Tinta Media – Pemerintah Mesir dilaporkan mendeportasi puluhan aktivis yang berencana mengikuti konvoi kemanusiaan dengan tujuan melawan blokade Israel di jalur Gaza. Aksi Global March to Gaza yang dimulai pada Minggu 15 Juni lalu bertujuan untuk menekan pihak-pihak terkait agar membuka blokade Gaza yang digempur Israel sejak Oktober 2023.
Namun, respons yang diterima oleh para aktivis dari pemerintah Mesir adalah dengan merazia, menangkap, dan mendeportasi mereka, tanpa mengungkapkan alasan yang jelas. Seorang advokat asal Aljazair, Fatima Rouibi menyatakan bahwa tiga koleganya ditahan di bandara, sedangkan aktivis Tunisia yang tinggal di Jerman, Bilal Nieh mengaku bahwa mereka juga dideportasi bersama tujuh rekannya asal Afrika Utara yang juga memegang paspor Eropa.
Munculnya gerakan Global March to Gaza (GMTA) menunjukan kemarahan masyarakat dunia yang sangat besar, ketika menyaksikan keadaan masyarakat di Gaza. Kondisi anak-anak ditembaki tatkala berlari mencari bantuan makanan. Anak-anak malang ini malah dikatakan oleh Amerika kepada dunia sebagai “korban sipil yang tidak terhindarkan demi memberantas teroris”. Kelaparan melanda, mengakibatkan setiap hari ada jiwa yang melayang tanpa ada yang menolong. Para pemimpin negeri-negeri muslim diam, jikapun ada yang yang merespon, hanya beretorika tanpa ada tindakan nyata. Hal ini menandakan bahwa Gaza tidak bisa berharap kepada mereka dan juga kepada lembaga-lembaga internasional.
Oleh karena itu, ribuan relawan dari berbagai negara berkumpul di Afrika Utara, bergerak menuju Rafah untuk memberi bantuan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya, sebagai reaksi kepedulian mereka atas dasar kemanusiaan. Namun, pemerintah Mesir telah menyatakan akan mencegat konvoi itu, tidak akan membiarkan mereka sampai ke Rafah.
Tertahannya mereka di pintu Rafah justru semakin menunjukan bahwa gerakan-gerakan kemanusiaan apa pun tidak akan pernah bisa menjadi solusi untuk masalah Gaza, karena ada pintu penghalang terbesar yang berhasil dibangun penjajah di negeri-negeri muslim, yaitu nasionalisme dan negara bangsa, yang memisahkan negeri-negeri muslim menjadi beberapa negara kecil yang terpecah-belah.
Akibatnya, tidak ada keperdulian kepada saudara seakidah, karena berbeda negara. Mereka menganggap bahwa masalah Gaza bukan masalah mereka. Paham nasionalime telah memupus hati nurani para penguasa muslim dan tentara mereka, hingga rela membiarkan saudaranya dibantai di hadapan mata mereka, bahkan ikut menjaga kepentingan pembantai hanya demi meraih keridaan negara adidaya yang menjadi tumpuan kekuasaan mereka, yakni Amerika.
Umat Islam harusnya memahami betapa bahayanya paham nasionalisme dan konsep negara bangsa ini, baik dilihat dari segi pemikiran maupun sejarahnya. Keduanya justru digunakan oleh musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan kekuasaan Islam (Khilafah) di masa lalu, dan kemudian melanggengkan penjajahan di negeri-negeri Islam, baik dengan penjajahan secara fisik maupun pemikiran untuk memorak-porandakan kaum muslimin agar tercerai berai.
Umat Islam banyak, tetapi bagai buih di lautan, banyak tetapi tidak mempunyai kekuatan. Mereka bagai hidangan yang diperebutkan oleh para kafir penjajah. SDA mereka dirampas. Negeri mereka dihancurkan. Moral mereka dirusak. Ekonomi mereka dimiskinkan.
Paham nasionalime ini menjadikan para pemimpin kaum muslimin tunduk kepada negara adidaya, yaitu Amerika, sebagai negara penjajah dan menjadikan mereka sebagai antek-antek penjajah yang siap melayani kepentingan penjajah, bukan kepentingan umat.
Oleh karena itu, upaya yang harus dilakukan oleh umat untuk menyelesaikan masalah penjajahan Israel atas Palestina haruslah bersifat politik, yakni fokus membongkar bahaya dari paham nasionalisme dan menghilangkan sekat negara bangsa, dengan mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia.
Untuk itu, sangat urgen untuk mendukung dan bergabung dengan gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa kenal sekat dan terbukti konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik Islam tersebut di berbagai wilayah dunia. Gerakan inilah yang akan memahamkan umat bahwa hanya Islam ideologis satu-satunya solusi untuk mempersatukan umat dalam sebuah institusi Khilafah Islamiyyah dan membebaskan Palestina dari penjajahan Israel.
Melalui Khilafah inilah, negara Islam yang dikomandoi oleh seorang khalifah akan memobilisasi tentara dalam bentuk jihad membebaskan Palestina, dan negeri-negeri muslim lainnya yang dijajah oleh negara kafir penjajah.
Allah Swt berfirman, “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian.” (TQS Al-Baqarah ayat 190).
Artinya, sudah menjadi sebuah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin di dunia ketika negeri kaum muslimin diserang dan dijajah seperti Palestina, untuk mengusir dan memerangi Zionis Yahudi.
Dan Nabi saw. juga menegaskan dalam hadisnya,
“Sungguh, jika manusia melihat seorang zalim, lalu mereka tidak mencegah tangannya, Allah nyaris akan menimpakan azabnya kepada mereka semuanya” (HR Abi Dawud dan at-Tirmizi).
Artinya, ketika seorang muslim membiarkan kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang kafir seperti Israel laknatullah, maka akan datang azab Allah yang akan menimpa semua orang. Wallahu alam bis shawab.
Oleh: Elah Hayani
Sahabat Tinta Media
Views: 28
















