Banjir Tahunan: Bukti Nyata Kapitalisme Gagal Mengurus Rakyat

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Banjir di Bandung Timur sudah lima hari belum surut. Luapan Sungai Citarum dan Citarik merendam sejumlah SD sehingga belajar tatap muka dihentikan. Di SDN Bojong Emas 3 Solokanjeruk, air setinggi 50 cm masuk ke dalam kelas. Wali murid, Heti (46 tahun), menyebut banjir kali ini paling parah dan paling lama. Siswa pun terpaksa menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan fasilitas terbatas. Tiga SD di Sapan terdampak, yaitu SDN Bojong Emas 3, Sapan 2, dan Sapan 3. Di SDN Sapan 3 Bojongsoang, air setinggi 60 cm hingga 1 meter merendam seluruh sekolah. Meja dan kursi ditumpuk, tetapi ruang kelas dan ruang guru tetap tergenang. Penjaga sekolah, Yati (50 tahun), mengatakan air sempat surut lalu naik lagi karena hujan. Ratusan siswa menjalani PJJ sejak awal pekan.

Banjir juga melanda permukiman Desa Sumber Sari, Ciparay. Warga mendorong motor yang mogok, bahkan ambulans harus didorong karena jalan terendam. Warga menduga tanggul Citarum yang rusak menjadi penyebab. “Banyak tanggul lepas, air mudah meluap,” kata warga, Heru (30 tahun). Bupati Bandung, Dadang Supriatna, menegaskan perbaikan tanggul yang dapat dibiayai melalui APBD segera dikerjakan. Penanganan permanen membutuhkan dukungan pemerintah pusat. Wilayah yang terdampak berat meliputi Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Rancaekek, Katapang, dan Margahayu. Warga berharap solusi jangka panjang agar banjir tahunan tidak terus merugikan pendidikan dan kehidupan masyarakat (radarbandung.id, 15/4/2026).

Banjir dan tanah longsor pada musim penghujan merupakan realitas yang terjadi secara berulang. Hal tersebut mengindikasikan bahwa upaya penanggulangannya selama ini belum tuntas. Di sejumlah wilayah, bahkan telah menjadi kawasan langganan banjir. Faktor penyebab banjir tentu tidak semata-mata tingginya intensitas curah hujan. Penyebabnya bersifat kompleks dan berkaitan dengan berbagai aspek, di antaranya menurunnya daya dukung lingkungan, menumpuknya sampah di badan sungai dan saluran air, masifnya alih fungsi lahan, serta pembangunan perumahan maupun kawasan industri di ruang terbuka hijau dan daerah resapan air yang tidak terkendali. Kondisi tersebut diperburuk dengan sistem drainase yang tidak memadai. Dengan demikian, banjir merupakan permasalahan sistemis yang tidak dapat diselesaikan secara parsial.

Solusi Teknis Tak Menyentuh Akar Masalah

Banjir merupakan persoalan sistemis sehingga penyelesaiannya pun harus menyentuh akar permasalahan. Namun, langkah yang ditempuh Pemerintah Kabupaten Bandung tampak baru sebatas mengatasi dampak. Beberapa di antaranya adalah pengerukan Sungai Citarum, pembangunan danau buatan atau kolam retensi untuk menampung debit air saat banjir, pendirian rumah pompa, pelebaran saluran air, serta pembentukan satuan tugas penanganan banjir. Sementara itu, permasalahan di wilayah hulu dan sumber utama masalah tidak pernah dituntaskan. Akibatnya, banjir terus berulang seolah menjadi agenda tahunan.

Problematika di wilayah hulu, yakni kerusakan daya dukung lingkungan, masih terus terjadi. Fakta tersebut tidak terlepas dari penerapan sistem kapitalisme sekuler yang berorientasi pada keuntungan material dengan prinsip kemanfaatan. Inilah yang menjadi akar persoalan. Kapitalisme tidak mempertimbangkan aspek halal-haram maupun kemaslahatan. Para pemilik modal dan oligarki, seperti pengembang properti serta pelaku industri, dapat memperoleh izin pembukaan lahan meskipun tidak mengantongi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Demi meraih keuntungan, mereka melakukan praktik kolusi dengan aparatur negara. Kapitalisme yang berlandaskan sekularisme melahirkan watak serakah yang menghalalkan segala cara. Tidak sedikit proyek pembangunan yang menjadi ladang korupsi. Terlebih menjelang pemilihan kepala daerah, penguasa lebih fokus mengamankan kekuasaan daripada menunaikan amanah melayani rakyat. Pada akhirnya, pihak yang dirugikan adalah masyarakat kecil.

Islam Tawarkan Sistem Pencegahan Komprehensif

Suatu ideologi memiliki fondasi berupa akidah dan seperangkat sistem aturan atau nidzam. Berbeda dengan ideologi kapitalisme yang berlandaskan akidah sekularisme, ideologi Islam dengan konsep akidah dan syariatnya menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai filosofi pembangunan. Dalam Islam, pemimpin negara berkedudukan sebagai raa’in (pengurus) sekaligus junnah (pelindung) bagi rakyat. Penerapan syariat Islam secara kafah menjamin hadirnya solusi yang komprehensif dan sistemis.

Terdapat tiga pilar solusi yang ditawarkan. Pertama, ketakwaan individu. Melalui keimanan, masyarakat diedukasi untuk menjaga kelestarian lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan. Kedua, kontrol sosial masyarakat sehingga tercipta kepedulian kolektif terhadap lingkungan. Ketiga, dan yang paling utama, adalah peran negara. Negara memastikan tata kelola lahan berjalan sesuai ketentuan sehingga pihak swasta tidak dapat berbisnis tanpa batas. Negara juga menjaga kepemilikan umum serta memastikan aparatur negara yang bertakwa, berintegritas, dan amanah. Hal tersebut ditunjang oleh stabilitas ekonomi yang kuat sehingga negara mampu menyiapkan infrastruktur pencegahan banjir, seperti sistem drainase yang memadai. Negara yang menerapkan Islam secara konsisten tentu akan mendukung pemanfaatan teknologi demi kemaslahatan umat, termasuk teknologi pengelolaan sampah.

Inilah solusi yang ditawarkan Islam dalam mengatasi banjir, atau setidaknya meminimalkan dampaknya. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Rukmini
Ibu Rumah Tangga

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA