FIWS: Umat Islam Lemah karena Tak Punya Kekuatan Politik Global

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
FIWS: Umat Islam Lemah karena Tak Punya Kekuatan Politik Global

Tinta Media – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Ustadz Farid Wadjdi menegaskan serangan terhadap umat Islam di Palestina, Al-Aqsa, Lebanon, hingga kematian prajurit TNI di UNIFIL terjadi karena umat Islam tidak memiliki kekuatan politik global yang bernama Khilafah.

Hal itu ia sampaikan dalam program Mbois di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Kamis (30/04/2026), bertajuk Diam-Diam, 6424 Masih Membara, Begini Menyelesaikannya!!! bersama Insan Maulana.

Farid menyebut akar masalah konflik Palestina-Israel bukan sekadar teritorial, melainkan hilangnya kekuatan politik umat Islam pasca runtuhnya Khilafah pada 1924. Menurutnya, tanpa negara adidaya khilafah yang mewakili kepentingan umat, agresi Zionis dan AS tidak akan mendapatkan perlawanan berarti.

“Saat itulah tidak ada lagi negara adidaya yang mewakili kepentingan umat. Sehingga orang-orang yang menyerang Islam, membunuhi kaum Muslimin, tahu persis apapun yang mereka lakukan tidak akan mendapatkan perlawanan yang berarti,” ujarnya.

Ia membandingkan dengan Perang Dingin antara AS dan Soviet. “Amerika tidak pernah menyerang Soviet langsung, Soviet juga tidak pernah serang Amerika. Karena masing-masing punya kekuatan global yang seimbang.”

Hal yang sama juga menurutnya berlaku pada Cina yang tidak pernah diperlakukan seperti negeri-negeri Islam karena punya kekuatan, walau sebatas regional.

“Inilah kenapa negeri-negeri Islam diperlakukan seperti itu. Karena kita tidak punya negara adidaya yang bisa mengimbangi Amerika.” tandasnya.

Kecaman yang Tak Berpengaruh

Farid menilai kecaman penguasa Muslim seperti Indonesia, Turki, Arab Saudi, Qatar terhadap penodaan Al-Aqsa hanya retorika.

“Kecaman itu respon diplomatik paling rendah. Kecaman cukup kalau membuat takut. Tapi kenyataannya kecaman ini berulang, genosida berulang, penghinaan Al-Aqsa berulang, tapi tidak berpengaruh apa-apa,” nilainya.

Berbeda ketika khilafah masih ada, ia mencontohkan sikap dan tindakan Sultan Abdul Hamid II saat memimpin Khilafah Utsmaniyah.

“Ketika ada drama di Eropa yang menghina Rasulullah, Sultan memanggil diplomat Inggris-Prancis dengan pakaian perang dan mengancam mengerahkan seluruh negeri Islam untuk berjihad. Inggris-Perancis tahu seruan itu bukan main-main. Akhirnya drama itu tidak diputar lagi,” ungkapnya.

Maka, terang Farid, ketika saat ini kecaman para penguasa Muslim tidak berpengaruh, berarti itu lemah. “Di situlah seharusnya kekuatan politik global kita tumbuhkan. Tidak ada kata lain kecuali kita memiliki negara yang kuat pada level global,” tegasnya.

PBB Tak Bisa Melindungi

Kemudian terkait tewasnya prajurit TNI di Lebanon, Farid menilai, Indonesia harus menarik pasukannya dari misi PBB.

“PBB tidak bisa melindungi pasukannya sendiri dan tidak punya wibawa menghentikan serangan Israel. Ini artinya kita menyerahkan nyawa prajurit kita kepada musuh. Untuk apa kita ada di sana kalau PBB sendiri tidak bisa menjaga keamanan nyawa prajurit kita?” tanyanya retoris.

Farid menyebut, resolusi PBB mengecam Israel sudah lebih dari 50 kali sejak 2000-an. Sejak 2023-2025 saja, lebih dari 6 resolusi diveto AS.

“Artinya resolusi ini memang tidak ada gunanya. Kenapa kita harus mengulang-ulang perbuatan itu?” tanyanya lagi.

Ia mengingatkan tanggung jawab kolektif umat Islam adalah membangun kekuatan politik global.

“Rasulullah bersabda umat Islam seperti satu tubuh. Kalau satu bagian sakit, bagian lain harus sakit. Serangan terhadap satu negeri Islam harus dianggap serangan terhadap seluruh kaum Muslimin,” gugahnya.

Menurutnya, mobilisasi pasukan bisa dilakukan penguasa Muslim tanpa harus menunggu Khilafah.

“Iran sudah lakukan serangan balasan. Seharusnya Saudi, Mesir, Turki juga lakukan. Bukan serangan balasan, tapi serangan yang melumpuhkan musuh sampai tidak ada lagi di negeri Islam.”

Wajib Menegakkan Khilafah

Farid lantas menyatakan bahwa wajib bagi kaum Muslimin menegakkan Khilafah ala Minhaji Nubuwwah.

“Imam An-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menyebut ulama mazhab telah sepakat wajib atas kaum Muslimin mengangkat khalifah. Karena khalifah menyatukan kaum Muslimin, membangun negara global yang bisa mengimbangi Amerika,” kutipnya.

Ia menambahkan Khilafah bukan untuk langsung mengalahkan Amerika, tapi sebagai modal awal persatuan.

“Kalau modal awalnya tidak kita punya, bagaimana kita bisa membangun kekuatan? Sebagaimana Rasulullah di Madinah, satu negara kecil awalnya tapi kemudian meluas karena konsepsinya menyatukan seluruh kaum Muslimin.” jelasnya.

Farid juga menyebut sistem _nation state_ warisan kolonial di negara Arab menjadi penghambat. Sebab dengan alasan kepentingan nasional, penguasa Arab membuat dalih untuk tidak membela kaum Muslimin. “Padahal dari pangkalan militer di negara Arab, Amerika melakukan serangan,” bebernya.

Ia menutup dengan seruan agar umat Islam memperkuat kesadaran politik. “Pandangan global dari sudut pandang Islam. Umat Islam satu tubuh. Ketika Iran diserang, sejatinya bukan hanya Iran, tapi upaya Amerika mengendalikan Timur Tengah dan seluruh dunia Islam,” pungkasnya. [] Langgeng Hidayat

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA