Demiliterisasi: Upaya Barat Membungkam Perlawanan Rakyat Gaza

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads
Demiliterisasi: Upaya Barat Membungkam Perlawanan Rakyat Gaza

Tinta Media – Sudah cukup lama sejak gencatan senjata disepakati pada Oktober tahun lalu, tetapi pihak penjajah Zionis tetap saja melakukan serangan di wilayah Gaza. Pelanggaran demi pelanggaran terus terjadi, yang menunjukkan bahwa Israel menganggap remeh kesepakatan tersebut. Alih-alih perdamaian, warga Gaza justru terus dihujani serangan di berbagai wilayah.

Data dari Al-Jazeera mengungkap fakta yang sangat ironis. Dalam rentang waktu 40 hari (28 Februari hingga 8 April 2026), pihak Zionis tercatat melancarkan serangan terhadap Gaza selama 36 hari. Artinya, hanya ada 4 hari saja tidak ada laporan kematian atau cedera.

Kekejaman terus berlanjut hingga detik ini. Serangan pada Sabtu (11/4/2026) kembali memakan korban jiwa sedikitnya 11 orang, termasuk anak-anak. Serangan rudal bahkan dilaporkan menghantam area dekat sekolah, tempat warga sipil berlindung.

Hingga saat ini, data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 760 orang tewas dan lebih dari 2.000 lainnya luka-luka sejak gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat diberlakukan.

Di tengah pelanggaran nyata yang dilakukan Israel, sikap lembaga internasional seperti BoP (_Board of Peace_) justru sangat mengecewakan. Alih-alih memberi sanksi pada penjajah, BoP malah gencar mendesak Hamas untuk melakukan pelucutan senjata (demiliterisasi) sebagai syarat perdamaian. Hal ini mempertegas bahwa posisi BoP bukan sebagai mediator yang netral, melainkan bagian dari jebakan kapitalisme global yang condong pada kepentingan Barat dan Zionis. Mendesak pelucutan senjata di saat rakyat Gaza terus dibantai adalah sebuah ketidakadilan yang nyata.

Menanggapi situasi ini, Hamas melalui juru bicaranya, Jihad Qassem, mendesak negara-negara mediator dan penjamin gencatan senjata untuk segera mengambil langkah tegas. Qassem menegaskan bahwa Israel harus dipaksa menjalankan fase pertama kesepakatan, termasuk menghentikan seluruh pelanggaran sebelum melangkah ke tahap berikutnya.

Sejalan dengan itu, Kementerian Luar Negeri Palestina turut mengutuk serangan tersebut dan menyerukan perlindungan internasional bagi warga sipil Palestina serta pemberian sanksi terhadap Israel.

Upaya pelucutan senjata itu sebenarnya merupakan taktik penjajah untuk melumpuhkan perlawanan rakyat Gaza secara total. Jika hal ini sampai terjadi, risikonya akan sangat besar bagi umat karena tanpa senjata, rakyat Gaza akan kehilangan alat untuk membela diri dari agresi yang terus terjadi.

Selain itu, kondisi tersebut juga menjadi bagian dari upaya sistematis untuk menyesatkan pandangan umat agar menganggap bahwa perlawanan merupakan sebuah ancaman dan penyerahan senjata merupakan satu-satunya jalan damai.

Fakta menunjukkan bahwa berbagai jenis negosiasi, mediasi, maupun perjanjian damai yang ditawarkan selama ini tidak pernah benar-benar membebaskan saudara-saudara kita dari kesengsaraan.

Sudah saatnya ada kesadaran dan kesatuan dari umat Islam di seluruh dunia, terutama bagi mereka yang memegang kekuasaan dan otoritas. Kita tidak bisa lagi berharap pada skema perdamaian ala Barat. Hanya dengan persatuan nyata dan tindakan konkretlah, negara Palestina bisa benar-benar dibebaskan dari cengkeraman penjajah.

Oleh: Hurin Azzahro
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 5

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA