Tinta Media – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menyoroti omong kosong hak asasi manusia (HAM) yang selama ini didengungkan Barat.
“Kita menyaksikan untuk ke sekian kali betapa orang-orang kafir imperialis, kolonialis itu, memang tidak peduli dengan nilai yang selama ini mereka dengungkan, tentang hak asasi manusia, keadilan, dan toleransi. Itu semua omong kosong,” ujarnya dalam progam Focus to The Point bertajuk
Idul Fitri di Tengah Penderitaan Umat: Saatnya Muhasabah, di kanal YouTube UIY Official, Sabtu (28/3/2026).
Berbagai peristiwa kekerasan yang menimpa dunia Islam belakangan ini, ungkap UIY, semakin menegaskan adanya ketidaksesuaian antara narasi nilai kemanusiaan yang didengungkan Barat dengan praktik di lapangan.
Ia mencontohkan sejumlah tindakan oleh negara-negara kafir imperialis Barat terhadap pemimpin dan warga sipil yang menurutnya menunjukkan standar ganda dalam penerapan prinsip hak asasi manusia.
“Buktinya apa yang terjadi terakhir ini, dengan mudahnya mereka melakukan pembunuhan terhadap pemimpin negara lain,” bebernya.
Sebelumnya, ungkap UIY Amerika Serikat juga menculik Presiden Venezuela, Maduro.
“Kemarin (terbaru) membunuh Pemimpin Tertinggi Iran (Ali Khamenei). Bahkan berikut dengan keluarganya, termasuk 160 siswi madrasah. Di mana semua nilai yang selama ini mereka dengungkan?” tanyanya retoris.
Karena itu, menurut UIY, pentingnya umat Islam memiliki keinsyafan atau kesadaran yang mendalam tentang hal ini, sebab tidak sedikit dari umat Islam yang masih saja ada mengajak untuk tetap harus berhusnudzan (berprasangka baik) terhadap imperialis Barat.
UIY pun menekankan pentingnya umat Islam memahami realitas hubungan global secara lebih kritis, dengan merujuk pada ajaran Islam yang menurutnya telah memberikan peringatan tentang potensi permusuhan dari pihak-pihak tertentu.
“Padahal dalam Al-Qur’an itu sudah jelas sekali, kalau itu musuh maka perlakukan dia itu sebagai musuh, Jangan kemudian kita ini masih membuka husnudzan, padahal Ini bukan lagi soal dugaan, tapi fakta,” tegasnya.
Menurutnya, tanpa kesadaran tersebut, umat Islam akan terus berada dalam posisi lemah dan mudah terpengaruh oleh narasi yang tidak sejalan dengan realitas yang terjadi di lapangan.
Lebih lanjut, UIY membeberkan kelemahan umat saat ini yang menjadi faktor utama ketidakmampuan dalam menyelesaikan berbagai persoalan, sehingga diperlukan kekuatan yang bertumpu melalui persatuan nyata, bukan sekadar retorika.
“Sebenarnya yang dibutuhkan umat untuk menghadapi persoalan-persoalan ini, yaitu kita harus memiliki kekuatan untuk bisa menggunakan tiga hal ini sekaligus: pemimpin, kewenangan, kemudian sistem. Nah kapan kita memiliki kekuatan? Kalau kita ini bersatu secara faktual, bukan sekadar secara retorik,” pungkasnya.[] Ikbal
![]()
Views: 22









