Rupiah Melemah, Rapuhnya Nasib Ekonomi Kelas Menengah!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan yang sangat berat. Kurs dolar AS pada tanggal 21 Mei 2026 menembus angka Rp17.702 per dolar (morningstar.com).

Kondisi ini tentu memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Masyarakat kelas menengah dinilai akan menjadi pihak yang paling rentan merasakan dampaknya. Masyarakat yang selama ini hidup dalam kondisi serba “cukup”, namun belum memiliki bantalan finansial yang kuat, mendapat ancaman serius terhadap daya beli, tabungan, investasi, hingga rasa aman ekonomi mereka.

Pelemahan rupiah ini bukan lagi sekadar angka di layar kaca, namun ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi negara.

Dr. Arie Sujito, S.S., M.Si., selaku Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), menilai pelemahan rupiah membawa dampak langsung terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah. Kenaikan berbagai biaya kebutuhan hidup membuat masyarakat harus menghitung ulang pengeluaran rumah tangga serta menyesuaikan berbagai rencana masa depan yang sudah dirancang. Kondisi tersebut mempengaruhi pola konsumsi masyarakat, terutama pemenuhan kebutuhan sekunder yang mulai dikurangi demi menjaga kestabilan ekonomi keluarga.

Ketika dolar menguat, masyarakat langsung merasakan dampaknya melalui kenaikan harga barang impor, meningkatnya biaya produksi, bertambahnya utang luar negeri berbasis ribawi, dan melemahnya daya beli masyarakat.

Fenomena ini menunjukkan rentannya struktur ekonomi Indonesia terhadap dominasi mata uang asing, khususnya dolar AS. Banyak ekonom menilai bahwa pelemahan rupiah bukan hanya disebabkan oleh faktor ketegangan AS–Iran yang saat ini sedang memanas dan sangat memengaruhi pasar global dengan memicu lonjakan harga komoditas energi seperti minyak. Namun, ada banyak kombinasi faktor eksternal maupun internal, seperti kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed) dan tingginya permintaan valuta asing (valas) di dalam negeri yang tidak diimbangi dengan pasokan yang cukup.

Di tengah kekhawatiran yang menyelimuti masyarakat saat ini, Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan sebuah pernyataan yang menjadi perbincangan luas di tengah kondisi ekonomi yang dirasa berat oleh masyarakat. Beliau menyampaikan pada peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur (16/5), bahwa menurutnya masyarakat desa tidak menggunakan mata uang asing secara langsung sehingga tidak perlu khawatir dengan gejolak kurs saat ini.

Namun, pada faktanya, di lapangan justru banyak kebutuhan masyarakat desa yang berkaitan erat dengan fluktuasi dolar. Mulai dari pupuk, bahan baku tahu dan tempe, obat-obatan, BBM, hingga pakan ternak ikut terdampak ketika rupiah melemah.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan makna dari ucapan Presiden Prabowo bahwa orang desa tidak memakai dolar. Menurutnya, itu hanya untuk menghibur rakyat.

“Untuk menghibur rakyat aja di situ. Saya lihat konteksnya di perdesaan waktu kemarin itu, nggak apa-apa ngomong begitu,” kata Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta (18/5/2026).

Berdasarkan fakta yang sudah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa pelemahan rupiah tak lepas dari struktur ekonomi Indonesia yang bergantung pada sistem kapitalisme global. Ada banyak faktor yang menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap dolar anjlok, di antaranya:

1. Ketergantungan impor yang tinggi. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang masih mengimpor banyak kebutuhan penting seperti bahan bakar, pangan, obat-obatan, serta bahan baku industri. Ketika dolar naik, secara otomatis biaya impor juga meningkat sehingga permintaan terhadap dolar semakin tinggi. Hal ini menyebabkan nilai tukar rupiah makin tertekan.

2. Utang luar negeri berbasis dolar. Pemerintah maupun sektor swasta di Indonesia memiliki utang luar negeri dalam jumlah yang tidak sedikit. Ketika rupiah mengalami pelemahan, otomatis beban pembayaran utang serta bunga semakin meningkat. Hal ini menjadi salah satu faktor penyebab utama dalam penentuan nilai tukar rupiah karena menurut Bank Indonesia, stabilitas rupiah sangat dipengaruhi oleh arus modal asing dan utang luar negeri.

