Gaza dan Ketakutan Barat akan Tegaknya Khilafah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Sejak Oktober 2023, Gaza telah menjadi ladang pembantaian. Lebih dari 52.000 warga Palestina syahid, infrastruktur hancur total, dan mayoritas penduduknya terpaksa mengungsi lebih dari satu kali. Sistem pendidikan, kesehatan, listrik, air, hingga pangan runtuh akibat agresi militer Israel yang terus diperluas dengan pemanggilan puluhan ribu pasukan cadangan.

“Kami mengirim puluhan ribu pasukan cadangan untuk memperluas serangan di Gaza dan menghancurkan semua infrastruktur Hamas.” Eyal Zamir, Kepala Staf Militer Israel (Al Jazeera, 28/04/2025)

Bahkan, Agresi Zionis meluas ke wilayah lain, seperti Suriah, Lebanon, dan Yaman. Hal tersebut mengindikasikan proyek ekspansionisme Israel dan sekutunya tidak hanya ingin menguasai Gaza, tetapi juga memperluas pengaruh militer dan politiknya ke negara-negara muslim lain di sekitarnya.

Di tengah kehancuran tersebut, dunia Islam tidak tinggal diam. Konferensi Al-Ruwad ke-14 di Istanbul yang dihadiri oleh 60 negara menyuarakan bahwa “Kemenangan untuk Gaza adalah tanggung jawab umat.” (Koalisi Global Bela Al-Quds dan Palestina, April 2025)

Krisis Gaza membuka pintu yang lebih lebar bagi kesadaran umat akan urgensi Khilafah. Aksi-aksi bela Palestina massif menyerukan solusi fundamental, yakni pengiriman tentara dan tegaknya Khilafah sebagai pelindung umat. Kesadaran umat terhadap ide Khilafah dan jihad meningkat. Barat pun mulai panik.

Apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar penjajahan atau konflik geopolitik biasa. Ini adalah manifestasi dari benturan dua peradaban, yaitu peradaban kufur yang dibangun di atas penjajahan, dominasi, dan sekularisme melawan peradaban Islam yang diperjuangkan untuk ditegakkan kembali dalam bentuk Khilafah.

Zionis-Israel tidak bergerak sendiri. Mereka adalah ujung tombak dari skema kolonialisme global yang didukung penuh oleh negara-negara besar Barat, seperti AS, Inggris, dan Prancis. Buktinya, meski kejahatan perang Israel telah melampaui batas kemanusiaan, Barat tetap membisu, bahkan membantu dengan senjata dan veto.

Namun, ada yang lebih mereka takutkan daripada serangan balasan, yakni tegaknya Khilafah. Ketika umat Islam menyadari bahwa solusi sejati bukan hanya sekadar donasi dan aksi simpati, melainkan penerapan syariat secara menyeluruh melalui institusi Khilafah, inilah yang membuat Barat gelisah. Gaza bukan sekadar tempat derita, tetapi cermin kebangkitan umat.

Barat tahu, sebagaimana yang terjadi dalam sejarah ketika Salahuddin Al-Ayyubi membebaskan Palestina, bahwa hanya institusi Islam yang bersifat politis dan global yang mampu mempersatukan umat, mengirim pasukan, dan membebaskan tanah suci. Maka, mereka berupaya keras menghancurkan opini publik tentang Khilafah, menstigmatisasi gerakan yang menyerukannya, dan mengalihkan perhatian umat kepada solusi-solusi semu, yaitu diplomasi, konferensi, atau gencatan senjata sesaat.

Namun, krisis Gaza justru menjadi titik balik. Semakin mereka menindas, semakin umat bangkit. Semakin mereka membungkam suara dakwah, semakin banyak yang menyuarakannya. Kesadaran bahwa Khilafah adalah solusi sistemik atas seluruh penderitaan umat kini tumbuh di berbagai penjuru dunia Islam.

Tidak ada solusi sejati bagi Palestina tanpa mencabut akar masalah yang sesungguhnya, yaitu keberadaan entitas Zionis dan sistem internasional sekuler yang menopangnya. Upaya diplomatik yang selama ini ditempuh terbukti gagal membebaskan Al-Aqsha dan menghentikan penderitaan rakyat Palestina. Oleh karena itu, umat Islam harus menyadari bahwa solusi tersebut tidak akan pernah berhasil. Yang dibutuhkan adalah sebuah negara pelindung yang mampu bertindak nyata, yakni Khilafah Islamiyah yang akan memobilisasi kekuatan militer umat untuk membebaskan bumi para nabi itu.

Di sisi lain, para pemilik kekuasaan di negeri-negeri muslim, baik dari kalangan militer, politisi, maupun ulama, harus menghentikan ketundukan mereka kepada Barat. Sebaliknya, mereka harus menunjukkan loyalitas penuh kepada Islam dengan memberikan dukungan kekuasaan kepada gerakan yang sungguh-sungguh memperjuangkan tegaknya Khilafah. Perubahan hakiki tidak akan terjadi tanpa dukungan dari pihak-pihak yang memiliki kekuatan riil untuk mengubah sistem.

Untuk itu, aktivitas dakwah penyatuan umat dan penegakan Khilafah harus semakin dimassifkan di seluruh dunia Islam. Dakwah ini harus dilakukan dengan membina umat secara ideologis, membentuk opini umum yang kuat berbasis akidah Islam, serta mendekati ahlul (pemilik) kekuatan untuk mewujudkan perubahan politik mendasar. Sebab, tegaknya Khilafah bukan sekadar harapan, melainkan sebuah keniscayaan sejarah yang tidak dapat dielakkan. Maka, wajib bagi para pengemban dakwah untuk terus menggencarkan perjuangan ini di semua kalangan, hingga umat benar-benar bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam yang sejati.

Gaza bukan sekadar luka. Ia adalah seruan langit bagi umat Islam untuk bangkit. Sementara, Khilafah bukan sekadar mimpi, melainkan janji Allah dan kabar gembira Rasulullah saw.

Oleh: Alfina Saidatthul Muthariqoh

Sahabat Tinta Media

Views: 25

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA