Tips Bijak Menggunakan AI agar Tidak Brainrot

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media- “Om Joy, bolehkah menulis opini pakai AI?” Pertanyaan itu hampir selalu muncul dalam pelatihan menulis opini yang saya bawakan dalam satu-dua tahun terakhir. Jawaban saya sederhana: “Boleh.” Namun, AI jangan dijadikan penulisnya. Perlakukan AI sebagaimana kita memperlakukan Google, yakni sebagai alat mencari referensi.

Bahkan, dalam banyak hal, AI lebih canggih daripada Google. AI mampu mencari informasi dari berbagai bahasa, merangkum isi artikel, membaca dokumen PDF, bahkan mengambil informasi dari video dan siaran radio daring. Namun, semua kemudahan itu tidak boleh membuat kita berhenti berpikir.

Jika setiap jawaban AI diterima begitu saja lalu di-copy-paste, kemampuan berpikir lama-kelamaan akan menurun. Inilah yang sering disebut brainrot. Dalam konteks penggunaan AI, brainrot dapat dipahami sebagai melemahnya tiga kemampuan berpikir sekaligus, yaitu bernalar (reasoning), menganalisis (analysis), dan memecahkan masalah (problem solving) karena terlalu bergantung pada jawaban instan.

Bernalar adalah kemampuan menyusun logika, menarik kesimpulan, dan menilai apakah suatu pendapat masuk akal. Menganalisis adalah kemampuan mengurai informasi, membandingkan berbagai bukti, serta menemukan hubungan sebab-akibat. Adapun memecahkan masalah adalah kemampuan mengenali persoalan, menyusun berbagai alternatif solusi, memilih yang paling tepat, lalu mengevaluasi hasilnya.

Karena itu, AI harus diposisikan sebagai asisten berpikir, bukan pengganti berpikir. Sepuluh tips berikut bertujuan menjaga, bahkan meningkatkan, ketiga kemampuan tersebut agar AI benar-benar menjadi brain booster, bukan penyebab brainrot.

Pertama, jadikan AI sebagai asisten, bukan pengganti otak.

Contoh:

Anda hendak menulis opini tentang kenaikan pajak. Sebelum membuka AI, rumuskan terlebih dahulu pendapat atau tesis yang ingin Anda sampaikan. Setelah itu, gunakan AI untuk mencari data pendukung dan data pembanding, bukan meminta AI menulis seluruh artikel.
Dengan cara ini, kemampuan bernalar dan memecahkan masalah tetap terasah.

Kedua, berpikirlah dulu, baru bertanya.

Contoh:

Jangan bertanya, “Buatkan artikel tentang ketahanan pangan.” Lebih baik bertanya, “Saya berpendapat impor pangan yang berlebihan dapat melemahkan kemandirian pangan. Tolong carikan data yang mendukung sekaligus data yang mengkritisi pendapat tersebut.” Dengan cara ini, kemampuan bernalar tetap terlatih karena AI membantu menguji, bukan menggantikan, pemikiran Anda.

Ketiga, selalu verifikasi informasi.

Contoh:

Biasakan meminta AI menyertakan tautan sumber. Setelah itu, buka dan baca sumber aslinya. Jangan hanya membaca ringkasan AI. Sering kali Anda akan menemukan data tambahan yang lebih penting, atau bahkan menemukan bahwa AI kurang tepat dalam mengutip atau menafsirkan isi sumber.
Dengan cara ini, kemampuan menganalisis tetap tajam karena Anda menilai informasi berdasarkan sumber aslinya, bukan sekadar mempercayai jawaban AI.

Keempat, gunakan AI untuk belajar, bukan sekadar menyalin.

Contoh:

Daripada meminta AI membuat artikel, mintalah AI menjelaskan latar belakang suatu persoalan, membandingkan beberapa pendapat, atau menerangkan istilah yang belum Anda pahami. Setelah itu, tulislah artikel dengan bahasa dan argumentasi Anda sendiri.

Dengan cara ini, kemampuan memecahkan masalah terus berkembang karena Anda memahami persoalannya, bukan sekadar menyalin jawabannya.

Kelima, tulislah dengan pikiran sendiri.

Contoh:

Buatlah draf pertama menggunakan bahasa Anda sendiri. Setelah selesai, gunakan AI untuk memperbaiki ejaan, tata bahasa, atau alur kalimat tanpa mengubah gagasan utama.
Dengan cara ini, kemampuan memecahkan masalah dan menyusun argumentasi tetap berkembang karena ide utama lahir dari pemikiran Anda sendiri.

