Ulama Dihina, Media Kian Tak Beradab

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Gelombang kemarahan dan kekecewaan menyelimuti umat Islam setelah salah satu program di stasiun televisi nasional, Trans7, dinilai melakukan pelecehan terhadap sosok kiai, tokoh mulia yang dihormati di tengah masyarakat pesantren. Dalam tayangan tersebut, kata-kata serta gestur yang ditampilkan dianggap merendahkan martabat seorang ulama. Seakan-akan kiai hanya bahan candaan di panggung hiburan.

 

Peristiwa ini bukan sekadar kasus salah ucap atau “lucu-lucuan”. Ia adalah pukulan telak bagi jutaan santri, jemaah, dan umat yang memuliakan kiai sebagai penjaga ilmu dan akhlak. Bagi masyarakat pesantren, kiai bukan selebritas, tetapi penjaga warisan Rasulullah, pembimbing rohani, dan pengayom umat. Ketika sosok semulia itu dijadikan bahan lelucon, maka sejatinya yang dihina bukan hanya individu, tetapi simbol kehormatan umat.

 

Lebih menyedihkan lagi, di saat masyarakat pesantren menjaga adab setinggi-tingginya, media justru menampilkan contoh sebaliknya. Para santri diajarkan untuk menundukkan pandangan dan merendahkan hati ketika berada di hadapan kiai. Sementara itu, layar kaca mengajarkan bahwa ulama boleh ditertawakan, dijadikan bahan sketsa, dan diposisikan sebagai tokoh yang layak diparodikan. Lalu, bagaimana nasib generasi yang belajar akhlak melalui media?

 

Inilah ironi negeri yang mayoritas penduduknya Muslim. Di panggung hiburan, agama menjadi komedi. Di jalanan, ustaz dan kiai sering dihina. Sementara di pesantren, anak-anak belajar mencintai ulama dengan air mata. Apakah media sudah lupa bahwa ulama adalah penjaga iman umat?

 

Kasus ini seharusnya membangunkan kesadaran bahwa ada yang salah dengan orientasi media hari ini. Rasa takut kepada Allah terkalahkan oleh rating. Adab terkalahkan oleh tepuk tangan penonton. Narasi “kebebasan berekspresi” dijadikan tameng untuk melecehkan kehormatan agama. Padahal, kebebasan tanpa batas hanya melahirkan barbar modern dan manusia bebas bicara, tetapi mati rasa terhadap adab.

 

Dalam Islam, kehormatan ulama harus dijaga. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda, tidak menghormati yang tua, dan tidak mengetahui hak ulama.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)

 

Negara yang menerapkan syariat secara kafah tidak akan membiarkan media bermain-main dengan kehormatan agama. Setiap produksi tayangan berada di bawah pengawasan yang menjunjung tinggi adab, akidah, dan moral umat. Karena dalam pandangan Islam, merusak akhlak masyarakat jauh lebih bahaya daripada merusak bangunan fisik.

 

Namun, selama negeri ini tunduk pada sistem kapitalisme liberal, agama akan terus menjadi korban. Hari ini kiai dihina, besok mungkin kitab suci diparodikan. Semuanya dianggap “konten” dan “hiburan”. Padahal, bagi umat Islam, itu adalah luka batin yang dalam.

 

Kasus Trans7 ini adalah alarm keras. Bukan sekadar soal permintaan maaf, melainkan pertanyaan besar untuk bangsa ini. Masihkah kita punya rasa hormat kepada ulama? Masihkah agama kita ditempatkan di atas rating dan panggung lawak?

 

Umat tidak hanya butuh klarifikasi, tetapi jaminan bahwa kehormatan agama benar-benar dilindungi. Bukan dengan edaran sesaat, melainkan sistem yang berpijak pada syariat, menjaga lisan, menghormati ulama, dan memuliakan agama. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Wida Rohmah,

Sahabat Tinta Media

 

Views: 23

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA