Serangan Zionis Israel Makin Membabi Buta
Tinta Media – Kesepakatan gencatan senjata antara Zionis Israel dan Pasukan Hamas di Gaza Palestina terbukti tidak ada pengaruhnya. Hanya dalam hitungan jam sejak pengumuman gencatan senjata, tentara Zionis Israel membombardir warga Gaza yang berada di pemukiman maupun di pengungsian. Sejatinya, Zionis Israel adalah kaum yang sering berkhianat.
Kekejaman Zionis makin menjadi-jadi. Mereka menjatuhkan bom ke sekolah, tempat penampungan, rumah sakit, pusat makanan, pabrik desalinasi air, bahkan ke zona aman yang ditunjuk Zionis sendiri. Para pekerja medis dan jurnalis pun jadi sasaran bom mereka sebagai cara untuk menghilangkan pertolongan bagi warga Gaza dan membungkam pemberitaan yang sebenarnya dari Gaza.
Bom yang dijatuhkan berupa rudal yang saat meledak, sampai melemparkan tubuh-tubuh manusia ke udara saking besarnya kekuatan ledakan bom itu. Brutal sekali serangan Zionis Israel ini. Mereka sungguh tidak berperikemanusiaan.
PM Israel, Netanyahu mengatakan bahwa serangan-serangan itu adalah untuk menekan Hamas agar membebaskan 59 sandera Israel yang tersisa. Padahal, serangan brutal Zionis sejak pembatalan gencatan senjata bulan Januari lalu, telah menewaskan lebih dari 1200 warga Gaza, termasuk ratusan anak-anak. Maka, tepat sekali pernyataan warga Gaza bahwa mereka sedang dimusnahkan. (Gaza Media, 5/4/2025)
Mirisnya lagi, saat warga Gaza dan Tepi Barat Palestina sedang melaksanakan salat Idul Fitri pun Zionis Israel tetap melakukan serangan. Tahun ini adalah Idul Fitri penuh kepiluan bagi warga Palestina. Mereka harus melakukan salat jenazah setelah salat Idul Fitri.
Respon Kaum Muslim
Selama ini penguasa negara-negara Arab hanya diam. Keprihatinan mereka hanya sebatas imbauan untuk mengutuk dan memberi bantuan sekadarnya. Umat Islam di dunia mencukupkan diri dengan mendo’akan dan memberi bantuan yang kenyataannya tidak bisa sampai kepada warga Palestina karena diblokade oleh Zionis Israel.
Ada OKI (Organisasi Kerjasama Islam), tetapi kerja mereka sebatas kerja sama ekonomi. Saat darah menetes dari umat Islam, seluruh anggota OKI hanya membahas dan mengeluarkan deklarasi mengecam zionis Israel.
OKI tidak bisa menyatukan dukungan untuk mengusir Zionis Israel dari tanah Palestina. Ini karena OKI bukan Khilafah yang bisa mengerahkan tentaranya membebaskan negeri muslim dari penjajahan. Negara-negara OKI bukan negara independen (merdeka secara hakiki). Kedaulatan mereka terpasung oleh perjanjian dengan negara-negara Barat pendukung Israel sehingga tidak bisa membela sesama muslim di Palestina.
Baru-baru ini, organisasi Internasional Union of Muslim Scholars (IUMS) atau Persatuan Ulama Sedunia yang berkedudukan di Doha Qatar, mengeluarkan fatwa agar negara-negara muslim berjihad melawan Zionis Israel dan sekutunya. Fatwa itu mengimbau agar semua negara muslim di dunia melakukan tindakan militer, ekonomi, dan politik untuk menghentikan genosida di Palestina.d di Para ulama berpendapat bahwa diamnya pemerintah Arab dan negara muslim lainnya terhadap genosida warga Palestina sebagai sebuah kejahatan besar dan secara syar’i, termasuk dosa besar, serta merupakan bentuk pengkhianatan kepemimpinan. (CNBC Indonesia, 9/4/2025)
Solusi Menurut Islam
Akar masalah Palestina adalah penjajahan oleh Zionis Israel yang didukung penuh oleh negara-negara kafir Barat, khususnya Amerika. Penjajahan hanya dapat diselesaikan dengan pengusiran para penjajah dari tanah Palestina. Negara kafir yang menyerang negara Islam, hanya dapat dilawan dengan pasukan perang, bukan dengan boikot atau diplomasi.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. QS Al-Baqarah: 190 yang artinya,
“Perangilah oleh kalian di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
Solusi yang sesuai dengan firman Allah di atas untuk menyelesaikan masalah Palestina adalah sebagai berikut:
Pertama, pengiriman tentara muslim yang berjihad fi sabilillah untuk mengusir Zionis Israel dan membebaskan Palestina dari penjajahan.
Kedua, para penguasa negeri-negeri muslim harus menunjukkan solidaritas dan kepedulian yang nyata terhadap Palestina dengan mengirimkan tentara terbaiknya masing-masing untuk berjihad.
Ketiga, jihad fi sabilillah umat Islam akan efektif dan solutif di bawah satu komando seorang Khalifah.
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang Imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’Azza wa Jalla dan berlaku adil, maka dia (Khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Muslim)
Maka, fatwa ulama sedunia masih dipertanyakan keefektifannya. Apakah ada keberanian dari penguasa muslim untuk mengerahkan pasukan perangnya? Sementara, mereka masih bergantung pada kerja sama dengan negara Israel atau sekutunya. Fatwa ulama pun tidak punya kekuatan yang mengikat, sifatnya hanya imbauan. Para ulama tidak punya pasukan militer untuk melawan Zionis Israel.
Inilah pentingnya institusi berupa negara Islam (Khilafah). Merupakan suatu kewajiban bagi muslim sedunia untuk menegakkan Khilafah, agar umat Islam mempunya seorang pemimpin, yaitu Khalifah, yang akan melindungi mereka dari kekejaman orang-orang kafir Harbi. Wallahu a’lam bisshawab
Oleh: Wiwin
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 3
