Catatan:

Dalam pelatihan atau coaching penulisan opini, sebaiknya draf peserta tidak terlebih dahulu disunting oleh AI. Biarkan mentor, coach, maupun sesama peserta memberikan masukan melalui bedah naskah menggunakan Metode AKS. Tujuannya bukan hanya memperbaiki naskah, tetapi juga melatih peserta agar mampu menemukan kekuatan, kelemahan, dan cara memperbaiki tulisannya secara mandiri.

Keenam, jangan serahkan semua keputusan kepada AI.

Contoh:

AI mungkin menyarankan judul, sudut pandang, atau kesimpulan tertentu. Namun, keputusan akhir mengenai argumentasi, pemilihan data, dan kesimpulan tetap harus menjadi tanggung jawab penulis. Dengan cara ini, kemampuan bernalar dan memecahkan masalah tetap terjaga karena keputusan penting tetap berada di tangan Anda.

Ketujuh, jangan hanya mengandalkan AI.

Contoh:

Selain menggunakan AI, tetaplah membaca buku, jurnal, laporan resmi, atau hasil wawancara. AI mempercepat proses riset, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman belajar secara langsung. Dengan cara ini, kemampuan memecahkan masalah terus diperkaya oleh pengalaman belajar yang lebih luas.

Kedelapan, biasakan bertanya “mengapa”.

Contoh:

Jika AI menyatakan suatu kebijakan berhasil, jangan berhenti sampai di situ. Lanjutkan dengan pertanyaan, “Mengapa berhasil?”, “Apa indikatornya?”, “Apakah ada pendapat yang berbeda?”, dan “Apa kelemahannya?” Dengan cara ini, kemampuan bernalar dan menganalisis terus terasah karena Anda tidak puas dengan jawaban instan.

Kesembilan, gunakan AI untuk memperluas perspektif.

Contoh:

Mintalah AI mencari referensi dari jurnal ilmiah, laporan resmi, artikel berbahasa asing, atau media internasional. Jika diperlukan, minta AI menerjemahkan bagian yang relevan secara akurat. Dengan demikian, wawasan Anda menjadi lebih luas daripada hanya mengandalkan pencarian dalam bahasa Indonesia.

Dengan cara ini, kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah semakin kuat karena Anda melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

Kesepuluh, jangan berhenti berpikir hanya karena AI bisa menjawab.

Contoh:

AI dapat memberikan beberapa alternatif jawaban. Namun, memilih jawaban yang paling benar, paling adil, dan paling sesuai dengan fakta tetap menjadi tugas manusia. Dengan cara ini, kemampuan bernalar tetap menjadi pengendali utama, sedangkan AI hanya menjadi pendukung proses berpikir.

Berbagi Pengalaman

Berdasarkan pengalaman saya menggunakan AI dalam menyusun berbagai artikel opini, saya menyimpulkan bahwa AI adalah alat yang luar biasa jika digunakan dengan benar. AI mampu mempercepat pencarian referensi, menemukan sumber dari berbagai bahasa, merangkum informasi, hingga membantu menerjemahkan kutipan secara akurat.

Namun, AI bukanlah sumber kebenaran yang boleh dipercaya begitu saja. Saya masih menemukan jawaban yang kurang lengkap, bahkan sesekali tidak sesuai dengan sumber aslinya. Karena itu, saya selalu meminta AI menyertakan tautan referensi, lalu memeriksanya kembali sebelum digunakan.

Dari pengalaman itulah saya sampai pada satu kesimpulan. AI tidak pernah membuat manusia menjadi bodoh. Manusialah yang menjadi bodoh ketika berhenti berpikir karena terlalu bergantung pada AI. Karena itu, jadikan AI sebagai asisten yang rajin bekerja, bukan sebagai pengganti akal. Kemajuan teknologi seharusnya memperkuat kecerdasan manusia, bukan mengerdilkannya.[]

Depok, 17 Shafar 1448 H | 1 Agustus 2026 M

Oleh: 𝐉𝐨𝐤𝐨 𝐏𝐫𝐚𝐬𝐞𝐭𝐲𝐨
𝐉𝐮𝐫𝐧𝐚𝐥𝐢𝐬

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA