pada syariat itulah kebahagiaan yang hakiki yang harus diperoleh kaum ibu/perempuan. Kebutuhan dasar hidup juga menjadi tanggung jawab negara untuk memenuhinya dengan tidak membiarkan seorang suami/kepala rumah tangga menganggur tanpa penghasilan.
Jadi, dalam sistem Islam, negara akan membuka lapangan pekerjaan yang sangat luas. Itu karena, suamilah yang wajib memberikan nafkah pada istri dan keluarganya. Wajib memberikan makanan yang halal dan tayib. Suami juga wajib berbakti pada ibu dengan memperhatikan dan memenuhi kebutuhannya. Jika keluarganya tidak ada, maka negaralah yang turun tangan untuk bertanggung jawab atas seluruh rakyat. Seorang perempuan/ibu disebut sejahtera jika visi hidupnya tercapai yaitu ketika hidup dalam keridhaan Allah SWT.
Dalam Islam, ada tiga pilar yang harus diperhatikan agar kehidupan manusia selalu dalam keberkahan dan mendapat ridho Allah SWT, yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan adanya institusi negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam kehidupan. Dengan demikian, negara betul-betul bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat seluruhnya, bukan hanya perempuan. Dengan hal tersebut maka semua masalah bisa terselesaikan dengan tuntas tanpa harus menyerahkan pada ASN.
Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Dartem
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 14
















