Tinta Media – Setiap tahun, Hari Pendidikan Nasional diperingati dengan penuh seremoni. Namun, di balik itu, realitas dunia pendidikan kian menunjukkan wajah yang semakin buram dan memprihatinkan. Peringatan Hari Pendidikan Nasional kini tidak menunjukkan kualitas pendidikan seutuhnya yang mencerminkan moral dan sosial yang baik. Alih-alih menjadi ruang aman dan tempat bertumbuhnya generasi cerdas dan beradab, sekolah dan kampus kini kerap diwarnai berbagai krisis moral dan sosial.
Kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kalangan pelajar dan mahasiswa terus meningkat. Lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan justru tak lagi mampu menjamin rasa aman. Lingkup pendidikan saat ini justru memicu rasa khawatir dengan banyaknya kasus pelecehan seksual dan kasus kekerasan. Di sisi lain, praktik kecurangan seperti joki UTBK, plagiarisme, hingga manipulasi akademik semakin marak dan seolah menjadi hal yang lumrah.
Tak berhenti di situ, keterlibatan pelajar dalam peredaran narkoba juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Seolah-olah kemaksiatan mulai dinormalisasikan. Bahkan, ada fenomena pelajar yang berani menghina guru, menyelisihi guru, atau membawa persoalan disiplin ke ranah hukum. Hal ini menandakan adanya pergeseran adab yang serius dalam dunia pendidikan.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Ini bukan sekadar momen seremonial, tetapi saat yang tepat untuk mengevaluasi arah pendidikan yang tampak kehilangan ruhnya.
Kegagalan dalam mengimplementasikan sistem pendidikan telah melahirkan generasi yang mengalami krisis kepribadian dan cenderung sekuler, liberal, serta pragmatis.
Sistem pendidikan yang berorientasi pada materi dan kesuksesan instan turut mendorong lahirnya individu yang menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan. Mereka tidak lagi memedulikan apakah cara yang ditempuh melanggar koridor syariat atau tidak karena tujuan yang dikejar hanyalah tujuan dunia. Ingin tampil di media sosial, tidak ingin ketinggalan tren, dan merasa tertinggal apabila orang lain sudah mencapai apa yang mereka inginkan.
Minimnya penanaman nilai-nilai agama yang benar semakin memperparah kondisi ini. Kebebasan tanpa batas yang tidak diiringi tanggung jawab moral telah mengikis kepribadian pelajar dan membuka jalan menuju berbagai bentuk penyimpangan.
Dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu dari guru kepada murid, tetapi proses pembentukan manusia seutuhnya. Pendidikan berbasis akidah akan melahirkan insan yang cerdas sekaligus bertakwa. Dalam Islam, akidah menjadi fondasi utama dalam pendidikan. Karena itu, dunia pendidikan Islam tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menjunjung tinggi kejujuran dan moralitas.
Islam menekankan pembentukan kepribadian Islam, yaitu keselarasan antara pola pikir dan pola sikap agar sesuai dengan Islam.
Selain itu, penerapan sistem sanksi yang tegas menjadi bagian penting dalam menjaga ketertiban, kedisiplinan, dan mencegah kejahatan, termasuk di kalangan pelajar.
Lebih dari itu, Islam memiliki peran sentral dalam menciptakan suasana kehidupan yang mendorong ketakwaan. Sinergi antara keluarga, lingkungan, dan sistem pendidikan menjadi kunci dalam membentuk generasi yang berkarakter kuat.
Refleksi Hari Pendidikan Nasional seharusnya menyadarkan kita bahwa krisis yang terjadi bukanlah persoalan individu semata, melainkan akibat dari sistem yang perlu diulang secara mendasar. Tanpa perubahan yang serius dan menyeluruh, dunia pendidikan akan terus kehilangan arah dan generasi masa depanlah yang akan menanggung dampaknya.
Oleh: Wina Audina
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 9







