Rusaknya Tatanan Keluarga, Hanya Islam yang Mampu Menjaga

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Jagat media sosial baru-baru ini diramaikan oleh munculnya sebuah grup di Facebook dengan nama Fantasi Sedarah. Isi grup tersebut berupa konten-konten ketertarikan seksual masing-masing kepada salah satu anggota keluarganya. Ada seorang ayah yang tertarik (secara seksual) pada anak perempuannya. Ada ibu yang tertarik pada anak lelakinya. Ada anak lelaki yang tertarik pada ibunya, dan lain lain. Mirisnya, jumlah anggota grup menyimpang tersebut kian hari kian bertambah. Namun, setelah grup tersebut menjadi viral di beberapa platform media sosial, pihak meta menghapusnya karena dianggap melanggar kebijakan mereka. (Tempo 19/5/25)

Nyatanya, hubungan sedarah atau inses di Indonesia tidak hanya berhenti sampai tertarik saja. Banyak kasus yang beredar terkait fakta pelecehan seksual yang telah dilakukan oleh lingkaran terdekat sendiri, yakni keluarga, baik dengan paksaan ataupun sama-sama berkeinginan untuk melakukan. Di antara fakta hubungan inses tersebut, yaitu kakak dan adik di Medan yang kemudian terlahir bayi di bulan Mei 2025. Ada juga kasus antara ayah dan anak di Banyumas hingga ayah membunuh tujuh bayi hasil hubungan dengan anaknya sendiri pada Juni dua tahun silam. (Tempo 19/5/25)

Munculnya berita-berita tentang hubungan inses yang makin banyak ini menjadikan rasa aman di dalam rumah telah sirna. Rumah yang seharusnya bisa menjadi tempat pulang yang paling aman dan tenang dari segala liarnya kehidupan luar, justru memungkinkan membawa diri terperosok ke dalam kerusakan. Terlebih lagi, pelakunya adalah orang yang seharusnya menjadi pelindung bagi masing-masing anggota keluarganya.

Hilangnya Fungsi Keluarga

Dari sini bisa terlihat bahwa munculnya grup-grup amoral di media sosial, sejatinya merupakan refleksi dari apa yang terjadi di dunia nyata. Masyarakat saat ini tengah mengalami degradasi moral, memberi dampak hilangnya fungsi sebuah keluarga. Lebih parah lagi, hal itu telah merusak bangunan keluarga itu sendiri.

Anak kepada orang tua memiliki hubungan yang mulia, begitu pun sebaliknya. Kakak dan adik memiliki hubungan persaudaraan. Masing-masing memiliki peran begitu hangat. Namun, saat ini peran tersebut mulai terkikis oleh fantasi liar yang tidak terkendali. Bukan hanya bangunan keluarga yang berada di ambang kehancuran, tetapi juga bangunan masyarakat, negara, bahkan peradaban manusia yang agung nan mulia dapat terganti oleh binatang yang hidup tanpa aturan.

Kondisi seperti itu tidak mengejutkan terjadi dalam sistem sekuler, yakni pemisahan agama dari kehidupan. Ketika seseorang menjalani kehidupan tanpa melibatkan agama, maka sudah barang tentu segala tindak tanduknya adalah penyelewengan yang bisa merusak diri dan lingkungan. Tidak ada lagi rasa takut dalam melakukan perbuatan haram.

Ini tentu sangat disayangkan, mengingat Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Namun, justru aturan Islam itu sendiri yang masih banyak dilanggar. Masyarakat hidup dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan kepuasan individu. Alhasil, keluarga telah rusak danan sistem keluarga muslim telah hancur.

Abainya Negara Menjaga Keluarga

Dalam sebuah keluarga, masing-masing anggota punya hak dan kewajiban. Mereka memiliki peran sendiri-sendiri yang harus dijalankan dengan baik. Ayah sebagai kepala keluarga berkewajiban mencari nafkah. Ia adalah pahlawan dalam keluarga yang diharapkan dapat melindungi keluarganya. Ibu sebagai madrasatul ula. Selain memastikan anak anak kenyang dan bersih, tentu ibu berperan penting dalam penanaman akidah dan tarbiyah para buah hati.

Dalam negara dengan asas kapitalis sekuler saat ini, figur orang tua ideal itu telah hilang. Sosok ayah terlihat menghancurkan masa depan anaknya sendiri. Pun peran ibu yang mengasuh anak-anak ala kadarnya tanpa memandang penting untuk lebih dulu mengilmui diri. Segala ketidak-ideal-an ini tidak terlepas dari abainya peran negara dalam pengurusan urusan rakyat. Negara gagal dalam membentengi akidah umat.  Negara membiarkan rakyat pontang-panting merasakan tekanan, sehingga melupakan peran-peran dan pendidikan dalam sebuah keluarga.

Islam Menjaga Kehormatan

Sungguh sempurna Islam dengan segala aturannya dalam kehidupan. Dalam satu rumah, Islam tetap mengatur batas-batas tertentu demi menjaga kehormatan antaranggota keluarga. Di antara penjagaan tersebut adalah menetapkan batasan aurat antara orang tua dan anak, pun antara kakak dan adik, dsb.

Islam juga memisahkan tempat tidur antara anak perempuan dengan anak laki-laki. Selain itu, anak juga diupayakan untuk dipisah tempat tidur dari orang tua. Dengan penjagaan pergaulan di dalam rumah seperti itu, maka ketertarikan sedarah ini akan terminimalisir.

Dalam menjaga kehormatan, dukungan dari negara sangat dibutuhkan. Dalam Islam, negara akan menutup seluruh akses yang dapat memicu timbulnya penyimpangan, termasuk dalam hal hubungan inses. Seperti, menetapkan batasan dalam rumah, kemudian penyaringan konten-konten dalam media, dll.

Tidak bisa dimungkiri bahwa media merupakan alat paling berperan dalam menyajikan konten-konten menyimpang, seperti konten seksual yang membangkitkan syahwat. Maka, dalam Islam, media hanya boleh menayangkan konten-konten positif, termasuk membangun kesadaran masyarakat terkait pentingnya menjaga Izzah dan muru’ah diri.

Selain itu, lingkungan dalam Islam membentuk masyarakat yang islami, yakni senantiasa menyuarakan amar makruf nahi mungkar. Dengan kepedulian lingkungan seperti itu, tentu akan terbentuk pribadi-pribadi yang senantiasa bertakwa dan terhindar dari aktivitas kemaksiatan.

Individu yang bertakwa, tatanan keluarga yang sesuai fungsinya, lingkungan yang mendukung, tetap tidak akan sempurna jika negara tidak turun tangan juga. Oleh karena itu, selanjutnya di dalam Islam, negara menerapkan sanksi bagi para pelaku kemaksiatan, dalam hal ini inses dengan sangat tegas. Dalam Islam, aturan berikut sanksi sudah ada. Namun, dalam penerapannya, kita membutuhkan sebuah institusi sehingga segala aturan Islam dapat ditegakkan dan Islam dijadikan rujukan dalam penyelesaian berbagai problematika kehidupan. Maka dari itu, satu-satunya penyelesaian yang solutif adalah kembali pada hukum Allah Swt. Allahu a’lam bishawab.

 

Oleh: Nabilah Ummu Yazeed,

Sahabat Tinta Media

Views: 23

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA