Tinta Media – Musibah yang menimpa sebagian wilayah Sumatra menjelang Ramadan menyisakan duka mendalam. Dalam beberapa bulan terakhir, banjir bandang dan tanah longsor melanda berbagai daerah di Pulau Sumatra. Di Provinsi Aceh, wilayah seperti Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Timur, dan Aceh Utara terdampak akibat curah hujan tinggi. Di Sumatra Utara, bencana juga melanda Kabupaten Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, serta kawasan sekitar Kota Medan. Sementara itu, di Sumatra Barat, banjir dan longsor terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan, Agam, Tanah Datar, serta wilayah sekitar Kota Padang dan Padang Pariaman.
Ribuan rumah terendam, akses jalan dan jembatan terputus, lahan pertanian rusak, serta fasilitas umum seperti sekolah dan masjid terdampak. Puluhan ribu warga harus mengungsi dan menghadapi keterbatasan air bersih, logistik, serta layanan kesehatan. Sebagian keluarga bahkan kehilangan anggota tercinta dan mata pencaharian.
Air mata dan tenda darurat menjadi pemandangan yang menyayat hati. Momentum persiapan menyambut bulan suci berubah menjadi hari-hari penuh kecemasan. Namun, bagi seorang mukmin, musibah bukanlah akhir. Ia adalah panggilan untuk merenung dan kembali kepada Allah Swt.
Allah Swt. berfirman, “Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah: 155)
Ayat ini menegaskan bahwa ujian adalah bagian dari _sunnatullah_. Musibah bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk mengangkat derajat orang-orang yang sabar dan beriman.
Bencana alam bukan sekadar fenomena yang berdiri sendiri. Dalam pandangan Islam, ia juga dapat menjadi peringatan agar manusia kembali kepada aturan Allah. Allah Swt. berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41)
Ayat ini menjadi renungan mendalam. Banyak bencana diperparah oleh alih fungsi hutan, pembukaan lahan tanpa kendali, lemahnya pengawasan tata ruang, serta eksploitasi sumber daya alam. Ketika kawasan hulu rusak dan daerah resapan berkurang, hujan lebat berubah menjadi ancaman.
Sumatra adalah negeri yang kaya dengan hutan, tambang, dan tanah subur. Namun, ironisnya, rakyat justru kerap menjadi korban bencana berulang. Kekayaan alam seharusnya membawa kesejahteraan, bukan malapetaka.
Islam memandang alam sebagai amanah. Rasulullah saw. bersabda, “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan bahwa sumber daya vital tidak boleh dimonopoli demi keuntungan segelintir pihak. Pengelolaannya harus berorientasi pada kemaslahatan umat.
Menjelang Ramadan, kaum Muslim seharusnya menyambut bulan suci dengan hati yang tenang. Namun, bagi saudara-saudara kita di Aceh Tengah, Deli Serdang, Pesisir Selatan, Tanah Datar, dan wilayah terdampak lainnya, Ramadan mungkin dijalani di pengungsian.
Di sinilah solidaritas umat diuji. Rasulullah saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai dan mengasihi adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR Bukhari dan Muslim)
Solidaritas tidak boleh berhenti pada bantuan darurat. Ia harus meluas menjadi kesadaran kolektif untuk menghadirkan solusi jangka panjang. Membangun kembali rumah yang roboh memang penting, tetapi membangun kembali sistem kehidupan yang selaras dengan syariat jauh lebih mendasar.
Allah Swt. berfirman, “Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.” (QS Thaha: 124)
Kehidupan yang sempit bukan hanya kemiskinan materi, tetapi juga ketidakadilan, kegelisahan, dan rentannya masyarakat terhadap krisis. Ketika aturan Allah diabaikan dan diganti dengan sistem yang sarat kepentingan manusia, keberkahan pun dicabut.
Ramadan adalah bulan kembali—kembali kepada Al-Qur’an, kembali kepada ketaatan, kembali kepada aturan Allah secara kafah. Allah Swt. berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kafah) …” (QS Al-Baqarah: 208)
Islam bukan sekadar ritual ibadah, tetapi sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk pengelolaan sumber daya alam dan perlindungan rakyat. Dalam Islam, pemimpin adalah pengurus dan pelindung rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Musibah di Sumatra hendaknya menjadi momentum muhasabah kolektif. Dari Aceh hingga Sumatra Barat, dari pegunungan hingga pesisir, duka yang sama mengingatkan bahwa keselamatan rakyat tidak boleh dipertaruhkan.
Sudah saatnya umat Islam tidak hanya sibuk pada pemulihan fisik pascabencana, tetapi juga melakukan perbaikan mendasar dalam cara pandang dan tata kelola kehidupan. Alam bukan objek eksploitasi tanpa batas, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
Semoga musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Sumatra menjadi titik balik kebangkitan umat. Dari musibah menuju berkah. Dari derita menuju taat. Dari kelalaian menuju kesadaran. Semoga Ramadan kali ini benar-benar menjadi momentum kembali kepada Islam secara kafah agar keberkahan Allah kembali tercurah ke negeri ini. Wallahualam bissawab.
Oleh: Imma Kurniati
Pejuang Dakwah Muslimah Banyumas
![]()
Views: 20
















