Tinta Media – Pada dasarnya, manusia memiliki kecenderungan alami untuk berbuat baik, bekerja sama, dan berempati kepada sesama sebelum dipengaruhi oleh lingkungan maupun peradaban. Dalam Islam, manusia diciptakan dalam keadaan suci dan memiliki kecenderungan kepada kebaikan yang disebut fitrah. Namun, seiring perjalanan hidup, manusia dapat berubah dari sifat dasarnya. Ada tiga hal yang menjadi ujian berat bagi manusia, yaitu harta yang melimpah, kekuasaan, dan jabatan.
Pertama, ujian harta. Saat diberi harta yang melimpah, banyak manusia lupa diri dan menjadi sombong. Mereka kikir, enggan berbagi kepada sesama yang membutuhkan, bahkan tidak jarang menghina orang miskin. Mereka merasa kekayaan yang dimiliki semata-mata hasil usahanya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia daripada orang lain. Padahal, semua itu adalah rezeki dari Allah sekaligus ujian yang dapat menggelincirkan manusia dari jalan yang benar.
Celakalah orang-orang yang diberi kelebihan rezeki, tetapi tidak mau berbagi dan terus menghitung-hitung hartanya seolah-olah kekayaan itu dapat membuatnya hidup kekal di dunia. Padahal, harta tidak lagi berguna ketika ajal datang menjemput. Saat itulah setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas harta yang dimilikinya, apakah digunakan di jalan Allah atau sebaliknya.
Kedua, ujian kekuasaan. Manusia juga dapat berubah ketika diberi kekuasaan. Sebelum berkuasa, ia berbicara tentang nasib rakyat dan berjanji akan menyejahterakan mereka dengan menjamin kebutuhan dasar. Saat masa kampanye, sering kali disampaikan berbagai janji politik, mulai dari pendidikan dan layanan kesehatan gratis hingga pembukaan lapangan kerja. Namun, setelah kekuasaan berada di tangannya, tidak sedikit janji yang dilupakan.
Apa yang diucapkan sebelum dan sesudah berkuasa sering kali bertolak belakang. Dahulu ia mau mendengar dan memperhatikan keluh kesah rakyat, tetapi setelah berkuasa justru memusuhi suara-suara kritis yang berani mengoreksi kebijakan dan keputusannya. Ia berprasangka buruk kepada pihak yang ingin mengingatkan kesalahannya dan selalu merasa dirinya benar. Orang-orang yang berbeda pandangan dianggap sebagai pihak yang sakit hati atau bahkan dituduh sebagai antek asing yang ingin menjatuhkan kekuasaannya. Padahal, kritik yang disampaikan bertujuan mengingatkan agar kesalahan dapat diperbaiki. Kekuasaan dapat membuat manusia menjadi sombong, merasa paling benar, serta melupakan janji-janjinya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan bagi rakyat.
Ketiga, ujian jabatan. Manusia juga dapat berubah ketika berada di lingkaran kekuasaan serta memperoleh jabatan dan keuntungan materi. Saat masih menjadi aktivis di luar kekuasaan, suaranya lantang mengkritik setiap kebijakan yang dianggap zalim. Ia berani melawan kezaliman. Namun, setelah masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, ia berubah menjadi bungkam, bahkan membela penguasa meskipun melakukan kesalahan.
Itulah manusia yang mudah berubah karena harta, takhta, dan jabatan, terlebih ketika hidup dalam sistem kapitalisme yang menjunjung tinggi nilai materi. Nafsu dan hasrat untuk mengejar kesenangan dunia tumbuh subur, sementara benih-benih kebaikan perlahan memudar dari hati. Hanya sistem Islam yang mampu mewujudkan kehidupan islami. Dengan Islam, umat akan terjaga agar tetap istikamah pada tujuan hidup yang benar, yaitu beribadah kepada Pencipta manusia dan alam semesta. Dalam kehidupan islami, setiap orang berlomba-lomba dalam kebaikan serta saling menasihati atas dasar iman dan takwa. Kehidupan pun akan dipenuhi keberkahan dalam naungan Khilafah.
Oleh: Mochamad Efendi
(Sahabat Tinta Media, Sidoarjo)
![]()
Views: 4
















