Tinta Media – Saat ini dunia benar-benar menggambarkan situasi kehidupan yang penuh dengan krisis kemanusiaan yang kian mengkhawatirkan. Kita bisa melihat bagaimana kondisi saudara Muslim kita di Palestina yang semakin terpuruk.
Hilangnya rasa empati dari pemimpin-pemimpin negara Muslim makin terlihat. Mereka sudah tidak peduli dan seakan-akan menutup mata terhadap keadaan saudara Muslim kita di Palestina. Mereka justru sibuk berkolaborasi dengan pembela Zionis yang telah memberikan penderitaan yang semakin berkepanjangan bagi Palestina.
Ketika hati manusia melihat penderitaan anak-anak Palestina dengan tangisan mereka akibat kelaparan, kehilangan orang tua, bahkan di antara mereka harus mengalami amputasi anggota badan akibat serangan Zionis yang sangat brutal, namun hal itu hanya dianggap sebagai pemandangan yang biasa-biasa saja, di manakah rasa kemanusiaan dunia saat ini? Hilangnya rasa peduli terhadap nilai kemanusiaan dan keadilan sesama manusia inilah yang kita sebut dehumanisasi.
Dehumanisasi adalah proses ketika hati nurani sudah hilang dari perasaan manusia sehingga memandang penderitaan manusia lain sebagai hal yang biasa. Dengan kata lain, dehumanisasi dapat dikatakan sebagai proses atau tindakan memandang, memperlakukan, atau menggambarkan seseorang atau kelompok manusia seolah-olah mereka tidak memiliki nilai, martabat, hak, atau sifat kemanusiaan yang utuh.
Dunia sering membicarakan tentang kemanusiaan dan keadilan. Namun, kenyataannya sampai saat ini saudara Muslim kita di Palestina jauh dari kehidupan yang menggambarkan nilai kemanusiaan dan keadilan. Mereka terus dipaksa menjalani kehidupan sesuai kehendak aturan Zionis. Semua pelanggaran HAM yang dilakukan Zionis tidak pernah mendapatkan sanksi yang tegas dari lembaga dunia. Segala bentuk kezaliman Zionis seakan-akan merupakan hal yang biasa di mata dunia saat ini.
Penjajahan yang terjadi di Palestina menggambarkan bahwa dunia saat ini tidak mampu menciptakan kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Begitu banyak korban yang terbunuh maupun terluka akibat peperangan.
Pasukan Israel telah membunuh lebih dari 72.700 warga Palestina di Gaza selama genosida dua tahun, termasuk 850 orang sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025. Sementara itu, korban luka bertambah menjadi 2.433 orang. Sebanyak 770 jasad juga telah ditemukan dari timbunan reruntuhan. Ribuan lainnya masih hilang dan diyakini terkubur di bawah reruntuhan.
*Ketika Rasa Empati Sudah Mati*
Saat hak hidup rakyat Palestina sudah direnggut oleh Zionis yang kejam, sungguh menyedihkan ketika ada peristiwa warga Palestina meninggal dan jenazahnya tidak dapat dikuburkan di tanah mereka sendiri. Mengutip laporan dari The Times of Israel, Minggu (10/5/2026), insiden menegangkan itu terjadi pada hari Jumat. Para tentara militer Israel atau IDF hanya berdiri dan menyaksikan kejadian ini di dekat permukiman Sa-Nur, yang penduduk aslinya dievakuasi secara paksa 20 tahun lalu dan secara resmi dibuka kembali bulan lalu. Para pemukim ekstremis Israel telah memaksa warga Palestina untuk menggali kembali kuburan seorang pria di tanah Palestina di Tepi Barat bagian utara. Warga tersebut dipaksa memindahkan jenazah itu ke lokasi lain dengan alasan kuburan tersebut terlalu dekat dengan permukiman Israel.
Sungguh ironis ketika kehidupan sudah direnggut secara paksa, tetapi kematian pun tidak mendapatkan haknya. Hak untuk dimakamkan di tanah mereka sendiri pun diabaikan oleh Zionis.
Berbeda dengan Islam yang sangat memuliakan manusia, sikap Zionis sungguh tidak mempunyai hati nurani. Allah Swt. telah memuliakan anak cucu Adam tanpa membedakan asal, warna kulit, atau bangsa. Karena itu, setiap kezaliman terhadap manusia adalah perkara besar di sisi Allah. Yang mengkhawatirkan bukan hanya kekerasan fisik, tetapi juga matinya rasa empati. Karena jika rasa empati sudah mati, yang terjadi adalah dehumanisasi.
Dalam konteks sosial dan politik, dehumanisasi sering menjadi langkah awal yang membuat penindasan, diskriminasi, atau kekerasan terasa “wajar” di mata pelaku maupun masyarakat.
*Nasib Jurnalis di Palestina*
Palestina, khususnya Gaza, merupakan salah satu tempat yang paling mematikan bagi para jurnalis di era modern. Ini menjadi salah satu isu kemanusiaan yang paling memprihatinkan dalam konflik beberapa tahun terakhir. Banyak jurnalis Palestina menghadapi risiko yang sangat tinggi, seperti terbunuh, terluka, ditahan, kehilangan keluarga, kehilangan rumah, hingga kesulitan menjalankan tugas jurnalistik. Dari berbagai laporan tercatat ratusan jurnalis dan pekerja media menjadi korban. Beberapa laporan menyebut lebih dari 300 orang tewas sejak 7 Oktober 2023.
Secara prinsip hukum internasional, jurnalis sipil yang meliput konflik seharusnya mendapat perlindungan dan tidak dijadikan sasaran serangan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa mereka sering berada dalam situasi yang sangat berbahaya.
*Perluasan Pendudukan Israel di Gaza*
Saat ini dilaporkan bahwa Israel tengah mempersiapkan perluasan wilayah pendudukannya di Jalur Gaza. Israel disebut telah memperluas area yang dikuasai di Gaza hingga sekitar 59–60% wilayah Gaza. Pembangunan zona penyangga, koridor militer, dan posisi pertahanan baru dilaporkan terus berlangsung. Langkah ini oleh Israel disebut terkait kebutuhan keamanan, sedangkan pihak Palestina dan banyak pengamat melihatnya sebagai bentuk perluasan kontrol wilayah.
Beberapa tokoh politik Israel juga mendorong pendudukan yang lebih luas atau bahkan penuh atas Gaza.
Di tingkat internasional, banyak negara dan lembaga internasional menyatakan kekhawatiran bahwa perluasan kontrol wilayah di Gaza dapat memperburuk krisis kemanusiaan dan mempersulit solusi politik jangka panjang.
*Pembebasan Palestina Butuh Persatuan Umat Islam*
Sampai kapan kita akan membiarkan saudara Muslim di Palestina menderita? Sebagai sesama Muslim, kita tidak bisa hanya diam dan menonton segala penderitaan yang menimpa warga Palestina. Konflik di Palestina telah berlangsung selama puluhan tahun dan melibatkan berbagai elemen, termasuk isu wilayah, agama, sejarah, dan politik.
Sebagai sesama Muslim, wajib hukumnya bagi kita untuk melakukan jihad membela saudara Muslim kita. Semua itu bisa terwujud jika seluruh umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan global di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Khilafah sebagai institusi yang akan melindungi seluruh umat Muslim di dunia dan akan menggerakkan militer Muslim untuk membebaskan warga Palestina. Khilafah juga akan membantu mengembalikan kehidupan Palestina kepada kehidupan yang mulia.
Marilah kita sebagai umat Muslim terus berjuang mendakwahkan dan melaksanakan Islam secara kaffah sebagai sistem ideologi politik yang sesuai dengan syariat, yaitu aturan yang bersumber dari Allah Swt. Saat ini agenda utama (qadhiyah mashiriyah) umat Islam adalah penegakan kepemimpinan Khilafah Islamiyah dan membebaskan Palestina dari penjajahan. Karena hanya dengan Khilafah umat Islam di dunia dapat bersatu dan bersama-sama berjihad untuk membebaskan Palestina dari penjajahan. Wallahu a’lam bish-shawab.[]
Oleh: Pratiwi Sulistiowati, S.Kom.
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 18
















