Tinta Media – Dilansir dari CNN Indonesia (7/2/2025), Tren #KaburAjaDulu belakangan ini ramai diperbincangkan di berbagai media sosial, khususnya X. Dalam sebulan terakhir, tagar ini kerap disertai ajakan untuk pindah ke luar negeri, baik melalui beasiswa pendidikan, peluang magang, lowongan pekerjaan, maupun cara lainnya.
Analisis dari Drone Emprit menunjukkan bahwa mayoritas pengguna tagar ini adalah generasi muda, dengan 50,81% berusia 19—29 tahun dan 38,10% di bawah 18 tahun. Cuitan mereka mencerminkan kekecewaan terhadap berbagai permasalahan di Indonesia, seperti sulitnya mendapatkan pekerjaan, rendahnya upah, tingginya biaya pendidikan, maraknya korupsi, serta kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
Kualitas pendidikan yang rendah di dalam negeri berbanding terbalik dengan banyaknya tawaran beasiswa ke luar negeri. Ini makin memperbesar peluang bagi generasi muda untuk “melarikan diri.” Demikian pula sulitnya mendapatkan pekerjaan di Indonesia sejalan dengan meningkatnya permintaan tenaga kerja di negara maju, baik untuk pekerjaan terampil maupun non-terampil, yang menawarkan gaji lebih tinggi.
Fenomena ini bukan sekadar tren di media sosial, tetapi mencerminkan realitas bahwa banyak anak muda serius mempertimbangkan untuk meninggalkan Indonesia demi kehidupan yang lebih baik. Bahkan, sebagian yang sudah menetap di luar negeri merasa enggan untuk kembali.
Dampak Brain Drain dan Kesenjangan Ekonomi
Fenomena #KaburAjaDulu menunjukkan bahwa Indonesia tengah mengalami brain drain, yaitu kondisi yang menunjukkan bahwasanya individu berbakat dan berpendidikan tinggi lebih memilih bekerja di luar negeri. Ini merupakan masalah umum di negara berkembang, di saat para ilmuwan, insinyur, hingga dokter meninggalkan tanah air demi kesejahteraan yang lebih baik.
Data Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkumham mencatat bahwa dalam kurun 2019—2022, sebanyak 3.912 WNI berusia 25—35 tahun memilih menjadi warga negara Singapura. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak anak muda berbakat lebih memilih menetap di luar negeri karena merasa tidak mendapatkan kesempatan yang layak di Indonesia.
Salah satu akar masalahnya adalah sistem ekonomi yang diterapkan. Kapitalisme telah menciptakan ketimpangan ekonomi yang signifikan, baik di dalam negeri maupun antara negara maju dan berkembang. Sumber daya alam yang seharusnya dapat menyejahterakan rakyat justru dikuasai oleh segelintir korporasi asing, sehingga rakyat hanya mendapatkan sisa dari eksploitasi tersebut.
Data menunjukkan bahwa 53% dana pihak ketiga (DPK) perbankan, yang mencapai Rp8.049 triliun hanya dikuasai oleh 0,02% populasi Indonesia. Sementara itu, kelompok 40% masyarakat terbawah mengalami penurunan kontribusi terhadap total pengeluaran, menunjukkan bahwa kesenjangan ekonomi semakin lebar.
Kapitalisme juga menyebabkan perbedaan kekayaan antara negara maju dan berkembang. Laporan Oxfam menyebutkan bahwa 1% orang terkaya dunia menguasai 45% kekayaan global, sedangkan hampir setengah populasi dunia hidup dengan kurang dari Rp112.031 per hari. Negara berkembang semakin terpuruk karena kekayaannya dibawa ke luar negeri dalam bentuk investasi, sementara rakyatnya harus mencari penghidupan di negara lain.
Solusi Islam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat
Islam menawarkan sistem ekonomi yang berbeda. Dalam sistem Islam, negara berperan sebagai pengurus rakyat (raa’in), yang bertanggung jawab memastikan kesejahteraan setiap individu. Negara wajib menjamin kebutuhan dasar, seperti sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan bagi seluruh warga.
Menurut Syekh Abdurrahman al-Maliki dalam As-Siyasatu al-Iqtishadiyatu al-Mutsla, negara harus memenuhi kebutuhan primer rakyat secara menyeluruh dan memastikan setiap individu memiliki kesempatan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, negara Islam akan beberapa hal, di antaranya:
Pertama, membuka lapangan kerja. Negara akan mengelola sumber daya alam secara mandiri dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk layanan publik dan subsidi kebutuhan dasar. Hal ini akan membuka peluang kerja bagi generasi muda.
Kedua, menyediakan pendidikan dan kesehatan gratis. Pendidikan dan kesehatan harus menjadi hak dasar yang dapat diakses oleh semua warga tanpa diskriminasi ekonomi. Dengan pendidikan berkualitas yang terjangkau, generasi muda dapat berkembang tanpa harus mencari kesempatan ke luar negeri.
Ketiga, mendukung industrialisasi dan pertanian. Negara akan mendorong industri dalam negeri agar dapat bersaing dan menyerap tenaga kerja lebih banyak. Sektor pertanian, peternakan, dan perdagangan juga akan diperkuat agar rakyat tidak bergantung pada impor.
Keempat, menjamin sistem ekonomi yang adil. Negara akan menghapus praktik ekonomi eksploitatif yang hanya menguntungkan segelintir orang. Dengan sistem distribusi kekayaan yang merata, tidak akan ada kesenjangan mencolok antara si kaya dan si miskin.
Dengan penerapan sistem ekonomi Islam, tidak akan ada lagi generasi muda yang merasa perlu #KaburAjaDulu demi mencari kehidupan yang lebih baik. Sebaliknya, negara akan menjadi tempat yang memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya. Wallahu a’lam bishshawab.
Oleh: Rosi Kuriyah
(Muslimah Peduli Umat)
![]()
Views: 32
