3. Dominasi investasi asing dalam pasar keuangan domestik. Dalam sistem kapitalisme-liberal, pasar modal, khususnya di Indonesia, sangat terbuka lebar bagi investor asing. Ketika kondisi global mengalami ketidakstabilan, investor asing dengan mudah menarik dana keluar dari Indonesia sehingga membuat rupiah semakin tertekan.

4. Lemahnya struktur ekonomi nasional. Banyaknya sumber daya alam (SDA) yang dikelola dan dikuasai oleh korporasi besar, khususnya asing, membuat rakyat tidak dapat menikmati keuntungan ekonomi yang dimiliki negeri sendiri. Struktur ekonomi seperti ini tentu membuat negara sulit membangun ketahanan ekonomi yang kuat secara mandiri.

Pelemahan rupiah memberikan dampak yang sangat luas terhadap kehidupan masyarakat. Harga barang impor terus meroket sehingga memicu terjadinya inflasi. Harga bahan baku yang mengalami kenaikan menyebabkan biaya produksi industri juga meningkat dan akhirnya mengakibatkan harga kebutuhan pokok serta barang konsumsi ikut naik.

Selain itu, pelemahan rupiah juga menyebabkan peningkatan beban utang negara yang akhirnya membuat anggaran negara lebih banyak digunakan untuk membayar cicilan utang serta bunganya daripada menyejahterakan rakyat.

Dalam sistem kapitalisme, krisis ekonomi sering kali mengakibatkan ketimpangan sosial yang begitu mencolok, membuat kelompok kaya makin kaya dan yang miskin makin terjepit. Hal ini akan berdampak buruk dalam jangka panjang apabila tidak ditangani dengan serius dan solutif oleh pemerintah.

Berbicara solusi, tentu tidak akan ada solusi yang benar-benar berpihak pada kepentingan rakyat apabila sistem yang digunakan masih sistem kapitalisme yang bersumber dari manusia yang hakikatnya lemah dan terbatas. Solusi yang ditawarkan oleh sistem kapitalisme sering kali justru semakin menyengsarakan, seperti menaikkan suku bunga, intervensi pasar valas, atau menambah utang luar negeri. Berbeda dengan Islam yang memiliki solusi hakiki terkait permasalahan ekonomi saat ini.

Menurut kitab Sistem Ekonomi Islam (Nidzamul Iqtishadi fil Islam), Islam menjadikan emas dan perak sebagai asas mata uang sekaligus pengukur nilai barang dan jasa. Akar masalah dari pelemahan rupiah juga disebabkan oleh mata uang modern yang berbasis fiat money (uang kertas tanpa dasar intrinsik yang jelas) sehingga nilainya mudah berubah tergantung jumlah uang beredar dan dominasi mata uang asing.

Berbeda dengan Islam yang menetapkan standar emas dan perak yang memiliki nilai tetap. Disebutkan secara eksplisit bahwa emas dan perak dapat mencegah inflasi, sedangkan uang kertas justru memperparah inflasi. Menggunakan emas dan perak juga merupakan perintah dari Allah Swt., sebagaimana firman-Nya dalam QS At-Taubah ayat 34 yang artinya:

“… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka katakanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapatkan) azab yang pedih.”

Emas dan perak bukan hanya memiliki nilai intrinsik, tetapi juga memiliki nilai ekstrinsik. Jika menggunakan emas dan perak, negara tidak dapat mencetak uang kertas tanpa dicadangkan kepada emas dan perak.

Hal ini menimbulkan sikap hati-hati pemerintah dalam mengeluarkan mata uang kertas karena harus memiliki jaminan cadangan emas dan perak. Selain itu, membuat negara menjaga kekayaan emasnya serta menghilangkan kelangkaan mata uang.

Melemahnya rupiah merupakan sebuah keniscayaan dalam sistem ekonomi kapitalisme. Hal ini menjadi bukti bahwa sistem kapitalisme telah gagal dalam menjamin keamanan ekonomi masyarakat. Masyarakat pun seharusnya sadar bahwa sistem ini tidak layak dijadikan aturan hidup. Berbeda dengan Islam yang berasal dari Sang Pencipta Yang Maha Sempurna lagi Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya, yaitu Allah Swt. Wallahu a’lam bish-shawab.[]

Oleh: Aura Banin Budiman
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 26

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA