Sekularisme: Akar Luka Ibu dan Kebingungan Generasi

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ada sesuatu yang sesungguhnya sedang tidak baik-baik saja dengan umat ini. Kita mungkin jarang mengucapkannya secara jujur, apalagi mengakuinya. Namun jika ditelisik lebih dalam—terutama pada kaum ibu dan generasi muda—krisis itu terasa nyata, bahkan menyakitkan. Krisis ini bukan semata persoalan akhlak, bukan pula sekadar dampak perkembangan zaman. Ia adalah krisis arah hidup, jati diri, dan krisis peran yang diproduksi secara sadar dan tersistem.

 

Generasi muda muslim hari ini hidup dalam dunia yang bising, serba cepat, dan penuh distraksi. Di ruang digital, identitas dibentuk oleh algoritma; nilai hidup ditentukan oleh jumlah pengikut, validasi publik, dan tren sesaat. Islam, jika pun hadir, sering kali hanya menjadi simbol di bio media sosial, hadir di momen seremonial, atau tersimpan di sudut hati yang tak pernah benar-benar memandu pilihan hidup. Sekularisasi bekerja secara halus namun efektif, memisahkan agama dari cara berpikir, sikap politik, dan visi perubahan. Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas secara teknis, tetapi bingung menjawab untuk apa ia hidup dan ke mana seharusnya melangkah.

 

Di sisi lain, kaum ibu berada pada posisi yang tak kalah tragis. Sistem kapitalisme memuji perempuan dengan satu tangan, namun melukai mereka dengan tangan yang lain. Ibu didorong untuk “berdaya”, tetapi didefinisikan secara sempit: harus produktif secara ekonomi, mandiri secara finansial, dan selalu tampak kuat. Pada saat yang sama, peran keibuan diremehkan; kerja domestik dianggap beban; mendidik generasi tak lagi dipandang sebagai misi peradaban, melainkan urusan pribadi yang tak bernilai ekonomi.

 

Tak sedikit ibu akhirnya kelelahan, bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin. Mereka terjepit antara tuntutan sistem dan naluri fitrah. Mereka ingin hadir sepenuhnya untuk anak-anaknya, namun sistem memaksa mereka terus berlari tanpa henti. Ironisnya, ketika generasi tumbuh rapuh, ibu pula yang disalahkan. Inilah wajah kejam kapitalisme: menciptakan masalah, lalu melemparkan rasa bersalah kepada individu.

 

Masalah ini jelas bukan terletak pada kurangnya motivasi, literasi digital, atau pelatihan keterampilan. Akar persoalannya jauh lebih dalam. Digitalisasi hari ini berjalan di bawah kendali ideologi kapitalisme global. Ia bukan alat netral, melainkan membawa nilai, cara pandang, dan tujuan—keuntungan, dominasi, serta penjajahan pemikiran. Negara yang berdiri di atas asas sekularisme dengan sadar membatasi peran agama, meminggirkannya ke ruang privat, dan menyingkirkannya dari urusan publik. Islam tidak diberi ruang untuk membentuk generasi secara utuh.

 

Dalam sistem semacam ini, kaum ibu dan generasi muda tidak dipersiapkan sebagai pengemban risalah, melainkan dijadikan objek pasar. Mereka dikomodifikasi, dieksploitasi, lalu ditinggalkan dalam kebingungan eksistensial. Maka wajar jika kita menyaksikan kecemasan kolektif, krisis mental yang masif, serta kekosongan makna hidup yang kian meluas.

 

Di sinilah urgensi jemaah dakwah Islam ideologis tak bisa lagi ditawar. Di tengah sistem yang merusak fitrah manusia, umat membutuhkan jemaah yang bukan sekadar menyeru pada kebaikan individual, tetapi membina kesadaran ideologis. Jemaah yang menanamkan Islam sebagai cara berpikir, bersikap, dan memperjuangkan perubahan.

 

Allah Swt. tidak menyerahkan tugas perubahan ini kepada individu-individu yang tercerai-berai. Dalam QS. Ali Imran ayat 104, Allah memerintahkan adanya segolongan umat—jemaah—yang terorganisasi, memiliki visi, dan bergerak secara sadar untuk amar makruf nahi mungkar. Ini bukan seruan tanpa arah, melainkan perintah strategis untuk perubahan sistemis.

 

Rasulullah saw. telah memberi teladan yang jelas. Dakwah beliau tidak dimulai dengan perebutan kekuasaan, melainkan dengan pembinaan intensif (tatsqif). Beliau membentuk para sahabat dengan akidah Islam yang jernih dan ideologis, hingga lahir pribadi-pribadi yang kukuh, berani melawan arus, dan siap memikul amanah peradaban. Dari pembinaan inilah lahir generasi yang mampu menantang sistem jahiliah, berinteraksi dengan umat, dan akhirnya menegakkan Islam sebagai sistem kehidupan.

 

Metode ini bukan romantisme sejarah. Ia justru relevan dan mendesak hari ini. Kaum ibu membutuhkan pembinaan yang memulihkan peran strategis mereka sebagai pendidik generasi dan penjaga peradaban. Generasi muda membutuhkan dakwah yang membangkitkan kesadaran, bukan sekadar konten inspiratif yang cepat dilupakan. Mereka membutuhkan Islam yang hidup, ideologis, dan membebaskan.

 

Tanpa jemaah dakwah Islam ideologis, umat akan terus berputar dalam solusi-solusi tambal sulam. Namun dengannya, kaum ibu dan generasi muda dapat bangkit sebagai pelopor perubahan—bukan hanya menyelamatkan diri mereka sendiri, tetapi turut memperjuangkan kebangkitan Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Devita Nur Arini Kusumah, S.Pd.

Sahabat Tinta Media 

Loading

Views: 38

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA