Tinta Media – Amerika Serikat (AS) yang memulai serangan, tetapi AS sendiri yang kelimpungan mengakhiri perang. Tampaknya, Trump tak memprediksi sebelumnya bahwa Iran berani melawan. Iran tak seperti Venezuela yang rezimnya langsung tumbang setelah presidennya, Nicolas Maduro ditangkap. Iran tetap kuat meski pemimpin tertingginya dibunuh. Kesepakatan gencatan senjata AS-Iran menunjukkan, AS telah gagal mengaborsi kekuatan lawannya, Iran.
Klaim Kemenangan AS, Ilusi
Perang AS-Iran akhirnya terhenti sejenak melalui kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan. Selama 40 hari peperangan (28 Februari-8 April 2026) Trump berulang kali mengklaim telah memenangkan peperangan. Selama perang, Trump juga sempat mengklaim sedang menghancurkan Iran dan menyatakan pengaruh salah satu negara Teluk tersebut mulai berkurang hingga tak bisa berbuat apa-apa. Namun, fakta menunjukkan kondisi sebaliknya.
Tak seperti serangan sebelumnya yang tampak seperlunya, serangan balik Iran kali ini habis-habisan. Medan peperangan ibarat ‘laboratorium’ uji coba senjata Iran. Embargo AS atas Iran selama 47 tahun (tahun 1979-sekarang) ternyata tak menjadikan Iran rapuh. Sebaliknya, Iran makin kuat hingga mampu melawan negara adidaya AS. Klaim kemenangan Trump terasa ilusi melihat aliansi AS-Israel yang selama ini ditakuti dunia tak berdaya.
Di tengah klaim kemenangan, Trump mengajukan proposal negosiasi berisi 15 poin syarat berakhirnya perang pada akhir Maret 2026. Isi proposal di antaranya, tuntutan pelucutan senjata nuklir secara penuh, pembatasan militer Iran, dan intervensi AS di Selat Hormuz. Sebagai imbalan atas proposal tersebut, Trump berjanji akan menghapus seluruh sanksi ekonomi terhadap Iran. Namun, Iran menolak proposal negosiasi Trump tersebut.
Iran menilai, proposal Trump tidak realistis, berlebihan, dan merendahkan kedaulatan Iran. Isi proposal negosiasi juga bertentangan dengan syarat yang diajukan Iran. Terasa aneh, proposal negosiasi diajukan saat serangan masih berlangsung. Padahal, negosiasi biasa diajukan di saat gencatan senjata. Lebih aneh lagi, di tengah klaim upaya negosiasi, Trump menyiapkan 50 ribu tentara untuk serangan darat dengan target Pulau Kharg, pusat ekonomi vital Iran.
Di tengah klaim perang akan segera berakhir, Trump terus menekan Iran. Orang nomor satu di AS tersebut mengultimatum 48 jam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tak membuka selat Hormus, Sabtu (21/3/2026). Pada tanggal 23 Maret, Trump mengumumkan perpanjangan waktu selama lima hari. Belum sampai tenggat ultimatum, Trump kembali menyatakan perpanjangan waktu 10 hari hingga Senin, 6 April 2026 pukul 20.00 waktu Iran.
Saat itu, Trump menyatakan negosiasi sedang berlangsung. Namun, Trump masih mengancam Iran dan menyatakan seluruh Iran akan dilenyapkan dalam satu malam. Saat tenggat ultimatum akan berakhir, Trump kembali mengancam akan menjadikan Iran kembali ke zaman batu. Akan tetapi, Trump tiba-tiba menyepakati gencatan senjata tepat satu jam sebelum tenggat ultimatum berakhir (cnnindonesia.com, 8/4/2026).
