Tinta Media – Derita perempuan dan anak-anak Palestina tak kunjung berakhir. Israel terus menyerang Gaza meski sedang berlangsung gencatan senjata. Banyak perempuan dan anak-anak terluka, bahkan kehilangan nyawa.
Dalam laporan investigasi Al Jazeera berjudul The Rest of the Story, tercatat sekitar 2.842 warga Palestina hilang sejak agresi dimulai pada Oktober 2023. Diyakini bahwa Israel menggunakan senjata termal dan termobarik untuk membunuh ribuan warga di Jalur Gaza, Palestina, yaitu bom yang mengandung hulu ledak dengan panas 3.500°C. Senjata ini membuat jasad seolah-olah menguap atau hilang tanpa jejak (Cnnindonesia, 14/02/2026).
Penggunaan senjata termobarik oleh Israel ini menunjukkan kebiadaban modern yang tak berperikemanusiaan. Makin jelas bahwa yang dilakukan oleh Israel adalah genosida massal.
Gempuran dan serangan yang dilakukan Israel tidak hanya menargetkan pejuang kemerdekaan Palestina, tetapi juga menyasar warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Meski dunia memahami bahwa hal ini merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), tidak ada yang mampu menghentikannya. Dunia membisu, bahkan pura-pura buta dan tuli. Beberapa negara bahkan telah terperdaya oleh janji manis berkedok perdamaian yang digagas oleh Amerika Serikat (AS) sebagai pembunuh berdarah dingin.
Kejahatan Israel tak bisa ditoleransi dan tak bisa diberikan solusi damai. Sebab, kerusakan yang dilakukannya telah melampaui batas. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surat Al-Ma’idah ayat 32 yang artinya:
“Oleh karena itu, Kami menetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil bahwa siapa yang membunuh seseorang bukan karena (orang yang dibunuh itu) telah membunuh orang lain atau karena telah berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Sebaliknya, siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, dia seakan-akan telah memelihara kehidupan semua manusia. Sungguh, rasul-rasul Kami benar-benar telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Kemudian, sesungguhnya banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.”
Israel tidak hanya membunuh seorang manusia, melainkan jutaan penduduk Palestina telah dibantai sejak pendudukan ilegalnya di bumi Palestina. Setiap hari Israel melancarkan serangan brutal kepada penduduk Gaza tanpa ampun. Kekejiannya ini harus segera dihentikan dengan jihad oleh tentara kaum muslimin, sebab Israel hanya memahami bahasa pedang, bukan perdamaian.
Memerangi Israel yang telah membantai kaum muslimin adalah wajib. Tidak boleh ada upaya untuk berdamai, mengalah, apalagi memberikan jalan bagi Israel untuk menguasai negeri-negeri kaum muslimin. Allah sekali-kali tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman selama umat Islam berpegang teguh pada agama dan berusaha menerapkan hukum-hukumnya.
Untuk itu, hukum jihad harus dipahami dengan benar dan diterapkan. Jihad bi ma’na difa’iy (defensif) maupun hujumiy (ofensif) bukan sekadar makna lughawi (bahasa) sebagaimana yang dipahami dan disebarkan oleh kebanyakan orang. Sebab, jihad selain memiliki makna lughawi juga memiliki makna syar’i. Dalam Al-Mu’jam al-Wasith, jihad adalah qitalun man laisa lahu dhimmatun min al-kuffar, artinya memerangi orang kafir yang tidak memiliki ikatan perjanjian damai. Dengan demikian, sebuah perintah Allah (jihad) selama memiliki makna syar’i, maka yang digunakan adalah makna syar’i, bukan lughawi. Untuk mewujudkan hal itu dibutuhkan kesatuan kekuatan kaum muslimin di seluruh dunia. Tanpa kesatuan umat Islam, Palestina tetap menderita dan musuh dengan nyaman menikmati hidangan negeri-negeri muslim.
Secara logika, mustahil kekuatan kaum muslimin dipersatukan oleh perdamaian ala Amerika. Apalagi berharap pada lembaga internasional bentukan AS seperti PBB, ASEAN, Bank Dunia, WTO, IMF, WHO, UNESCO, ILO, NATO, dan Gerakan Non-Blok. Tegaknya kepemimpinan Islam sangat dibutuhkan untuk menyatukan kekuatan kaum muslimin di seluruh dunia. Karena itu, perjuangan menegakkan sistem Islam dan kepemimpinan Islam sangat penting. Mari kita jadikan Ramadan sebagai momentum perjuangan menegakkan sistem Islam dan mewujudkan kepemimpinan Islam yang mampu menghapuskan segala bentuk penjajahan di muka bumi serta membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel–AS. Allahu Akbar! Wallahualam bissawab.
Oleh: Auwalis Siami, S.Ag.
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 36
















