Tinta Media – Berkali-kali gencatan senjata diterapkan, berkali-kali pula Israel melanggarnya. Terakhir, setelah dibentuk Gaza Baru dan Dewan Perdamaian Gaza atau Board of Peace (BoP) yang diinisiasi oleh Amerika Serikat, militer Israel kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menggempur habis-habisan Jalur Gaza, Palestina, pada Rabu (4/2). Imbas serangan itu, 23 orang, termasuk anak-anak, tewas.
Sejak gencatan senjata diterapkan pada Oktober lalu, pasukan Israel telah membunuh 520 warga di Palestina. Sementara itu, sejak Israel meluncurkan agresi ke Gaza mulai Oktober 2023, lebih dari 70.000 warga di Palestina tewas dan jutaan orang terpaksa mengungsi (CNN Indonesia, 05/02/2026).
Berbagai upaya perundingan dan gencatan senjata dilakukan dengan harapan dapat menghentikan genosida yang dilakukan oleh Zionis Israel. Nyatanya, serangan tetap dilancarkan Israel meskipun dalam kondisi gencatan senjata. Hal ini menunjukkan bahwa gencatan senjata dan BoP bukanlah solusi hakiki bagi kemerdekaan Palestina.
Gencatan senjata dan BoP hanyalah sandiwara yang dimainkan sebagai langkah atau strategi licik Amerika Serikat–Israel demi mengukuhkan hegemoni dan penjajahan yang mereka lakukan di Palestina. Seharusnya, kaum muslimin memahami bahwa ini merupakan makar kaum kafir penjajah untuk menguasai tanah kaum muslimin, Palestina. Kemudian, kaum muslimin menjalankan solusi hakiki untuk membebaskan Palestina dari penjajahan, yakni dengan jihad akbar untuk mengusir penjajah dari sana.
Sayangnya, dunia saat ini masih terlalu naif karena masih saja percaya pada janji-janji penjajah seperti gencatan senjata dan BoP. Padahal, fakta sudah tampak jelas di depan mata bagaimana lagi-lagi penjajah itu mengkhianati dan melanggar perjanjian gencatan senjata.
Penguasa negeri-negeri muslim terlalu ciut nyali hingga tak berani melawan penjajah selevel AS–Israel. Alasannya demi menjaga keamanan wilayahnya agar perang tidak meluas. Inilah akibat belenggu nasionalisme; kaum muslimin tercerai-berai, tidak lagi satu tubuh. Bahkan, mereka rela bergabung dalam BoP yang jelas dipimpin oleh gembong penjajah AS–Israel.
Begitulah akibat penerapan sistem kapitalisme sekuler saat ini yang melahirkan pemimpin-pemimpin yang berorientasi pada manfaat dan memisahkan urusan negara dengan agama. Ditambah lagi paham nasionalisme yang semakin memecah belah kaum muslimin hingga tampak mustahil untuk bersatu.
Kondisi tersebut akan berbeda jika negara menerapkan sistem Islam. Sebab, landasan dari negara yang menerapkan aturan Islam adalah akidah sehingga aturan kehidupan pun terpancar dari akidah Islam. Dalam Islam, umat Islam adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan, Rasulullah mengibaratkan umat Islam laksana satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh merasakan sakit, maka anggota tubuh yang lain pun merasakan sakit dan akan mencari obatnya.
Dalam menghadapi penjajahan di Palestina, tidak ada jalan lain kecuali dengan jihad untuk mengusir penjajah agar hengkang dari Palestina. Kemudian, negara Islam (Daulah Khilafah) akan meriayah atau mengurus urusan Palestina sebagai wilayah bagian dari Daulah. Di sana, warga negara Khilafah akan dijamin keamanan harta, kehormatan, dan jiwanya. Seluruh kebutuhan pokok warga negara juga dijamin pemenuhannya oleh Daulah, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, hingga keamanan.
Sudah seharusnya umat bersikap tegas tanpa toleransi sedikit pun terhadap narasi gencatan senjata dan perdamaian yang digembar-gemborkan AS–Israel. Umat harus menyadari bahwa semua itu hanyalah sandiwara yang digunakan penjajah untuk membungkus penjajahan yang mereka lakukan. Umat juga harus paham bahwa untuk mampu mengusir penjajah dibutuhkan kesatuan umat dalam politik dan kepemimpinan.
Oleh karena itu, umat harus menghilangkan penghalang dan penghambat perjuangan yang bernama nasionalisme dan sistem kapitalisme sekuler. Umat harus menyeru kepada pemimpin negeri-negeri muslim akan kewajiban penerapan Islam secara kafah dalam naungan Daulah Khilafah. Sebab, hanya dengan Khilafah aturan Islam dapat diterapkan secara keseluruhan sebagaimana yang Allah perintahkan. Hanya Khilafah pula yang mampu membebaskan kaum muslimin dan manusia dari kezaliman serta penjajahan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Wida Nusaibah,
Pemerhati Masalah Global
![]()
Views: 42
