AS Gagal Mengaborsi Kekuatan Iran
Kehidupan era digital saat ini menjadikan perang tak lagi sebatas isu kemanusiaan. Kini, perang menjadi tontonan yang lebih menarik dibanding FIFA Word Cup. Komentar netizen melihat visualisasi rudal Iran yang menyasar wilayah yang diduduki Israel lebih panas dari perang itu sendiri. Wilayah Palestina yang diduduki Israel, termasuk Tel Aviv yang mana merupakan kota terbesar kedua sebagai pusat ekonomi, teknologi tinggi/modern telah porak-poranda.
Selama perang, setidaknya 37 pesawat berawak maupun nirawak AS hancur dan rusak dengan kerugian sekitar US$1,7 miliar atau Rp28 triliun lebih. Rudal Iran juga menghancurkan 14 pangkalan militer AS di Timur Tengah, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar yang mana merupakan pusat komando udara terbesar AS di Timur Tengah. Pada akhirnya, serangan AS-Israel ke Iran lebih terlihat seperti kebijakan ceroboh yang membunuh diri sendiri.
Andai Trump tak memulai serangan, kepentingan AS di Timur Tengah masih aman. Sebelum terjadi serangan, Selat Hormuz bebas dilalui siapa saja termasuk AS. Seharusnya, Trump berpikir sebelum melakukan serangan bahwa Selat Hormuz akan menjadi taruhan hingga memicu krisis energi global. Seperti diketahui, selat Hormuz merupakan jalur perdagangan energi paling vital yang dilalui 20% pasokan minyak mentah dunia.
Perang yang menguruas perhatian masyarakat global akhirnya berujung gencatan senjata. Selama gencatan senjata, Iran berjanji membuka Selat Hormus dengan catatan 10 poin syarat yang diajukan disetujui oleh AS. Adapun 10 poin syarat dimaksud, di antaranya adalah jaminan prinsipil AS untuk tidak melakukan agresi, kontrol berkelanjutan Iran atas Selat Hormuz, pengakuan pengayaan uranium, pencabutan seluruh sanksi primer, pencabutan sanksi sekunder.
Selain itu, Iran juga menuntut pengakhiran semua resolusi DK PBB, pengakhiran resolusi Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), pembayaran kompensasi perang kepada Iran, penarikan pasukan tempur AS dari kawasan, dan penghentian perang di semua front, termasuk terhadap perlawanan Islam di Lebanon (metrotvnews.com, 8/4/2026).
Terasa aneh jika Trump menyetujui gencatan senjata dengan alasan tujuan militer AS sudah tercapai dan adanya jaminan pembukaan Selat Hormuz. Padahal, Iran hanya akan membuka Selat Hormuz jika AS memenuhi 10 tuntutan Teheran. Sementara itu, 10 poin syarat yang diajukan Iran hampir tak mungkin dipenuhi oleh AS. Alhasil, gencatan senjata lebih terlihat seperti upaya tarik ulur agar AS bisa menyiapkan kekuatan lebih besar demi melemahkan Iran.
Dengan disepakatinya gencatan senjata, Trump kembali mengklaim memenangkan peperangan. Terlepas dari klaim tersebut, AS telah gagal jika dilihat dari beberapa poin berikut:
Pertama, gagal menumbangkan rezim Iran. Setelah Ayatollah Ali Khamenei dibunuh, pemerintahan Iran ternyata masih stabil. Serangan militer, ancaman, maupun tekanan yang dilakukan AS justru membuat Iran makin berani unjuk gigi. Iran berhasil menunjukkan pada dunia bahwa kedaulatan negara tak bisa dipermainkan. Hal ini harusnya bisa menjadi sindiran halus bagi negeri-negeri muslim yang selama ini sedia menjadi kaki tangan AS.
Kedua, gagal mempertahankan citra ‘militer dan intelijen AS-Israel tak terkalahkan’. Di saat Trump terus menunda serangan darat di Pulau Kharg, publik makin yakin, Trump ragu militer AS-Israel mampu menghadapi Iran face to face. Ditambah lagi, sistem iron dome Israel yang dilengkapi radar untuk melacak proyektil dan menembakkan pencegat ternyata bisa jebol. Kini, anggapan militer AS-Israel terkuat di dunia karena didukung teknologi canggih, luruh.
Kehebatan intelijen AS saat ini juga dipertanyaan. Trump sempat menggelar sayembara untuk memburu pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei dengan imbalan Rp169 miliar. Cukup aneh jika AS tak mampu melacak Mojtaba yang dikabarkan terluka setelah lolos dari serangan. Selama ini, AS melalui Central Intelligence Agency (CIA) dan National Security Agency (NSA) secara konsisten menduduki peringkat tertinggi dalam intelijen global.
CIA terfokus pada pengumpulan intelijen asing sementara NSA unggul dalam intelijen sinyal dan keamanan siber. Dunia gempar saat Handala, kelompok peretas pro-Iran mengklaim telah membobol akun email pribadi Direktur FBI, Kash Patel dan mengancam akan membocorkan data sensitif seberat 100GB. Handala juga berhasil menyabotase infrastruktur kritis seperti sistem transportasi, perusahaan manufaktur, dan sektor medis seperti media Stryker.
Ketiga, gagal mempertahankan aliansinya di NATO. Trump sempat mengancam akan keluar dari NATO (North Atlantic Treaty Organization) jika negara-negara aliansi tersebut menolak membantu AS membuka blokade Selat Hormus. Namun, negara-negara anggota NATO terlihat abai. Berita kapal kontainer Prancis CMA CGM berhasil melewati Selat Hormuz untuk pertama kali sejak selat itu diblokade cukup membuat mata dunia terbelalak (2/4/2026).
Hubungan AS dengan NATO terlihat jelas sedang retak. Sebelumnya, Trump memberlakukan tarif resiprokal 10% hingga 25% terhadap negara-negara yang selama ini dianggap sahabat tersebut. Tak lupa, Trump baru saja membuat kegaduhan di Greenland yang mana merupakan wilayah otonom Kerajaan Denmark. Terkait perang AS-Iran, Trump makin tak jelas arah dan tujuan hingga wajar negara anggota NATO enggan berpihak kepada AS.
Keempat, gagal melindungi aliansinya di Teluk Persia. Hubungan AS dengan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) adalah aliansi strategis jangka panjang yang berfokus pada keamanan regional, ekonomi, dan stabilitas energi. Kini, posisi anggota GCC yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman dilematis antara melindungi infrastruktur vital negara atau komitmen penuh terhadap kebijakan AS.
Di saat AS menyerang dan mengancam Iran, di saat itu pula Iran menekan negara-negara Teluk untuk mengusir pasukan AS dari belakang rumah mereka. Iran mengancam akan menyerang infrastruktur energi, fasilitas desalinasi air, dan pembangkit listrik jika negara-negara Teluk memberi bantuan logistik atau akses wilayah kepada AS. Melihat ketegangan AS-Iran, GCC terlihat berusaha tidak memihak secara terbuka dan memilih jarak aman.
Kelima, gagal menjaga stabilitas dalam negeri. Jutaan orang melakukan aksi demo di 50 negara bagian AS pada akhir Maret 2026. Aksi demo bertajuk “No Kings” berlangsung di tengah merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap Trump. Berbagai keluhan disampaikan, di antaranya terkait konflik AS-Iran, kenaikan harga minyak, tarif impor yang berdampak pada barang kebutuhan sehari-hari, dan kekerasan aparat imigrasi (tempo.co, 30/3/2026).
Potensi Hegemoni Baru
Serangan AS terhadap Iran yang awalnya membawa isu nuklir hingga mentok di Selat Hormuz terlihat tujuan aslinya, yaitu penguasaan dan pengendalian atas Iran. Masyarakat dunia dan rakyat AS sendiri telah mengecam kebijakan Trump menyerang Iran. Namun, Trump tetap melanjutkan serangan dengan berbagai pencitraan. Di saat bersamaan, Iran tetap konsisten melawan AS. Sebesar apa pun tekanan Trump, sebesar itu pula perlawanan dilakukan.
