Tinta Media – Analis Senior Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Fajar Kurniawan menegaskan, keadilan ekologis (lingkungan hidup) mustahil diwujudkan dalam sistem kapitalisme yang diterapkan pada hari ini.
“Mari kita hadapi kenyataan pahit bahwa keadilan ekologis mustahil kita wujudkan dalam sistem yang kita pakai hari ini, yaitu kapitalisme,” ujarnya dalam video bertajuk “Bumi, Air, dan Kekayaan Alam” di kanal YouTube Khilafah News, Kamis (13/11/2025).
Sebab, Fajar menjelaskan, kapitalisme memiliki tujuan tunggal, yakni akumulasi modal tanpa batas dengan motif keuntungan tanpa akhir, alam, lingkungan, dan manusia akhirnya menjadi korban.
Kapitalisme, sebutnya, tidak melihat hutan sebagai paru-paru bumi, tetapi sebagai komoditas mentah yang harus diubah menjadi uang secepat mungkin.
“Lihat data ini di Indonesia yang membuktikan dominasi brutal oligarki! Yang pertama, ketimpangan kekayaan. 1% orang terkaya di Indonesia menguasai sekitar 50% hingga 60% kekayaan nasional. Ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat ketimpangan terburuk di dunia,” bebernya.
Kedua, lanjut Fajar, monopoli sumber daya alam (SDA) di sektor pertambangan. “Dilaporkan 44% dari luas kepulauan dan darat Indonesia telah dikuasai oleh segelintir pemilik konsesi pertambangan,” imbuhnya.
Ketiga, sebut Fajar, persekongkolan “pengpeng” (pengusaha dan penguasa) di banyak kasus konflik agraria dan kerusakan lingkungan.
“Ini adalah paradoks sistemik. Selama keuntungan menjadi Tuhan yang disembah, selama itu pula alam akan terus dikorbankan,” tandasnya.
*Solusi*
Fajar pun menyatakan, kerusakan lingkungan tidak akan selesai selama sumber masalah tidak dihentikan. Solusinya bukan sekadar menanam pohon atau mendaur ulang sampah, tetapi mengganti sistem ekonomi kapitalisme yang rakus.
Ia menekankan perlunya sistem yang menjamin keadilan distribusi dan menempatkan nilai di atas harga.
“Solusi fundamental adalah mengganti sistem ekonomi yang rakus dan hanya menguntungkan oligarki ini dengan sistem yang pertama menjamin keadilan distribusi yaitu memastikan kekayaan alam dikelola oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat,” jelasnya.
Yang kedua, sambungnya, adalah menempatkan nilai atau value di atas harga mengganti motif profit dengan motif kemaslahatan dan keberlanjutan.
“Sudah saatnya kita berani mengatakan kapitalisme itu memang musuh yang nyata bagi keadilan ekologis. Kita butuh sistem ekonomi yang menjamin keadilan dan pemerataan. Bukan sistem yang melanggengkan oligarki,” tutupnya.[] Muhar
![]()
Views: 50
















