Tinta Media – Di Forum Ekonomi Dunia di Davos, nama Jared Kushner kembali mencuat di panggung diplomasi internasional setelah pemaparan visi ambisiusnya. Kushner adalah seorang arsitek kebijakan luar negeri dan juga menantu Donald Trump. Dia pula yang mendisrupsi pola lama perdamaian di Timur Tengah.
Melalui proposal terbarunya terkait pembangunan kembali Gaza pascaperang, Kushner menggunakan pendekatan yang sangat berbeda. Pendekatan ini dilakukan dengan mengedepankan manajemen ekonomi dan keterlibatan sektor swasta global di atas solusi politik konvensional. Muncul gagasan “New Gaza”, yaitu visi rekonstruksi skala besar dengan simbol utamanya membangun 180 gedung tinggi di kawasan pesisir Gaza. Kushner memiliki kerangka berpikir bahwa Gaza tidak dipandang sebagai wilayah konflik, melainkan sebagai aset geografis pesisir Mediterania yang harus dimanfaatkan secara ekonomi (Gazamediaindonesia.com, 23/01/2026).
Board of Peace diklaim sebagai solusi konflik di Gaza. Sebuah rencana yang terlihat indah. Padahal, kita tahu bahwa pemegang kendalinya adalah Amerika Serikat, sang penjajah. Justru dengan membentuk lembaga inilah menjadi kedok untuk melanggengkan penjajahan terhadap Gaza. Sungguh sebuah kecerobohan besar ketika pemimpin negara ini ikut bergabung. Padahal faktanya, wilayah Gaza masih terus dibombardir oleh Zionis laknatullah meskipun dalam situasi gencatan senjata. Sungguh ironis, mengapa justru negeri mayoritas muslim yang seharusnya membela Palestina banyak yang ikut bergabung, sedangkan Palestina sendiri tidak dilibatkan dalam lembaga tersebut.
Walhasil, pembangunan kembali Gaza adalah bentuk penjajahan secara halus yang sangat mematikan dan akan membahayakan posisi Gaza. Rakyat Gaza justru akan semakin menderita akibat dominasi kekuasaan Amerika Serikat. Wilayah Gaza dan Palestina adalah korban pendudukan yang dilakukan oleh Zionis laknatullah. Setiap penjajahan seharusnya dihapuskan, bukan dipelihara.
Penjajah rakyat Gaza seharusnya diusir, bukan malah didukung dengan mengatakan bahwa keamanan Israel harus dijamin. Sungguh lucu dan tidak habis pikir, pernyataan seorang pemimpin negara ini. Membantu negara kafir dalam rangka memusuhi kaum muslim adalah tindakan yang ceroboh dan sangat memalukan.
Maka, pantaslah jika para pemimpin negara seperti ini disebut antek asing. Karena, memang begitulah adanya. Seorang pemimpin yang bertanggung jawab membela sesama muslim, tetapi justru mengkhianatinya. Perbuatan tersebut sangat menyakiti hati kaum muslim yang sedang berjuang untuk Palestina merdeka.
Selain itu, tindakan tersebut juga merusak kesatuan kaum muslim. Kaum muslim seharusnya bersatu sebagai bentuk solidaritas umat. Kaum muslim berdamai dengan nonmuslim ketika mereka tidak memusuhi Islam. Ketika mereka jelas-jelas memerangi kaum muslim secara terang-terangan, maka kaum muslim harus memeranginya. Fakta tersebut menunjukkan bahwa para penguasa negeri-negeri muslim justru tunduk pada hukum internasional yang timpang dan tatanan global kufur.
Gaza Palestina perlu dibebaskan, tetapi bukan dengan perundingan melalui juru damai. Satu-satunya langkah yang harus diambil adalah dengan jihad melawan penjajah dalam rangka mengusir Zionis Yahudi. Namun sayang, hari ini umat Islam masih tercerai-berai dan belum bersatu. Padahal, untuk mengusir penjajah harus ada sebuah institusi negara yang akan mempersatukan seluruh umat Islam sedunia.
Oleh sebab itulah, adanya kelompok dakwah Islam ideologis adalah sesuatu yang sangat mendesak agar umat paham pentingnya persatuan umat. Sebagaimana dahulu pada masa kekhilafahan Islam berjaya, mampu menghimpun kekuatan umat Islam. Negara Islam adalah negara yang kuat dan tangguh dari segi militer dan keimanan, dengan semangat jihad yang luar biasa serta tidak takut mati.
Hari ini, umat sangat membutuhkan Khilafah yang akan menjadi perisai kaum muslim sebagaimana sabda Rasulullah saw.: Imam (khalifah) adalah perisai (pelindung)… (HR al-Bukhari dan Muslim)
Dalam sejarah masa Kekhilafahan Utsmaniyah, Sultan Abdul Hamid II pernah mengancam Prancis agar menghentikan drama berjudul Mahomet karya Henri de Bornier di Prancis karena drama tersebut menghina Nabi Muhammad saw. Akhirnya, Prancis membatalkan rencana penayangan karena takut terhadap ancaman sang khalifah. Ketegasan inilah yang tidak dimiliki oleh pemimpin hari ini.
Fakta tersebut membuktikan bahwa Khilafah itu bukan sekadar simbol, tetapi sebuah institusi pemerintahan Islam global. Kemuliaan, kehormatan, dan keadilan seluruh umat terjaga serta terlindungi. Jadi jelaslah bahwa hanya dengan Khilafah, nyawa manusia, terutama rakyat Gaza, akan terbebas dari penjajahan. Selama tidak ada Khilafah, nasib Gaza akan terus terlantar dan korban terus berjatuhan. Keadilan tidak akan pernah mereka dapatkan sampai ada kekuatan pemerintahan Islam global.
Di sinilah pentingnya dakwah Islam kafah secara berjemaah dalam satu kelompok dakwah Islam ideologis. Perjuangan untuk menyatukan pemikiran dan mengarahkan perjuangan umat sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Dengan dakwah Islam ideologis, umat akan tercerahkan dan tidak akan termakan tipu daya orang kafir penjajah. Umat tidak lagi tertipu dengan solusi-solusi pragmatis yang menawarkan kezaliman. Sehingga, umat juga sadar bahwa wilayah Gaza Palestina bisa diselamatkan hanya dengan mengusir penjajah, bukan dengan perundingan damai ala penjajah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Dartem,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 35
















