Tinta Media – Selama tujuh dekade, Israel telah melakukan pendudukan di wilayah Palestina. Konflik ini menjadi salah satu konflik paling rumit dan terpanjang dalam sejarah dunia. Penderitaan amat berat dialami oleh seluruh warga Palestina, dengan hancurnya rumah-rumah mereka, rusaknya infrastruktur, pembantaian, bahkan pemerkosaan oleh zionis Israel. Israel begitu biadab dengan berbagai pelanggaran yang dilakukannya selama ini. Pelanggaran hak asasi manusia tampak jelas di depan mata dunia. Namun, mengapa para pemimpin dunia, terutama pemimpin negeri-negeri Muslim, seakan diam dan tidak mampu berbuat apa-apa?
Krisis kemanusiaan di Palestina, tepatnya di Gaza, saat ini sudah sangat memprihatinkan. Meskipun telah ada kesepakatan gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, kenyataannya Israel tetap melakukan berbagai pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut. Pemboman dan serangan udara masih terus dilakukan. Pada 15 Februari 2026, Israel melakukan serangan udara di daerah Jalur Gaza yang mengakibatkan sedikitnya 12 orang tewas dan beberapa lainnya mengalami luka-luka.
Kesepakatan gencatan senjata yang seharusnya menghentikan peperangan sementara ternyata tidak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Israel tetap melakukan serangan udara dan penghancuran rumah-rumah warga secara brutal, disertai tembakan artileri berat di daerah kamp pengungsian Jabalia. Selama masa gencatan senjata, sedikitnya 601 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 1.600 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel.
Penderitaan Anak-Anak dan Perempuan di Palestina
Sejak Oktober 2023, serangan Israel untuk menghancurkan Palestina seakan tidak pernah berhenti. Selain penghancuran berbagai infrastruktur strategis, seperti sekolah, korban tewas juga sangat banyak, dan lebih dari 70% di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Penderitaan anak-anak dan perempuan di Gaza sungguh sangat memprihatinkan dan telah mencapai titik kritis kemanusiaan.
Puluhan ribu anak-anak Gaza tewas, dan ribuan anak dilaporkan hilang atau terkubur di bawah reruntuhan. Banyak anak kehilangan satu atau kedua orang tuanya. Mereka mengalami kelaparan, kehilangan akses pendidikan, serta trauma psikologis yang sangat mendalam akibat konflik yang berkepanjangan. Kondisi gizi dan kesehatan anak-anak di Gaza juga sangat memprihatinkan. Bayi-bayi mengalami tingkat malnutrisi yang sangat mengkhawatirkan. Kelaparan yang meluas menyebabkan banyak anak di Gaza meninggal dunia.
Akses air bersih juga sangat terbatas sehingga anak-anak terpaksa minum air yang tidak layak. Mereka tidak dapat bersekolah karena hancurnya fasilitas pendidikan yang secara otomatis menghambat akses pendidikan mereka. Tidak kalah penting, penderitaan yang dialami anak-anak Gaza menimbulkan trauma psikologis yang dapat merusak mental mereka. Mereka hidup dalam ketakutan setiap saat karena serangan bisa datang tiba-tiba. Keseharian mereka pun hanya diisi dengan bermain di tengah reruntuhan bangunan.
Bagi perempuan Palestina yang sedang hamil atau menyusui, kondisi ini sangat berisiko terhadap kesehatan mereka karena tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak akibat minimnya sarana medis yang berfungsi. Hal ini dapat berdampak pada gizi buruk bagi bayi yang akan dilahirkan.
Saat ini, kondisi anak-anak dan perempuan di Palestina berada dalam situasi darurat hak asasi manusia. Mereka yang masih hidup tidak hanya mengalami kekerasan fisik akibat serangan senjata, tetapi juga kekerasan struktural yang berdampak pada hilangnya layanan kesehatan, pendidikan, dan perlindungan. Perempuan yang kehilangan suami harus menjalankan peran ganda untuk menghidupi anak-anak mereka di tengah gejolak perang yang mencekam.
Kebiadaban Israel yang Makin Menggila
Dari laporan media Al Jazeera terungkap fakta yang sangat mengerikan, yaitu dugaan bahwa zionis Israel menggunakan senjata terlarang jenis thermal weapons yang dipasok oleh Amerika Serikat. Senjata ini menyebabkan ribuan jasad warga Palestina menguap tanpa sisa. Sungguh perbuatan yang sangat biadab.
Temuan penggunaan senjata thermal ini semakin menunjukkan bahwa genosida benar-benar telah terjadi di Palestina. Kebiadaban zionis Israel sungguh telah melampaui batas kemanusiaan. Banyaknya jasad yang hilang sejak agresi militer Israel membuat para ahli militer dan saksi mata mengaitkan hal tersebut dengan penggunaan senjata thermobaric, yang sering disebut sebagai bom vakum atau aerosol.
Senjata tersebut mampu menghasilkan panas hingga 3.500 derajat Celsius saat meledak. Akibatnya, tubuh manusia dapat hancur seketika atau meleleh sepenuhnya tanpa meninggalkan jejak jenazah untuk diidentifikasi ataupun dimakamkan. Kenyataan pahit bahwa tidak ada jenazah yang dapat dimakamkan menjadi penderitaan tersendiri bagi ribuan keluarga di Gaza.
Solusi Tuntas dengan Jihad dan Khilafah
Banyaknya kecaman kepada Israel tidak mampu membuat dunia membebaskan Palestina. Amerika Serikat yang jelas berada di belakang Israel justru seolah tampil sebagai penengah dengan membentuk Board of Peace (BoP). Padahal, hal ini justru semakin menunjukkan bahwa lembaga tersebut ikut berperan dalam menghancurkan martabat dan kedaulatan Palestina.
Kita juga tidak bisa berharap banyak kepada badan internasional seperti PBB, karena Amerika Serikat memiliki hak veto sebagai anggota Dewan Keamanan PBB. Sudah seharusnya umat Muslim di seluruh dunia bersatu untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina.
Hanya dengan jihad dan menegakkan sistem kepemimpinan Islam umat dapat bersatu. Umat membutuhkan tentara-tentara Muslim untuk membebaskan Palestina dari serangan zionis Israel. Tidak ada kata kompromi bagi Israel yang telah melakukan begitu banyak kebiadaban terhadap warga Palestina.
Dengan jihad dan tegaknya Khilafah Islamiah, yaitu kepemimpinan dengan sistem Islam yang menjalankan hukum berdasarkan syariat Allah Swt., maka umat Islam akan mampu bersatu untuk membebaskan Palestina. Sebagai umat Muslim, kita tentu tidak akan berdiam diri melihat saudara-saudara kita di Gaza ditindas dan dirampas hak-haknya secara biadab.
Solusi tuntas dalam membela Palestina tidak ada jalan lain selain mendirikan daulah Khilafah Islamiah. Khilafah akan memberikan perlindungan dan pembelaan kepada tanah kaum Muslim yang teraniaya dengan kekuatan militer dalam satu komando. Kondisi Palestina saat ini sudah berada di ambang krisis kemanusiaan yang sangat serius. Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi umat untuk segera menegakkan Khilafah Islamiah.
Semoga umat Islam segera bersatu dalam naungan Khilafah Islamiah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Pratiwi Sulistiowati
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 30
















