Pengamat Ungkap Dampak Perang AS-Israel Vs Iran terhadap Indonesia

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta media – Pengamat Kebijakan Publik Dr. H. Ichsanuddin Noorsy, B.Sc., S.H., M.Si, menyampaikan pendapat terkait dampak Perang Amerika Serikat (AS)-Israel versus Iran terhadap Indonesia. “Dampak Perang AS-Israel versus Iran terhadap Indonesia akan menambah tekanan struktural domestik dan global yang semakin dalam,” tuturnya kepada Tinta Media, Ahad (1/3/2026).

Menurutnya, sebelum perang AS-Israel dengan Iran, Indonesia sendiri sudah tertekan secara struktural melalui kejatuhan nilai tukar berkesinambungan. “Kini diperdalam dengan Agreement on Reciprocal Trade (ART) 19 Februari 2026,” tandasnya.

Dampak lanjutannya, ia menjelaskan, adalah gejolak harga dan tekanan biaya. ” Indonesia yang pada 2025 mengimpor energi senilai 32,76 miliar dolar AS akan menghadapi potensi kenaikan harga minyak hingga 100 dolar AS per barel,” prediksinya.

Ia menilai, neraca perdagangan akan tertekan di saat neraca modal terus defisit. ”Kenaikan harga minyak juga akan menekan konsumsi masyarakat karena kebutuhan mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli energi yang impor. Inflasi karena barang impor tak terelakkan, maka rupiah terancam terus melemah. BI pun akan terus operasi pasar guna memperkuat rupiah. Cadangan devisa pun terancam menurun,” jelasnya.

Meningkatkan Obligasi Negara

Dalam pandangannya, jika APBN harus meningkatkan belanja subdisi pada energi tertentu di saat ruang fiskal sendiri sudah sempit yang ditandai dengan keseimbangan primer yang negatif, maka sebenarnya Indonesia dipaksa untuk meningkatkan jumlah obligasi negara.

Padahal, ia melanjutkan, defisifit APBN 2025 sudah 2,92 prosen terhadap PDB. “Sisi lain, meningkatkan penerimaan pajak, nyaris sulit dilakukan disebabkan jatuhnya kelas menengah 9,48 juta, belum pulihnya daya beli masyarakat, dan perilaku perbankan yang masih wait and see. Saat yang sama, public distrust meningkat karena kebijakan MBG, belanja 105.000 mobil dari India, BoP, dan ART 19 Februari 2026. Itu tekanan struktural domestic,” terangnya.

Sementara perang AS-Israel versus Iran dan konflik di Timur Tengah menurutnya, akan membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berkisar 4,9 prosen plus minus 0,3 prosen. “Jika cara mengatasi tekanan nilai tukar dan impor energi serta sempitnya ruang fiskal adalah dengan menerbitkan obligasi negara yang baru, maka kebijakan finansialisasi ini menyinambungkan pemiskinan struktural dan ruwetnya menurunkan rasio Gini,” ulasnya.

Karena itu, ia berpendapat, tidak mungkin membenahi perekonomian Indonesia cuma dengan pendekatan struktural fungsional. “Merestrukturisasi perekonomian Indonesia, kalaupun mau mengutip pemikiran Soemitro Djojohadikusumo, membutuhkan perbaikan fundamental hingga keterkaitan struktural fungsional,” tegasnya.

Dengan meletusnya perang AS-Israel versus Iran, menurutnya, Indonesia butuh berkaca diri, apakah kondisi global dan bilateral makin membuat tekanan struktutral pada Indonesia makin dalam? Atau nyaris tidak mungkin mampu menegakkan kedaulatan konstitusinya. ”Alasannya? Indonesia adalah negara rentan kedaulatan,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya AS-Israel telah melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap wilayah Iran pada Sabtu (28/2/2026).[] Irianti Aminatun

Loading

Views: 46

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA