Tinta Media – Arus globalisasi yang masif telah menjauhkan generasi muda muslim dari jati dirinya. Arus ini tidak hanya hadir dalam realitas kehidupan sehari-hari, tetapi juga semakin kuat di ruang digital. Media sosial dan berbagai platform digital menjadi saluran utama masuknya nilai-nilai yang kerap bertentangan dengan ajaran Islam.
Kondisi ini diperparah oleh melemahnya peran kaum ibu yang turut menjadi korban sistem. Ibu tidak lagi diposisikan sebagai ummun wa rabbatul bait serta pendidik generasi, melainkan direduksi menjadi objek ekonomi dan konsumerisme. Tekanan ekonomi dan standar hidup materialistis memaksa banyak ibu menjauh dari fungsi strategisnya dalam membentuk kepribadian Islam anak-anaknya.
Beberapa faktor yang menyebabkan generasi muda kehilangan jati dirinya sebagai muslim antara lain pengaruh media sosial dengan paparan konten non-Islam yang kuat sehingga memengaruhi nilai dan perilaku. Selain itu, minimnya pendidikan agama juga menyebabkan lemahnya pemahaman Islam. Gaya hidup sekuler yang berorientasi duniawi tanpa landasan spiritual, arus globalisasi budaya asing tanpa filter nilai Islam, serta kurangnya figur teladan yang mampu mengintegrasikan iman dengan kehidupan nyata, turut memperparah krisis identitas generasi saat ini.
Ibu yang seharusnya menjadi pilar utama dalam mendidik anak agar memiliki kepribadian islami, justru terpinggirkan dan mudah terbawa arus sistem yang merusak. Karena itu, Islam hadir dengan solusi yang menyeluruh, bukan parsial, untuk mengembalikan peran ibu sekaligus menyelamatkan generasi muda dari krisis jati diri.
Islam memuliakan ibu sebagai pendidik pertama dan utama bagi generasi. Peran ini tidak sebatas mengurus urusan domestik, tetapi mencakup pembentukan akidah, akhlak, dan cara pandang anak terhadap kehidupan. Ketika ibu memahami bahwa mendidik anak adalah amanah besar sekaligus ibadah bernilai tinggi di sisi Allah Swt., maka rumah akan menjadi madrasah pertama yang menanamkan nilai-nilai Islam sejak dini.
Islam juga menekankan pentingnya pendidikan berbasis akidah. Anak-anak dan generasi muda perlu dikenalkan pada Islam bukan hanya sebagai ritual ibadah, tetapi sebagai way of life. Dengan pemahaman tauhid yang kuat, generasi muda akan memiliki filter dalam menghadapi arus media sosial, budaya global, dan gaya hidup sekuler yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Dengan demikian, membina ibu berarti membina generasi, dan membina generasi berarti menyiapkan perubahan peradaban. Ketika ibu dan generasi muda kembali kepada Islam secara utuh, mereka tidak hanya menjadi objek perubahan, tetapi pelopor perubahan yang membawa kebaikan bagi umat dan masyarakat. Wallahualam bissawab.
Oleh: Wina Audina
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 36
















