Tinta Media – Dalam pandangan Islam, kepemimpinan merupakan amanah besar dari Allah Swt. untuk membimbing, melindungi, dan mengurus rakyat. Seorang pemimpin dituntut memiliki sifat siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas), serta berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunah dalam menegakkan keadilan dan kesejahteraan. Pemimpin harus peduli, visioner, dan bertanggung jawab penuh atas umatnya, serta wajib ditaati selama tidak memerintahkan kemaksiatan.
Saat ini, Indonesia tengah mengalami krisis kepemimpinan yang serius. Berbagai pemberitaan menunjukkan kelalaian para pemimpin—baik di tingkat pusat maupun daerah—dalam menjalankan tanggung jawab terhadap rakyat. Ketika rakyat dilanda musibah dan bencana terjadi di berbagai wilayah, nyawa rakyat seolah tak bernilai. Media sosial justru dipenuhi oleh aib dan kegaduhan yang seharusnya tidak terjadi.
Alih-alih fokus mengatasi bencana, sebagian penguasa bahkan tampak tak mampu mengendalikan diri. Lebih tragis lagi, dana bantuan bencana yang semestinya diperuntukkan bagi korban justru dirampas tanpa rasa iba. Dalam persoalan mitigasi bencana di Sumatra, alih-alih terbuka terhadap kritik dan masukan, penguasa justru membatasi media massa dalam memberitakan kekurangan pemerintah dalam penanganan bencana. Pada awal musibah, muncul narasi dari pejabat yang mengecilkan dampak bencana yang dialami warga.
Setelah itu, para pejabat berlomba-lomba memamerkan kinerja, seperti penyaluran bantuan, menembus wilayah terisolasi, hingga menyalakan listrik. Namun, fakta di lapangan justru banyak dilaporkan berbeda oleh warga dan relawan. Para penguasa juga tampak gamang dalam menetapkan bencana di Sumatra sebagai bencana nasional. Hal ini bukan tanpa sebab, karena di balik penetapan tersebut dikhawatirkan akan terbuka berbagai kebohongan, muncul tuntutan ganti rugi, bahkan runtuhnya kenyamanan dan kepentingan kekuasaan.
Krisis kepemimpinan ini sejatinya lahir dari fondasi kepemimpinan yang bertumpu pada asas kapitalisme sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan dan kekuasaan. Ketika agama dicabut dari sistem pemerintahan, tidak ada kendali yang kuat untuk mengikat para pemimpin. Etika dan aturan mudah dilanggar. Bahkan, ketika suatu aturan dianggap menghambat ambisi kekuasaan, aturan tersebut dapat diubah atau diganti demi melegitimasi kepentingan pribadi dan kelompok.
Keadaan ini akan sangat berbeda apabila suatu negeri menjadikan iman dan takwa sebagai landasan kehidupan. Kendali utama seorang pemimpin adalah rasa takut kepada Allah Swt. Mereka meyakini bahwa meskipun bisa lolos dari pengadilan dunia, mereka tidak akan pernah lolos dari pengadilan akhirat. Oleh karena itu, Rasulullah saw. memerintahkan para pemimpin untuk memudahkan dan menggembirakan urusan rakyat, bukan mengancam dan mempersulit mereka.
Dengan demikian, krisis kepemimpinan di negeri ini hanya akan menemukan jalan keluar ketika negara menjadikan akidah Islam sebagai landasan kehidupan. Dari sana akan lahir pemimpin-pemimpin bertakwa, pemimpin yang mencintai rakyatnya dan dicintai oleh rakyatnya. Dengan kepemimpinan semacam inilah, masyarakat yang sejahtera di atas landasan takwa akan terwujud. Wallahualam bissawab.
Oleh: Ummu Aiman
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 34
















