Tinta Media – UTBK SNBT(Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes) atau tes masuk perguruan tinggi negeri telah usai. Namun sayangnya, hal itu menyisakan noda, tanda buruknya pendidikan kita. Meskipun peserta yang menyontek hanya 0,0071 persen dari 196.328 peserta ujian, tetap saja kecurangan ini mencoreng dunia pendidikan.
Peserta didik mencontek menandakan kelemahan integritas kepribadian mereka. Mencontek adalah aktivitas yang muncul dari ketidakpercayaan diri. Ketidakpercayaan diri muncul karena tidak paham akan pelajaran yang telah diperoleh. Ketidakpercayaan diri juga bisa disebabkan karena hanya berorientasi pada hasil, bukan pada proses, akhirnya menghalalkan segala cara.
Sebenarnya, mencontek bisa dihindari oleh siswa bila mereka memahami dengan baik semua materi yang didapatkan di kelas. Mereka harusnya menikmati proses belajar, bukan berorientasi nilai semata. Dalam proses belajar, banyak hal yang mereka peroleh untuk bekal di masa depan. Ilmu, pengetahuan, pembentukan karakter, dan kebiasaan positif adalah bekal siswa mengarungi tantangan hidup di masa depan. Rasa tidak percaya diri harusnya juga dikalahkan oleh konsekuensi bila dia berbuat curang. Bukan hanya konsekuensi yang bersifat sementara dan kasat mata, tetapi konsekuensi yang akan diterimanya kelak di dunia dan akhirat.
Sayangnya, silih bergantinya kurikulum di negeri ini tidak berhasil mencetak peserta didik yang memiliki kepercayaan diri sekaligus tanggung jawab yang tinggi. Pendidikan ala kapitalis mencetak siswa fokus menghasilkan materi.
Belajar menjadi beban di tengah kehidupan sekuler yang menawarkan kebebasan dan “having fun”. Meskipun lahir anak-anak pintar di sistem pendidikan sekuler, tetapi generasi jujur dan bertakwa semakin langka ditemui. Bukankah tingginya angka koruptur, kriminal dari kalangan berpendidikan mengindikasikan hal itu?
Ini berbeda dengan sistem pendidikan Islam. Sejak awal, pendidikan Islam bertujuan membentuk peserta didik berkepribadian Islam. Berkepribadian Islam berarti memiliki integritas yang tinggi. Kecerdasan dimiliki siswa karena motivasi yang tinggi. Mereka adalah calon pemimpin dunia yang menyebarkan rahmat ke seluruh alam. Pantang bagi seorang pemimpin memiliki kebiasaan mencontek saat sekolah, berbuat curang, berbohong, ogah-ogahan belajar, dan kebiasaan buruk lainnya.
Adakah kita pernah mendapatkan kisah di masa kejayaan Islam, tentang kebiasaan buruk pemimpin-pemimpin hebat umat Islam? Muhammad Al Fatih, sang Penakluk, sejak dini memiliki motivasi menuntut Ilmu yang kuat. Harun ar Rasyid mendidik putra-putranya menuntut ilmu dengan adab yang mulia kepada guru-gurunya. Semua itu didorong oleh Firman Allah Swt. di surat Al Mujadilah ayat 11.
“… Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Rasulullah Muhammad saw. juga mendorong umatnya untuk mencari ilmu dengan “iming-iming” ampunan dari Allah, serta kemuliaan dunia dan akhirat bagi orang-orang yang mencari ilmu.
Mencontek, berbuat curang adalah perbuatan yang dicela oleh Allah dan Rasulullah. Dalam sistem pendidikan Islam, peserta didik dijauhkan dari aktivitas mencontek, karena ujian untuk evaluasi belajar adalah ujian lisan, bukan tulisan. Peserta didik langsung “face to face” dengan guru atau pengujinya untuk mempertanggungjawabkan ilmu yang didapatkan. Makin berkembangnya teknologi tidak digunakan untuk curang, tetapi untuk memudahkan dalam belajar.
Pilihan ada pada kita, umat Islam. Indonesia Emas, bisakah terwujud dengan kebiasaan mencontek hasil sistem sekuler atau dengan kejujuran dan integritas tinggi hasil dari sistem pendidikan Islam?
Oleh: Khamsiyatil Fajriyah, S.Pd
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 17
















