Deforestasi dan Banjir Sumatra: Musibah Akibat Keserakahan Manusia

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…” (QS ar-Rum: 41)

 

Ayat ini seolah sengaja turun untuk zaman kita. Banjir besar yang kembali memukul Sumatra akhir 2025 menegaskan bahwa yang rusak bukan hanya alam, tetapi juga cara kita memperlakukannya. Musibah itu bukan sekadar hujan deras, melainkan refleksi dari kerusakan yang sudah lama kita rawat tanpa rasa bersalah.

 

Deforestasi kini menjelma penyakit ekologis kronis. Dan seperti AIDS yang melemahkan daya tahan tubuh manusia, hilangnya hutan melemahkan daya tahan alam. Maka, pertanyaannya pun menggantung: A.I.D.S—Apakah Ini Dibiarkan Saja?

 

Deforestasi: Sederhana namun Mematikan

 

Deforestasi dapat dipahami secara sederhana sebagai hilangnya hutan karena pohon ditebang atau dibakar, lalu lahannya digunakan untuk hal lain—seperti kebun sawit, tambang, perumahan, atau infrastruktur. Artinya, hutan itu tidak hanya ditebang sementara; ia benar-benar hilang sebagai hutan dan fungsi ekologisnya lenyap.

 

Hutan yang seharusnya menjadi “spons raksasa” penahan air dan penjaga tanah berubah menjadi hamparan lahan panas dan keras. Tak heran jika sedikit hujan saja membuat air langsung meluncur liar tanpa dapat ditahan. Di titik inilah banjir bukan lagi kecelakaan alam, tetapi konsekuensi dari ulah manusia.

 

Data yang Membuka Mata

 

Data resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan betapa seriusnya kerusakan itu. Sepanjang 2024, Indonesia kehilangan 175.400 hektare hutan secara netto. Dari deforestasi bruto 216.200 hektare, hanya 40.800 hektare yang kembali ditanami.

 

Angka tersebut setara dengan lenyapnya ribuan lapangan sepak bola setiap hari. Lebih mengkhawatirkan lagi, lebih dari 92% kerusakan terjadi di hutan sekunder, dan hampir 70% berada di kawasan yang secara hukum seharusnya dilindungi.

 

Dengan kondisi demikian, banjir Sumatra 2025 bukanlah kejutan. Ia adalah hasil logis dari persamaan yang terus kita abaikan: hilang hutan = hilang resapan = banjir besar.

 

Musibah Kausal, Bukan Kebetulan

 

Dalam perspektif Islam, sebagian musibah datang sebagai ketentuan Allah, sebagian lainnya lahir dari ulah manusia. Banjir yang berulang di negeri ini jelas termasuk kategori kedua.

 

Hujan adalah rahmat. Yang menjadikannya bencana adalah tangan manusia yang merusak penyangga alam. Kita seperti merobek payung sendiri, lalu marah ketika kehujanan. Manusia mengingkari tugasnya sebagai khalifah penjaga bumi. Pohon ditebang, bukit digunduli, sungai dipersempit, dan hutan dikaveling untuk kepentingan modal. Pada akhirnya, rakyat kecil yang menerima dampaknya.

 

Ketika Syariat Ditinggalkan, Alam pun Rusak

 

Sistem pengelolaan tanah dalam Islam sesungguhnya sangat jelas:

 

1. Tanah mati wajib dihidupkan, bukan ditimbun untuk spekulasi.

2. Tanah yang ditelantarkan tiga tahun dapat ditarik negara.

3. Hutan, tambang, dan sumber air adalah milik umum, tak boleh dikuasai segelintir pihak.

4. Negara wajib membantu rakyat menggarap tanahnya, bukan mempermudah korporasi menguasai jutaan hektare.

5. Penyewaan lahan pertanian dilarang agar tanah tetap produktif.

 

Namun, realitas hari ini justru sebaliknya. Pintu investasi dibuka lebar, sementara pintu perlindungan alam seolah ditutup rapat. Kerusakan lingkungan hanyalah akibat dari sistem pengelolaan yang jauh dari prinsip syariat.

 

Banjir Sumatra 2025: Alarm dari Bumi

 

Yang terjadi di Sumatra bukan sekadar bencana tahunan. Itu adalah tanda bahwa tubuh bumi semakin lemah karena organ vitalnya—hutan—terus dihabisi.

 

Jika deforestasi terus berjalan, kita bukan hanya hidup berdampingan dengan bencana; kita sedang menyiapkan undangan untuk bencana berikutnya.

 

*Penutup: Jangan Menunggu Stadium Akhir*

 

Deforestasi sebagai A.I.D.S ekologis bukan sekadar kiasan. Ia nyata. Dan seperti penyakit berbahaya, jika tak dihentikan, ia dapat membawa kita pada kondisi yang tak lagi bisa dipulihkan.

 

Saatnya berhenti pura-pura tidak tahu. Saatnya berhenti menyalahkan hujan. Saatnya kembali pada aturan Allah yang menjaga bumi, bukan merusaknya. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Sofian Siregar,

Direktur LSM Lingkar Studi Mabda dan Alumnus Akademi Penulis Ideologis

Loading

Views: 47

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA