Tinta Media – Merespons laporan pencegatan dan dugaan penculikan sembilan WNI dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla menuju Gaza di perairan internasional oleh militer Israel, Jurnalis Joko Prasetyo menyatakan entitas penjajah Zionis Yahudi berani melakukan itu karena mereka tahu konsekuensi politiknya nyaris tidak ada.
“Entitas penjajah Zionis Yahudi berani mencegat kapal sipil di laut internasional karena mereka tahu konsekuensi politiknya nyaris tidak ada,” ujarnya kepada tintamedia.com, Selasa (20/5/2026).
Menurut Om Joy, sapaan akrab Joko, dunia internasional mungkin ribut beberapa hari, media akan ramai sesaat, lalu semuanya kembali normal. Gaza tetap diblokade. Palestina tetap dibantai.
Dan yang paling memprihatinkan, negeri-negeri Muslim tetap melanjutkan pola lama: pidato keras di depan publik, tetapi lunak dalam tindakan politik nyata.
Indonesia misalnya, selama ini tampil sebagai pendukung Palestina dalam berbagai forum internasional. Namun dukungan itu mayoritas berhenti pada kecaman diplomatik dan retorika kemanusiaan.
“Bahkan ketika beberapa waktu lalu 4 TNI yang bertugas di Lebanon gugur diduga akibat serangan entitas penjajah Zionis Yahudi pun tidak membuat pemerintah melakukan tekanan politik yang benar-benar signifikan terhadap rezim Zionis maupun negara-negara pendukungnya,” ungkap Om Joy.
Lebih ironis lagi, jelasnya, ketika sebagian penguasa Muslim termasuk Indonesia justru aktif dalam berbagai forum “perdamaian global”, Board of Peace (BoP), dialog lintas agama, dan kampanye moderasi internasional, tetapi gagal menghadirkan perlindungan konkret terhadap rakyat Gaza, Palestina.
Mereka berbicara tentang toleransi global. Tetapi Gaza tetap dihujani rudal. Mereka sibuk mempromosikan harmoni dunia. Tetapi kapal kemanusiaan dicegat di laut internasional. Mereka bangga disebut wajah Islam moderat. Tetapi Palestina tetap terkubur di bawah reruntuhan dalam kondisi sekarat.
“Inilah ironi dunia Islam hari ini: penguasa umat makin dekat Barat, sementara Gaza-Palestina makin disekat,” tegasnya.
Padahal, sebut Om Joy, Barat yang mereka dekati itulah yang selama ini menjadi pelindung utama entitas penjajah Zionis Yahudi di panggung internasional. Negara-negara besar yang paling keras bicara HAM justru menjadi pemasok senjata, pelindung diplomatik, dan tameng politik bagi penjajahan di Palestina.
Akibatnya, beber Om Joy, forum-forum perdamaian berubah menjadi panggung pencitraan moral. Banyak bicara kemanusiaan, tetapi bungkam terhadap akar penjajahan. Banyak menyerukan toleransi, tetapi takut menyentuh kepentingan geopolitik Barat.
Padahal, terang Om Joy, Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam saling mencintai dan menyayangi seperti satu tubuh…” (HR Muslim).
Namun, jelasnya, tubuh umat hari ini tercerai-berai oleh nasionalisme, pragmatisme politik, dan ketergantungan kepada kekuatan asing. Palestina dianggap sekadar isu regional, bukan luka seluruh kaum Muslim.
“Karena itu, tragedi Flotilla ini sesungguhnya bukan hanya memperlihatkan kebrutalan entitas penjajah Zionis Yahudi, tetapi juga memperlihatkan lemahnya keberpihakan politik dunia Islam terhadap Palestina,” pungkasnya.[] Siti Aisyah
![]()
Views: 3
















