Tinta Media – Dalam dunia bisnis atau politik, premanisme kerap terjadi dengan menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan demi menjatuhkan lawan. Mirisnya, aksi premanisme juga terjadi dalam dunia pendidikan. Peristiwa pengeroyokan guru oleh siswanya sendiri sungguh sangat disayangkan terjadi di sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak belajar menjadi generasi cemerlang, tidak hanya pintar dalam pelajaran, tetapi juga memiliki adab yang baik. Seorang guru yang seharusnya didengarkan perkataannya dan dijadikan teladan atas perbuatannya kehilangan harga diri di depan siswanya. Siswa pun kehilangan adab kepada guru yang seharusnya dihormati. Bagaimana mungkin tindakan premanisme yang mengedepankan kekerasan dapat terjadi di sekolah?
Mendidik anak agar memiliki sopan santun, budi pekerti luhur, serta sikap yang baik adalah tugas kita bersama. Orang tua di rumah dan guru di sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian anak yang baik. Oleh karena itu, hubungan yang baik harus terjalin di antara mereka, bukan saling menyalahkan, melainkan saling mendukung untuk menghasilkan generasi unggul yang menguasai keterampilan dan pengetahuan yang diharapkan serta memiliki adab yang baik. Pepatah Arab mengatakan bahwa “adab lebih tinggi daripada ilmu”. Hal ini menekankan bahwa akhlak dan etika lebih utama daripada kepintaran atau pengetahuan, karena adab menjadi landasan dalam penggunaan ilmu. Tanpa adab, ilmu dapat disalahgunakan atau justru membawa kerusakan di tangan orang yang tidak beradab.
Orang tua tidak boleh terlalu membela anaknya dan menyalahkan guru ketika anak mengadu karena mendapatkan hukuman dari gurunya di sekolah. Akibatnya, anak merasa besar kepala dan berani bersikap kurang ajar kepada gurunya yang seharusnya dihormati. Terlebih lagi, jika orang tua sampai melaporkan guru kepada polisi atas dasar pengaduan dari anaknya. Seharusnya, orang tua menemui guru dengan cara yang baik, menanyakan perihal hukuman yang diberikan kepada anaknya, bukan marah-marah dan terbawa emosi layaknya preman. Perlu dipertanyakan apakah hukuman tersebut layak diberikan sesuai dengan kesalahan atau justru sudah berlebihan.
Jika hukuman diberikan untuk kebaikan dalam proses mendidik anak agar menjadi lebih baik, orang tua seharusnya berterima kasih atas perhatian tersebut. Ancaman kriminalisasi membuat guru ragu untuk menegakkan aturan demi kebaikan anak didiknya. Namun demikian, guru juga harus mampu mengintrospeksi diri atas tindakannya yang mungkin berlebihan dalam memberikan hukuman. Keduanya harus saling mengingatkan dengan perkataan yang baik, bukan saling menyalahkan dengan mengedepankan emosi.
Memang tidak mudah mendidik generasi Z di tengah gempuran digital yang mempertontonkan kekerasan. Mereka cenderung memilih cara kekerasan untuk menyelesaikan masalah daripada cara persuasif yang baik. Emosi dan ego lebih diutamakan, serta keinginan untuk menang sendiri. Inilah tantangan berat bagi guru maupun orang tua dalam mendidik generasi Z, karena mereka terpapar nilai-nilai kekerasan dan kebebasan yang tumbuh subur dalam sistem kapitalisme. Oleh sebab itu, orang tua dan guru harus bersabar dalam menghadapi mereka. Komunikasi yang baik perlu dibangun agar tidak saling menyalahkan, melainkan saling memahami masalah yang dihadapi, sehingga dapat diambil tindakan yang tepat untuk mengarahkan mereka menjadi pribadi yang lebih baik. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 46
