Patut menjadi pertanyaan, kenapa Trump sangat ambisius menaklukkan Iran? Jika terkait nuklir, Badan Tenaga Atom Internasional dan intelijen AS (DIA) telah menyatakan Iran tak memiliki bukti konklusif secara aktif memproduksi senjata nuklir. Iran melakukan pengayaan uranium hanya untuk tujuan sipil. Jika terkait minyak, AS merupakan negara penghasil minyak mentah terbesar di dunia dengan produksi mencapai 13,4 juta barel per hari (2025).
Fokus utama produksi minyak AS berada di ladang shale oil di Texas dan New Mexico. Hanya saja, kilang AS umumnya dirancang untuk memproses minyak mentah berat (heavy oil) yang berasal dari luar seperti Kanada, Meksiko, dan Venezuela. Minyak ringan AS tetap diproduksi untuk memenuhi permintaan global. Artinya, jika memastikan ketersediaan minyak sekadar untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri dan ekspor AS, maka sudah lebih dari cukup.
Namun, AS masih melirik Iran. Demikianlah karakter negara yang menganut ideologi kapitalis, tak pernah merasa puas. Iran merupakan salah satu negara dengan cadangan gas dan minyak terbesar di dunia. Akibat sanksi ekonomi AS, Iran sulit menjual minyak secara legal. Di saat AS melakukan embargo ekonomi terhadap Iran, Cina hadir dan memberi solusi. Sekitar 80%-90% minyak mentah Iran akhirnya diekspor ke Cina.
Selain Cina, Iran juga mengekspor minyak ke sejumlah negara di Asia dan Timur Tengah seperti UEA, Oman, dan Pakistan. Demi menghindari sanksi AS, perdagangan minyak Iran tak menggunakan dolar AS melainkan yuan dan euro. Dari sini tampak bahwa embargo AS terhadap Iran seperti senjata makan tuan. AS mengharapkan perekonomian Iran mati. Namun, Iran justru membuat aliansi perdagangan minyak tanpa tergantung pada dolar AS.
Nahasnya, aliansi Iran bisa menjadi ancaman serius bagi AS jika terus meluas. Pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan dan cadangan devisa (dedolarisasi) berpotensi menghancurkan AS. Dedolarisasi dalam perdagangan minyak global mengancam sistem petrodolar yang berpotensi meruntuhkan hegemoni AS. Dedolarisasi mengancam AS dengan inflasi tinggi, peningkatan biaya pinjaman, dan melemahnya pengaruh geopolitik.
Jadi, serangan Trump ke Iran bisa dimaknai sebagai upaya AS mengaborsi kekuatan Iran sebelum menjadi lebih besar. Karakter kapitalisme memang demikian, menuntut tumbal darah untuk bertahan hidup. Secara faktual, hegemoni AS memang sangat layak untuk digantikan. Kondisi internal AS yang terbelit dengan banyak persoalan di berbagai sektor bak lubang raksasa yang sedia mengubur AS secara perlahan.
Ditambah lagi, kebijakan AS bersama sekutunya, Israel menginvasi Gaza dan menyerang Iran menjadikan AS makin terisolasi dari panggung global. Insya Allah, hegemoni AS segera berakhir dan digantikan dengan hegemoni baru di bawah kepemimpinan Islam. Rasulullah Saw bersabda, “Apabila kalian melihat ada panji-panji hitam datang dari arah Khurasan maka datangilah ia karena di dalamnya ada khalifah Allah, Al-Mahdi”. (HR. Imam Ahmad)
Wallahu’alam bish showab.
Oleh: Ikhtiyatoh
Tim Redaksi Tinta Media
![]()
Views: 2
















